Coffee Break

H. Duki

DI Lembang, Mak Emin Katminah memiliki kisah yang berbeda.

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
dok. pribadi / facebook
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun. 

SELALU banyak kisah inspiratif di mana pun. Tukang bubur naik haji, misalnya, boleh jadi bukan sekadar judul sinetron.

Bisa saja kisah itu diilhami cerita nyata seorang tukang bubur betulan, buruh tani, atau penjaga sekolah yang benar-benar bisa berangkat ke Tanah Suci.

Lihatlah seorang lelaki bernama Beni.

Meski ia hanya pemulung dengan penghasilan Rp 25 ribu per hari, lelaki berusia 50 tahun itu mampu menyekolahkan anaknya hingga bangku kuliah.

Sehari-hari, Beni mengumpulkan barang-barang bekas, terutama botol plastik, di sekitar Istana Bogor. Dia mondar-mandir mengumpulkan benda tak berharga itu untuk dijual ke pengepul.

Selain untuk menafkahi keluarganya, sebagian dari hasil penjualan itu dia tabung untuk menyekolahkan lima anaknya.

Anak pertama Beni saat ini kuliah di Institut Pertanian Bogor. Anak terakhirnya masih kelas satu SMP.

Meski hanya seorang pemulung, Beni ingin kelima anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya. "Harus jadi orang sukses semua. Engga apa-apa saya tidur di jalan. Yang penting sekolahnya lancar," katanya.

Di Lembang, Mak Emin Katminah memiliki kisah yang berbeda.

Perempuan berusia 80 tahun ini tiap hari membuat sendiri adonan untuk dijadikan kue gemblong dan aliagrem, yang dijualnya di pasar.

Jika ada pesanan, Mak Emin juga siap untuk membuat kue cuhcur, bugis, nagasari, dan jalabria.

Ia membuat kue-kue tradisional itu sejak 60 tahun lalu, ketika masih berusia 20 tahun.

Tak hanya membuat kue, ibu 6 anak dan nenek 18 cucu ini juga memikul dan menjual sendiri kue-kue itu ke pasar. Biasanya, pukul 06.00 Mak Emin sudah siap menjajakan barang dagangannya di satu pojok di Pasar Lembang.

Anak-anaknya sebenarnya sudah meminta agar Mak Emin berhenti membuat dan menjual kue. Namun ia menolaknya. Menurut Mak Emin, ia sudah terbiasa hidup mandiri, tidak bergantung pada orang lain.

Dan, meski telah berusia lanjut, secara fisik Mak Emin tetap sehat, tidak mengidap penyakit apa pun. "Alhamdulillah sehat, teu gaduh panyawat nanaon," katanya.

Di sebuah bus jurusan Bandung-Purwokerto, seorang kondektur juga memiliki kisah hidup yang bisa mengilhami banyak orang.

Saya mengenal beberapa kondektur bus karena secara rutin saya pulang kampung dan kembali ke Bandung dengan naik bus. Salah satu di antara kondektur itu bernama H. Duki. Nama itu terpasang di dada kanan seragam awak bus itu. H-nya benar-benar haji.

Di usianya yang sudah 65 tahun, ia tetap gesit. Kecelakaan yang pernah menimpanya, yang membuat salah satu kakinya cedera parah, tidak membuatnya pensiun. Kaki itu sudah sembuh dan hanya menyisakan bekas luka serta, kadang-kadang, rasa ngilu.

"Eeeh, kumaha damang?" begitulah H. Duki selalu menyapa jika kami bertemu, seraya mengulurkan tangannya mengajak bersalaman, dengan senyum di wajahnya yang ramah.

Pertemuan itu biasanya berlangsung di Terminal Bumiayu ketika saya naik busnya. Atau ketika saya sudah duduk dan dia menariki ongkos kepada para penumpang yang baru naik dari terminal itu.

"Alhamdulillah. Kumaha sawangsulna, Pa Haji?"

Kadang dia memberikan tarif kepada saya beberapa ribu lebih rendah daripada tarif resmi bus itu. Saya menghargainya sebagai sebuah perhatian dan persahabatan, tidak sekadar hubungan penumpang dan awak bus.

Pada pertemuan terakhir kami, sepekan lalu, ia menceritakan anak bungsunya yang baru saja diterima bekerja di sebuah bank besar pemerintah di Jakarta. Anak bungsunya itu lulusan Politeknik ITB.

H. Duki memiliki empat anak, semuanya lulusan perguruan tinggi dan sudah memiliki pekerjaan yang mapan. Salah satu anaknya yang lain juga bekerja di sebuah bank pemerintah.

Anak pertamanya bekerja di sebuah perusahaan di Batam sambil menjalankan usaha kue.

"Anak-anak Pak Haji sukses semua. Mestinya Pak Haji bisa pensiun dan mengasuh cucu," kata saya.

H. Duki tertawa. "Anak saya juga bilang begitu. 'Sudahlah, Pa, bareng saya saja di sini'," katanya menirukan kata-kata salah seorang anaknya.

"Tapi Bapak menolak. Selama masih kuat, Bapak akan tetap menjalani pekerjaan ini."

Tak lama kemudian ia menariki penumpang lain, lalu menuju pintu depan.

Seraya berdiri menyandar pintu, kepalanya melongok keluar dan tangannya menunjuk jika ada calon penumpang di tepi jalan.

"Bandung, Bandung!" teriaknya. (*)

Naskah ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Minggu (17/1/2016). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved