Selasa, 21 April 2026

Kisah Perjuangan Mahasiswa UIN Bandung Lutfi Gunawan: Jualan Pecel Lele Demi Beli Laptop

Lutfi mengumpulkan upah harian berkisar Rp30.000 hingga Rp70.000 demi mewujudkan impian membeli laptop sendiri tanpa membebani orang tuanya.

Tribun Jabar/Kiki Andriana
Lutfi Gunawan (20) Mahasiswa Fakultas Hukum UIN Sunan Gunung Djati Bandung,, saat bekerja di warung pecel lele, Jalan Raya Bandung-Garut, Desa Cipacing, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Kamis (26/3/2026) malam.  

Ringkasan Berita:
  • Lutfi Gunawan (20), mahasiswa semester empat Fakultas Hukum UIN Sunan Gunung Djati Bandung, memilih mengisi waktu luangnya dengan bekerja sebagai pelayan di warung pecel lele di Desa Cipacing, Jatinangor
  • Bekerja mulai pukul 16.00 hingga 03.00 dini hari, Lutfi mengumpulkan upah harian berkisar Rp30.000 hingga Rp70.000 demi mewujudkan impian membeli laptop sendiri tanpa membebani orang tuanya.

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Di balik asap tipis dari wajan penggorengan dan cahaya lampu yang tak begitu terang, Lutfi Gunawan (20) tampak cekatan memasak dan menyajikan pecel lele. 

Tangannya lincah memindahkan nasi dari bakul ke piring, lalu menyusunnya rapi untuk pelanggan yang terus berdatangan ke lapaknya di Jalan Raya Bandung-Garut, di Dusun Cikopo RT03/03, Desa Cipacing, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. 

Malam baru saja dimulai, tapi baginya, ini adalah awal dari perjuangan panjang hingga dini hari.

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung itu bukan sekadar membantu di warung pecel lele. Dia menukar waktu, tenaga, dan lelahnya demi satu hal, yaitu keteguhannya untuk tidak bergantung sepenuhnya pada orang tua.

“Alhamdulillah ramai. Mulai dari jam 16.00 sampai jam 03.00,” ujar Lutfi di sela-sela pelayanan, Kamis (26/3/2026) malam. 

Lutfi, mahasiswa jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum ini sudah sekitar satu bulan bekerja di warung tersebut. Sebelumnya, ia juga sempat mencicipi kerasnya dunia kerja sebagai tukang servis radiator di kawasan Mekargalih, Jatinangor.

Baginya, bekerja bukan soal gengsi. Justru sebaliknya. Tidak kerja adalah malu yang sebenarnya. 

“Kalau malu, enggak. Semakin dewasa, kita jadi tahu susahnya cari uang. Dari situ malah jadi malu untuk terus minta ke orang tua,” katanya.

Sebagai anak ketiga dari pasangan Cahyati (40) dan Nanang Gunawan (50), Lutfi tumbuh dalam keluarga sederhana. Kakaknya yang pertama bekerja di Bekasi di bidang otomotif, sementara kakaknya yang kedua masih mondok di pesantren di Manonjaya, Tasikmalaya, tempat Lutfi sendiri pernah menghabiskan enam tahun masa pendidikannya.

Kini, di sela kuliahnya yang memasuki semester empat, Lutfi memilih jalan yang tak semua mahasiswa berani ambil, bekerja sambil kuliah.

Upah yang ia terima tak menentu. Dalam kondisi biasa, ia mendapat sekitar Rp30 ribu per hari, termasuk makan. Jika warung sedang ramai, penghasilannya bisa mencapai Rp70 ribu.

Namun bagi Lutfi, angka itu bukan sekadar nominal. Ia menyimpan setiap rupiah, menitipkannya kepada orang tuanya. Ada satu tujuan sederhana yang sedang ia kejar, dia ingin membeli laptop sendiri.

“Masih jauh sih (untuk bisa beli laptop), tapi pelan-pelan,” ucapnya dengan senyum tipis.

Rutinitasnya tak mudah. Bekerja hingga larut malam membuatnya harus menukar waktu istirahat. Siang hari sering ia habiskan untuk tidur, sementara jadwal kuliah menyesuaikan kondisi.

Tak jarang, teman-temannya mempertanyakan pilihannya. “Terkadang ada yang komplain soal waktu,” katanya.

Bagi Lutfi, hidup bukan hanya tentang menerima, tetapi juga memberi timbal balik. Ia tak ingin terus berada dalam posisi bergantung.

“Kalau kita terus diberi, pasti ada tanggung jawab juga. Saya lebih memilih berusaha sendiri,” ujarnya.

Soal kehidupan pribadi, Lutfi hanya tertawa kecil ketika ditanya soal pacar.

“Belum,” jawabnya singkat.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved