Cerpen Eko Triono

Sepasang Semut dalam Tetes Mata

AKU memelihara semut dua bangsa dalam wadah tabung bening.

Kamu berkata bahwa cuma bawa permen mint. Boleh, kataku. Kuterima, kuamati lebih dulu, merah belang putih, cherrymint, soft layered candy, 2,3 gram. Rasanya proporsional. Kulirik kotak berkardus cokelat, apa isinya?

Kamu mendesah kesal, barang-barang pemberianmu! Termasuk pembungkus permen karet dengan kuis berhadiah, yang tidak pernah dikirimkan, meski sudah lengkap: Y-O-S-A-N, undian masa kanak. Misteri penemuan pembungkus dengan huruf: N, letak nama hadiah. Hadiah yang akhirnya kudapat: mobil mainan tamiya. Tapi tidak kukirimkan ke P.O. Box 1415 JKB 11014. Bahkan, masih hafal. Aku senyam-senyum saja. Itu kuhadiahkan padamu. Kamu malah simpan. Dilem pada karton, berurutan. Dipajang sebagai kebanggaan.

Kita dekat sejak sekolah dasar, lebih dekat ketika remaja, lebih lagi sampai setelah remaja, tapi kamu malah akan menikah dengan orang yang bahkan tidak tahu bagaimana saat kamu masih ingusan, atau wajah cemasmu saat diam-diam pup di ayunan pohon kersen, hanya karena tidak mau bergiliran.

"Dulu, kamu ingin menjadi Ranger Pink dengan lambang lingkaran, aku ingin menjadi Ranger Merah dengan bintang. Kita melawan monster kadal raksasa yang menghancurkan kota," kataku. "Kita kemudian bergabung, menjadi robot besar. Meledakkannya."

Kamu diam, memalingkan muka, ke arah luar.

Lemari es hatiku mencair, "Tapi, kenyataannya, kita tidak bisa bergabung, bahkan untuk sekadar membangun bahtera rumah tangga."

Terlalu banyak monster.

Terlalu banyak kadal dalam diri.

Kita kalah dan pernah saling menampar pada suatu malam. Tidak ada lagi kekuatan Zordon dari ranger masa kecil yang tampil memberi bantuan, atau Alpha 5, robot aya-ya, yang mungkin mampu melerai perseteruan kita.

Kita memang sudah lama bukan kanak lagi. Tapi, apa yang menjadi dasar perhitungan kini jika hidup hanya menunda kekalahan? Chairil melempariku dengan puisi itu ketika kita berpisah pada usia dua puluh satu, empat tahun yang lalu. Aku jadi terlalu murung untuk sekadar tertawa. Jadi terlalu takut untuk sekadar bersin dan serdawa. Entah apa yang berderai. Entah apa yang sebenarnya cemara.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved