Selasa, 26 Mei 2026

Cerpen Eko Triono

Sepasang Semut dalam Tetes Mata

AKU memelihara semut dua bangsa dalam wadah tabung bening.

Tayang:
Editor: Hermawan Aksan

AKU memelihara semut dua bangsa dalam wadah tabung bening.

Itu bekas pelindung botol tetes mata augentonic, yang berat bersihnya hanya 15 mililiter. Meski hanya sebesar itu, akan tetapi mampu menanggung, di setiap mililiternya, amanat dari vitamin A palmitate 1.000 IU, zinc sulfate 0,2 mg, phenylephrin HCL 1,0 mg. Tidak penting juga sebenarnya, karena dua hari sudah lewat membawa rintik miliar liter hujan di seluruh Pasifik. Namun, entah mengapa aku belum juga memahami maksud kata-katamu yang mengandung empat /u/ ritmik menuduh:

"Cintaku memerlukan ruang kosong di situ," kamu nunjuk dada, hatiku.

Hatiku sudah lama berencana jadi lemari es. Biar suhu kecewa dan sedih bisa diatur. Biar mampu menahan kecepatan busuk tomat merah. Ideologi bakteri akan sulit tumbuh dalam derajat rendah. Inginnya begitu. Tapi, kangenku sebaliknya. Kangenku air tanpa patogen. Semakin dingin, semakin sebaliknya. Semakin membeku, semakin butuh sentuhan. Atau, butuh sekadar siraman rohani dari sirup perhatianmu yang manis mencairkan.

"Tapi, aku tidak," katamu. "Juni nanti, aku mau nikah. Ini barang-barang pemberianmu."

Tentu dengan orang lain. Itu alasan mengapa kamu mengajak bertemu.

Ketika itu, aku ingin kita bertemu di pinggir jalan, pada menit dan detik yang ditentukan, sehingga seolah-olah kebetulan dan berkata: "Hai, kamu." Tidak mau. Di tempat ibadah, biar terkesan religius? Tidak juga. Di kafe, biar santai? Tidak. Di dalam tiket kepergian, pesawat, kereta, bus, biar rumit? Tidak, tidak. Di jaringan sosial satelit, biar terkesan aktual dan elektromagnetik? Tidak! Kalau begitu, di dalam jiwa masing-masing saja? Ketawa. Kamu ketawa di seberang telepon. Tidak ada yang lucu. Atau, karena bekas pacarmu seorang pelawak tunggal, jadi kamu mudah ketawa, bahkan untuk hal yang biasa?

"Jangan bicarakan dia!"

Kalimat seru yang sama juga kamu ucapkan saat kita sudah bertatap muka.

"Ya," aku dingin. "Bawa permen karet? Mulutku pahit."

Kamu berkata bahwa cuma bawa permen mint. Boleh, kataku. Kuterima, kuamati lebih dulu, merah belang putih, cherrymint, soft layered candy, 2,3 gram. Rasanya proporsional. Kulirik kotak berkardus cokelat, apa isinya?

Kamu mendesah kesal, barang-barang pemberianmu! Termasuk pembungkus permen karet dengan kuis berhadiah, yang tidak pernah dikirimkan, meski sudah lengkap: Y-O-S-A-N, undian masa kanak. Misteri penemuan pembungkus dengan huruf: N, letak nama hadiah. Hadiah yang akhirnya kudapat: mobil mainan tamiya. Tapi tidak kukirimkan ke P.O. Box 1415 JKB 11014. Bahkan, masih hafal. Aku senyam-senyum saja. Itu kuhadiahkan padamu. Kamu malah simpan. Dilem pada karton, berurutan. Dipajang sebagai kebanggaan.

Kita dekat sejak sekolah dasar, lebih dekat ketika remaja, lebih lagi sampai setelah remaja, tapi kamu malah akan menikah dengan orang yang bahkan tidak tahu bagaimana saat kamu masih ingusan, atau wajah cemasmu saat diam-diam pup di ayunan pohon kersen, hanya karena tidak mau bergiliran.

"Dulu, kamu ingin menjadi Ranger Pink dengan lambang lingkaran, aku ingin menjadi Ranger Merah dengan bintang. Kita melawan monster kadal raksasa yang menghancurkan kota," kataku. "Kita kemudian bergabung, menjadi robot besar. Meledakkannya."

Kamu diam, memalingkan muka, ke arah luar.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved