Breaking News:

Cerpen Adi Zamzam

Perahu Kecil Lelaki Kecil

LELAKI kecil itu sudah tak berayah ibu. Mereka sudah meninggal bertahun lalu, dalam sebuah huru-hara yang menaburkan kebencian pada etnis tertentu.

Editor: Hermawan Aksan

LANGIT gelap. Lidah petir menyambar-nyambar menghiasi jubah malam yang hitam pekat. Seperti sebuah harapan yang hendak mencari jalan menjadi kenyataan. Seperti lelaki kecil kita yang selalu merasa sendirian. Perasaan senyap itu semakin terasa saat udara mengabarkan kedatangan hujan. Hawa dingin semakin dingin. Hingga kemudian ia yakin bahwa badai akan datang.

Lelaki kecil kita berpegangan erat pada sisi perahu. Badai begitu riuh memperdengarkan keberadaannya. Kulit lelaki kecil kita seolah tercerabut paksa. Kemudian ia pun merasakan perahu kecilnya yang tiba-tiba terangkat ke atas. Seperti ada tangan malaikat yang tengah mempermainkannya. Hingga air mulai menggenangi perahu lelaki kecil kita. Ia pun mulai sibuk membuang genangan air yang semakin bertambah!

Air yang masuk semakin tak dapat ia imbangi. Kemiringan perahu semakin tak terkendali. Ketika yakin bahwa perahu tak dapat bertahan, "Aku tahu, pemikiranku ini hanyalah setitik debu di hadapanmu!" pekiknya sambil memejamkan mata, takut membayangkan apa yang selanjutnya akan terjadi.

Perahu kecil itu pun tenggelam. Suara-suara mulai berebut masuk ke liang telinganya. Membuat kepalanya mau pecah!

Ketika ia merasa telah tenggelam, kejadian aneh ini pun terjadi pada dirinya. Ia mendengar suara pedang beradu pedang. Entah bagaimana kejadiannya, ia tengah menggerakkan pedangnya ke sana-kemari. Membabat leher, menusuk jantung, merobek perut. Ia sebenarnya tak menyukai peperangan—sesuatu yang selalu mengingatkan dengan kematian tragis kedua orang tuanya. Tapi tentu saja ia tak mau terbunuh sia-sia. Yang membuat lelaki kecil kita kaget adalah peperangan dahsyat ini terjadi antara dirinya—ribuan dirinya—melawan ribuan huruf yang bangkit dari dalam samudra. Entah kapan dirinya membelah diri menjadi sebanyak itu.

"Aku ketegasanmu," kata dirinya yang baru saja merobohkan sebuah koma.

"Aku keraguanmu," desis dirinya yang sedang sekarat terkena sabetan pedang sebuah titik.

Ia melihat dirinya yang berkali-kali tewas di tangan huruf demi huruf. Ia juga melihat ratusan kalimat yang takluk di tangannya.

Dapat ia rasakan sensasi kematian ketika sebuah pedang berhasil mengoyak dada dirinya yang lain. Ribuan huruf kemudian masuk ke sana. Menimbulkan kenyerian luar biasa. Seperti terlempar ke sebuah kegelapan yang amat dalam. Huruf-huruf itu memenuhi aliran darahnya yang telah beku. Menyesaki kepalanya yang kosong. Memompa kembali jantungnya yang sudah berhenti denyut. Hingga kemudian tubuh itu benar-benar dikuasai oleh huruf-huruf yang brutal.

Dapat pula ia rasakan sensasi kepongahan ketika berhasil membuat berderet kalimat takluk di tangannya. Berpuluh lembar halaman telah berhasil ia kuasai. Ia sedikit jumawa. Ia sedikit merasa telah tumbuh dewasa. Sebelum kemudian ia kembali tersadar bahwa ia adalah seorang lelaki kecil dengan perahu kecil yang baru saja tenggelam di dalam sebuah buku.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved