Kenaikan Harga BBM
Tekanan Harga BBM Bisa Makin Kuat, Pengamat: Ketergantungan Energi Indonesia Tinggi
Dampak perang dan penutupan selat hormuz menjadi penyebab harga BBM Indonesia mengalami kenaikan. Perang yang lama berpotensi naikkan harga lagi.
Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Ichsan
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pengamat Ekonomi Energi, Tata Mustasya, menilai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi saat ini merupakan dampak tidak langsung dari konflik global yang memengaruhi distribusi energi dunia.
“Dampak perang itu tidak langsung terasa, karena saat konflik terjadi, kapal-kapal pengangkut energi sebenarnya sudah lebih dulu berangkat melalui Selat Hormuz,” ujar Tata, Senin (4/5/2026).
Ia menjelaskan bahwa distribusi minyak mentah maupun BBM membutuhkan waktu yang cukup panjang.
Selama periode tersebut, pasokan di dalam negeri masih relatif aman karena berasal dari pengiriman sebelumnya.
Baca juga: Harga BBM Melambung, Anggaran Sampah Kota Bandung Menipis Hanya Cukup Sampai September
“Jadi, pada awalnya pasokan masih tersedia. Namun, jika konflik berlangsung lebih lama, maka pengiriman baru bisa terhenti,” katanya.
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan ketergantungan Indonesia terhadap impor energi, khususnya minyak, yang masih cukup tinggi dibandingkan produksi dalam negeri.
“Kita kan kalau minyak masih importir. Misal kita bisa produksi 600.000 per hari tapi konsumsinya bisa lebih dari itu,” ujarnya.
Tata menambahkan, dampak kenaikan harga BBM saat ini belum sepenuhnya dirasakan masyarakat luas karena pemerintah masih menahan harga BBM yang paling banyak digunakan.
“Dari kemarin kan ditahan dulu, kemarin naikin Pertamax Turbo sama Dex sekarang kembali naik, pemakainya total paling cuma 10 persen,” katanya.
Ia menyebutkan bahwa konsumsi terbesar masyarakat berada pada BBM subsidi, sehingga penahanan harga menjadi langkah penting untuk menjaga daya beli.
“Sekarang pertamax kembali naik, mudah-mudahan pertalite itu masih bisa ditahan. Janjinya kan yang di subsidi ini ditahan, karena pengguna subsidi ini yang paling banyak sampai 70 persen,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa jika konflik global terus berlanjut, tekanan terhadap harga energi akan semakin besar.
“Jika perang berlangsung lebih lama dan distribusi terganggu, maka tekanan terhadap harga BBM di dalam negeri akan semakin kuat,” ucapnya.
Sementara itu, PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga sejumlah BBM non-subsidi pada Senin (4/5/2026).
| Cara Diky Candra Siasati Dampak Kenaikan BBM Non Subsidi: Ganti Mobil Dinas |
|
|---|
| Harga BBM Non-Subsidi Melejit: Pengguna Pertamax Turbo di Bandung Mulai Pilih Bahan Bakar Murah |
|
|---|
| Harga BBM Naik: SPBU Shell dan Vivo di Bandung Tutup, Stok BP 92 Kosong Berhari-hari |
|
|---|
| BBM Nonsubsidi Tiba-tiba Naik, Banyak Pengemudi di Pangandaran Kaget, Baru Tahu saat di SPBU |
|
|---|
| Harga BBM Nonsubsidi Naik Drastis, Sopir Angkutan Barang di Ciamis Kaget, Pilih Tekan Kebutuhan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Pertamina-Patra-Niaga-Regional-Jawa-Bagian-Barat-JBB-memastikan-pasokan-BBM-dan-LPG.jpg)