Hari Lupus Sedunia
Penyakit Lupus: Hadir Tak Terlihat, Merenggut Tak Terduga
Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau yang lazim disebut Lupus adalah penyakit autoimun sistemik kronis
Penyakit ini tidak menular. Lupus bukan kanker. Lupus tidak disebabkan oleh kutukan, dosa, atau makanan tertentu semata.
Ia lahir dari perpaduan kompleks antara faktor genetik, hormonal, lingkungan, dan paparan pemicu seperti sinar ultraviolet, infeksi virus tertentu, serta sejumlah obat-obatan.
Inilah mengapa tidak ada satu pun suplemen, jamu, atau terapi alternatif yang dapat mengobati atau menggantikan terapi medis konvensional untuk lupus.
Mengapa Perempuan? Mengapa Usia Produktif?
Di sinilah fakta yang paling perlu dipahami masyarakat luas: sekitar 90 persen penderita lupus adalah perempuan, dan penyakit ini paling sering muncul pertama kali pada rentang usia 15 hingga 45 tahun tepat di masa paling produktif dalam kehidupan seorang perempuan.
Rasio perempuan berbanding laki-laki mencapai 9:1, bahkan di beberapa laporan mencapai 15:1.
Mengapa demikian? Hormon estrogen diduga berperan penting dalam memodulasi respons imun.
Perempuan memiliki dua kromosom X struktur genetik yang turut berkontribusi pada hiperaktivitas sistem imun.
Kehamilan pun menjadi salah satu momen kritis: lupus bisa mengalami flare (kambuh-aktif) selama kehamilan, meningkatkan risiko komplikasi bagi ibu dan janin.
Ini bukan perkara statistik semata.
Seorang perempuan berusia 25 tahun yang didiagnosis lupus adalah seorang calon ibu, mahasiswi, karyawan, pelaku UMKM, atau bahkan pemimpin komunitas yang sedang menapaki kariernya.
Setiap episode flare lupus yang tidak terkendali bisa melumpuhkannya berhari-hari hingga berbulan-bulan dan bila organ vital seperti ginjal atau otak terlibat, dampaknya bisa permanen.
Beban Lupus: Angka yang Berbicara
Secara global, diperkirakan lebih dari 3,4 juta orang hidup dengan lupus, dengan sekitar 400.000 kasus baru terdiagnosis setiap tahun.
Dalam populasi perempuan, prevalensi SLE mencapai hampir 79 per 100.000 orang di seluruh dunia sebuah angka yang jauh lebih tinggi dibanding kaum laki-laki yang hanya sekitar 9 per 100.000.
Bagi Indonesia, angka ini bukan sekadar cerminan tren global. Studi epidemiologi terkini menempatkan Indonesia dalam empat besar negara dengan jumlah perempuan pengidap lupus terbanyak di dunia, dengan estimasi lebih dari 131.000 perempuan Indonesia yang saat ini hidup bersama lupus hanya kalah dari Tiongkok, Brasil, dan Amerika Serikat.
Dan angka sesungguhnya hampir pasti lebih besar, mengingat banyaknya kasus yang belum terdiagnosis.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Reumatol
Rachmat Gunadi Wachjudi
Hari Lupus Sedunia
lupus
Kota Bandung
| Peringati Bulan Peduli Autoimun, MCF Gelar Jazz Night untuk Para Penyintas di Bandung |
|
|---|
| Muncul Ruam di Wajah Mirip Kupu-kupu? Yuk, Kenali Gejala Penyakit Lupus Sejak Dini |
|
|---|
| Hidup Berdampingan dengan Autoimun, Kenali Penyakit dan Kontrol Gaya Hidup untuk Kendalikan Gejala |
|
|---|
| Sosok Irna Gustiawati Jurnalis Senior Istri Dandy Laksono Meninggal , 21 Tahun Berkarier di Media |
|
|---|
| Shena Malsiana Dikabarkan Sempat Didiagnosa Mengidap Penyakit Lupus dan Gagal Ginjal Kronis |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/kata-kata-bijak-ucapan-selamat-hari-lupus-sedunia.jpg)