Rabu, 27 Mei 2026

Cerpen Eko Triono

Sepasang Semut dalam Tetes Mata

AKU memelihara semut dua bangsa dalam wadah tabung bening.

Tayang:
Editor: Hermawan Aksan

Lemari es hatiku mencair, "Tapi, kenyataannya, kita tidak bisa bergabung, bahkan untuk sekadar membangun bahtera rumah tangga."

Terlalu banyak monster.

Terlalu banyak kadal dalam diri.

Kita kalah dan pernah saling menampar pada suatu malam. Tidak ada lagi kekuatan Zordon dari ranger masa kecil yang tampil memberi bantuan, atau Alpha 5, robot aya-ya, yang mungkin mampu melerai perseteruan kita.

Kita memang sudah lama bukan kanak lagi. Tapi, apa yang menjadi dasar perhitungan kini jika hidup hanya menunda kekalahan? Chairil melempariku dengan puisi itu ketika kita berpisah pada usia dua puluh satu, empat tahun yang lalu. Aku jadi terlalu murung untuk sekadar tertawa. Jadi terlalu takut untuk sekadar bersin dan serdawa. Entah apa yang berderai. Entah apa yang sebenarnya cemara.

"Itu mestinya kubakar. Aku izin, kamu izinkan. Tapi, belum kulakukan," katamu kemudian.

Aku tidak komentar. Palingmu sudah kembali dari luar. Di sana, jalan basah. Orang berjalan dengan payung hitam, tergesa. Melankoli tumbuh lebih cepat di musim seperti ini. Lorong itu. Konblok, lumut, gorong. Aku sudah pernah tersesat di jalur ziarah perasaan semacam ini, sebelumnya. Ketika bertanya pada orang lain, mereka mengucapkan selamat datang. Sebab, mereka pun sama-sama tersesat. Bersandar pada perasaan yang rapuh. Aku sembunyi di perpustakaan. Tinggal bersama ISBN, daftar isi, halaman, katalog, dan menelan duplikasi tinta dari isi-isi kepala orang lain yang sudah mati meninggalkan kalimat dalam buku.

Pada masa-masa seperti itu, aku mengalami gairah Diogenes yang konyol, tapi menyenangkan.

Mungkin, karena sedang cari antiseptik bagi dada. Aku akan berteriak-teriak, "Omong kosong!" ketika ada sambutan presiden, menteri, gubernur, wali kota, camat, atau yang sejenis dalam acara atau upacara. Dari luar pagar, kuteriakkan. Kulempar pula dengan botol air mineral 550 mililiter, yang telah kuganti isinya dengan air protes. Kalau dikejar, kabur, ngebut. Bila ada polisi menilang, setelah lolos, menjerit sambil ngebut, seolah ke teman, "Yuk, makan sate yuk! Dapat banyak, kan? Ayo, mumpung tanggal tua!" Dan kejailan-kejailan lain, sampai jadi perkara. Makin seru, makin suka aku. Makin bisa pikiran ini melupakanmu.

Namun, lama-lama aku jenuh. Puncaknya, ketika aku berangkat kuliah dengan merangkak.

Aku merasa bumi sedang tidak menjual gravitasi pada tubuhku. Tubuhku tertolak. Kakiku ditarik ke langit. Aku mesti memegang bumi, rumput-rumput. Lalu bangun di ruangan isolasi. Bersama teman baik. Dosen mengutuk. Lihat, betapa banyak kutukan di dunia ini. Aku melewati sakau, madat, sebelum kuliah. Tidak dilaporkan. Aku muntah-muntah sebelum kamu menelepon, karena diberitahu soal ini. Tidak apa-apa. Hanya masuk angin, kataku.

"Kamu baik-baik saja?" ujarmu di seberang telepon. Kita beda kampus.

"Ya."

Perutku mual. Aku tahu kamu sudah punya pacar lagi. Seseorang yang kamu anggap lucu. Tidak ingin kukatakan, lucu di luar biasanya memiliki beban di dalam.

Itu hanya sentimen masa lalu.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved