Cerpen Eko Triono
Sepasang Semut dalam Tetes Mata
AKU memelihara semut dua bangsa dalam wadah tabung bening.
"Hei, kamu kemanakan dia? Sudah tak lucu lagi?" ziarah sentimenku selesai.
"Kebanyakan harapan palsu," kamu mainkan ujung sedotan di bibir, aku ingat hal lain.
"Ya, bukannya kita memang harus belajar menerima obat dan efek samping."
"Mungkin."
"Mengapa kita tidak bisa bergabung jadi robot yang mengalahkan monster kadal?"
"Cintaku memerlukan ruang kosong di situ," kamu nunjuk dada, hatiku.
Kamu kemudian bicara seakan baru saja mengikuti seminar. Cintamu memerlukan ruang kosong di hatiku.
Sementara hatiku, hatiku yang sekepal, terlalu banyak dipenuhi hal-hal dan keinginan lain. Kamu keberatan. Hidupku terlalu berisi banyak hal. Kamu perlu: keluarga sederhana, anak secukupnya, pekerjaan, rumah, kendaraan, jadwal jalan-jalan, tabungan untuk masa depan, kemudian tua, mati satu-satu, atau mati bersama-sama. Tapi hati mirip lemari es. Mengawetkan banyak struktur. Penyimpan kenangan yang kadang berlebihan.
Aku diam.
Terlalu lama sebagai diam. Juni kamu akan menikah.
Dengan orang yang belum lama dikenal hatimu. Kita bertemu di rumah makan yang khusus masakan laut. Aku menetesi mata. Retinaku habis kena masalah. Bayangan kabur. Dunia mendua. Pusing. Kini perlu rutin optimax dan augentonic.
Kamu menatap, "Sibuk apa?"
Kukatakan padamu bahwa aku sedang sibuk memelihara sepasang semut dua bangsa dalam wadah tabung bening.
Satu merah. Satu hitam. Mereka sering bingung mondar-mandir, merambat-rembet. Tiap empat jam, aku memberi sebulir gula kristal. Aku mengamati dengan saksama apa yang meraka lakukan. Kuabadikan ekspresinya. Hal yang sama kulakukan ketika baru mengambil mereka dari barisan koloni yang merembet di dinding. Aku membuat kartun emosi semut, dan buku edisi sosiologi hewan mungil. Hal sepele. Sebelumnya, aku mengambil pasangan semut sebangsa. Kusatukan, lalu kuambil. Mereka menampilkan wajah cemas. Berputar. Sungut bergetar cepat.
"Kamu?"