Cerpen Adi Zamzam

Perahu Kecil Lelaki Kecil

LELAKI kecil itu sudah tak berayah ibu. Mereka sudah meninggal bertahun lalu, dalam sebuah huru-hara yang menaburkan kebencian pada etnis tertentu.

Editor: Hermawan Aksan

"Aku ketegasanmu," kata dirinya yang baru saja merobohkan sebuah koma.

"Aku keraguanmu," desis dirinya yang sedang sekarat terkena sabetan pedang sebuah titik.

Ia melihat dirinya yang berkali-kali tewas di tangan huruf demi huruf. Ia juga melihat ratusan kalimat yang takluk di tangannya.

Dapat ia rasakan sensasi kematian ketika sebuah pedang berhasil mengoyak dada dirinya yang lain. Ribuan huruf kemudian masuk ke sana. Menimbulkan kenyerian luar biasa. Seperti terlempar ke sebuah kegelapan yang amat dalam. Huruf-huruf itu memenuhi aliran darahnya yang telah beku. Menyesaki kepalanya yang kosong. Memompa kembali jantungnya yang sudah berhenti denyut. Hingga kemudian tubuh itu benar-benar dikuasai oleh huruf-huruf yang brutal.

Dapat pula ia rasakan sensasi kepongahan ketika berhasil membuat berderet kalimat takluk di tangannya. Berpuluh lembar halaman telah berhasil ia kuasai. Ia sedikit jumawa. Ia sedikit merasa telah tumbuh dewasa. Sebelum kemudian ia kembali tersadar bahwa ia adalah seorang lelaki kecil dengan perahu kecil yang baru saja tenggelam di dalam sebuah buku.

**

PAGI masih berkabut ketika lelaki kecil kita berada di sebuah taman dengan kaki telanjang. Cahaya masih malu-malu menyapa bumi. Hawa dingin masih setia mengantarkan embun di pepucuk rerumputan. Burung-burung juga begitu riangnya merayakan kebebasan yang masih mereka miliki. Suasana yang sangat bagus untuk menggerakkan semua persendian badan.

Namun tak lama berselang, muncullah beberapa orang yang tiba-tiba saja membuntutinya. Lama-lama iring-iringan itu jadi seperti seekor ular dengan lelaki kecil kita sebagai kepalanya.

"Mengapa kalian membuntutiku?" tanya lelaki kecil kita kepada lelaki di belakangnya.

"Mengapa kalian membuntutiku?" bukannya berjawab, pertanyaan itu justru terus bersambung hingga sampai ke orang yang berada di barisan paling ekor.

"Apakah kalian tak punya aktivitas lain?" tanya lelaki kecil kita lagi. Namun pertanyaan itu juga sama nasibnya dengan pertanyaan pertama.

"Mengapa kalian membuntutiku?"

"Apakah kalian menganggap pertanyaanku sebagai lelucon?"

Semua pertanyaan lelaki kecil kita tak pernah mendapatkan jawab. Semua kalimatnya hanya berestafet dari satu mulut ke mulut lainnya. Bahkan ketika lelaki kecil kita duduk kelelahan. Orang-orang di belakangnya juga ikut duduk kelelahan. Meskipun di antaranya ada yang tak menampakkan wajah lelah.

"Apa kalian juga akan mengikutiku pulang?" tanya lelaki kecil kita kepada lelaki di sampingnya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved