Cerpen Adi Zamzam

Perahu Kecil Lelaki Kecil

LELAKI kecil itu sudah tak berayah ibu. Mereka sudah meninggal bertahun lalu, dalam sebuah huru-hara yang menaburkan kebencian pada etnis tertentu.

Editor: Hermawan Aksan

Semua pertanyaan lelaki kecil kita tak pernah mendapatkan jawab. Semua kalimatnya hanya berestafet dari satu mulut ke mulut lainnya. Bahkan ketika lelaki kecil kita duduk kelelahan. Orang-orang di belakangnya juga ikut duduk kelelahan. Meskipun di antaranya ada yang tak menampakkan wajah lelah.

"Apa kalian juga akan mengikutiku pulang?" tanya lelaki kecil kita kepada lelaki di sampingnya.

"Apa kalian juga akan mengikutiku pulang?" bukannya berjawab, pertanyaan itu juga terus bersambung hingga orang yang berada di barisan paling ekor.

"Apakah kalian tak punya keinginan sendiri?"

"Apakah kalian tak pernah berpikir tentang apa yang kalian lakukan?"

Lelaki kecil kita benar-benar tak mengerti. Ada sedikit perasaan takut yang menyelinap dalam dadanya. Apa yang akan terjadi jika ternyata seisi kota menjadi robot yang terus mengikuti segala polahnya? Apakah ia telah melakukan sebuah kesalahan fatal sehingga orang-orang ini jadi seperti si tolol tak berotak?

Tak lama kemudian beberapa orang tiba-tiba jatuh tersungkur, tak sadarkan diri. Mulut mereka mengeluarkan air melimpah. Seperti orang yang baru saja tenggelam. Ketika huruf demi huruf juga mulai keluar dari mulut orang-orang yang jatuh pingsan itu, lelaki kecil kita mulai yakin, mereka pastilah orang-orang yang telah tenggelam di dalam sebuah buku.

Saat itulah lelaki kecil kita teringat dengan perahu kecilnya yang telah lepas bebas ke dalam sebuah buku. Perahu kecilnya yang mengangkut ide-ide, harapan, cita-cita, dan keinginan yang belum akan layu.

***

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved