Coffeebreak
Legawa
LEGAWA itu ada hubungannya dengan kata "lega", atau rela, tidak terbelenggu oleh rasa tidak rela, lapang dada.
Penulis: swo | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
PEMILIHAN Presiden (Pilpres) 2014 memang berbeda dari yang sebelum-sebelumnya. Butuh perhatian khusus, kepala dingin, dan tidak tergesa-gesa dalam menerkanya. Untungnya pula, hajat besar tradisi demokrasi di negeri ini bersamaan dengan Ramadan, bulan puasa, yang tentunya termasuk wajib puasa emosi, menahan diri.
Perbedaan kasat mata pilpres kali ini, seperti hasil hitung cepat (quick count) dari 12 lembaga survei yang menunjukkan raihan suara antara pasangan Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK beda tipis. Lebih beda lagi, ada empat lembaga survei yang hitungannya menghasilkan pemenang berbeda dibanding 8 lembaga survei lainnya. Padahal pada pilpres-pilpres sebelumnya, kalaupun ada perbedaan hanya sebatas persennya, bukan pemenangnya.
Kontroversi quick count itulah yang membutuhkan perhatian khusus. Presiden SBY akhirnya mengundang kedua capres, Prabowo dan Jokowi, pascapengumuman hitung cepat. Intinya, SBY meminta agar kedua capres saling menahan diri, menjaga suasana sejuk.
Perhatian khusus juga dilakukan oleh para purnawirawan TNI. Dipimpin mantan wapres Tri Sutrisno, para sesepuh TNI itu mendatangi Panglima TNI dan memberikan wejangan agar sang panglima terus siaga dalam menjaga keamanan selama pilpres.
Menjelang penetapan pilpres oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pun marak relawan pengawal suara rakyat. Direktur Eksekutif Indo Barometer, Muhammad Qodari, misalnya, melihat suasana sensitif ini dengan mengharapkan agar penetapan pemenang pilpres oleh KPU berlangsung aman, lancar, dan damai.
"Jangan sampai tanggal 22 Juli ada kerusuhan," ujar Qodari dalam sebuah diskusi dengan tema "Mengawal Suara Rakyat Pilpres 2014 dari Kecurangan" di Resto Harapan, Jalan Teuku Cik Ditiro No 31, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (17/7).
Harapan Qodari itu belum cukup. Prabowo dan Jokowi, termasuk para elite politik pendukung masing- masing capres-cawapres, selayaknya siap legawa, siap kalah dengan ikhlas. Kata ini memang mudah diucap, tapi dalam konteks perebutan kursi RI-1 dan RI-2 dengan selisih suara yang beda tipis, butuh persiapan, pemahaman, dan perenungan dalam.
Secara harafiah, legawa berarti tulus hati, ikhlas. Yustinus Setyanta dalam blognya menulis, legawa berasal dari bahasa Jawa yang sekarang juga dipakai dalam bahasa Indonesia. Legawa itu ada hubungannya dengan kata "lega", atau rela, tidak terbelenggu oleh rasa tidak rela, lapang dada.
Mengapa lega harus ditambahi "wa"? Menurutnya, mengacu ceritera perwayangan, ada tokoh Rama Legawa. Kata legawa nama tokoh itu berasal dari kata "raghawa", seperti Pandhawa atau Korawa. Kata "raghawa" dalam hal ini berarti darah atau keturunan.
Lega juga menginspirasi penyair Jawa modern, Iesmaniasita, dalam menciptakan puisi berjudul "Apa kamu sudah lega?". Pada puisi ini Iesmaniasita bertanya pada penyair-penyair seangkatannya, "Apakah kamu sudah lega jikalau hanya menyanyikan lagu warisan?"
Legawa selalu tertanam dalam-dalam di setiap konsep dasar kepemimpinan. Mengutip literatur, penampilan legawa dalam kepemimpinan adalah pengasih, karim dan dermawan, tabah, tawakal, dan menghibur diri. Selain itu, juga pasrah, menyerah dengan hati tulus bila terjadi kekecewaan dan kegagalan tetapi bangkit lagi untuk membangun.
Bisa menerima segala kesalahan dan kekecewaan, serta menerima segala uji coba dengan tabah, apabila tidak disukai dan difitnah orang atau sesamanya tetapi terus berjuang tanpa pamrih melaksanakan tugas.
Jika mengenal lebih jauh ajaran Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan nasional ini, bahwa bukan hanya seorang pemimpin harus memiliki tiga sifat yang terangkum dalam Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tutuwuri Handayani.
Ki Hajar juga mengajarkan sifat kepemimpinan itu, yaitu Legawa (rela), Satya (setia), Prasaja (bersahaja/sederhana), dan Belaka (terbuka).
Dalam pewayangan, legawa bagian dari Hastha Brata, ilmu tentang lakunya delapan (8) perwatakan alam yang telah dimiliki oleh raja besar yang adil, berwibawa, arif dan bijaksana, yakni Prabu Rama Wijaya dan Sri Bathara Kresna. Prabu Kresna kemudian memberikan wejangan kepada penengah Pandhawa, Raden Arjuna, mengenai kandungan rahasia ilmu dahsyat tersebut.