Sentimen Damai Timur Tengah: Membaca Arah Harga Emas Pasca Gencatan Senjata AS-Iran
Pengamat ekonomi memproyeksikan harga emas ditengah gencatan senjata Amerika Serikat dan Iran
Penulis: Nappisah | Editor: Siti Fatimah
Ringkasan Berita:
- Koreksi harga emas saat ini seiring adanya gencatan senjata di Timur Tengah merupakan hal yang wajar
- Rizaldy memproyeksikan, bila ke depan Iran dan Amerika Serikat benar-benar mencapai perdamaian yang stabil, maka harga emas berpotensi mengalami tekanan lebih lanjut
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Dosen sekaligus pengamat ekonomi Universitas Islam Nusantara (Uninus), Mochammad Rizaldy Insan Baihaqqy, mengatakan, koreksi harga emas saat ini seiring adanya gencatan senjata di Timur Tengah merupakan hal yang wajar.
"Sebelumnya harga emas sempat mengalami kenaikan cukup tinggi akibat meningkatnya tensi geopolitik," ujarnya, kepada Tribunjabar.id, Jumat (10/4/2026).
Dia menuturkan, ketika kondisi mulai mereda, permintaan terhadap aset safe haven seperti emas cenderung menurun, ditambah adanya aksi ambil untung dari investor.
Diketahui, pada Oktober hingga Desember 2025, harga emas bergerak naik secara bertahap dari kisaran Rp2,2 juta menuju Rp2,5 juta per gram.
Baca juga: Kisah Alvi, Freelancer Muda yang Ubah Perjuangan Antre Emas Menjadi Peluang Bisnis Menggiurkan
Memasuki Januari 2026, kenaikan menjadi lebih tajam dengan harga melonjak mendekati Rp3 juta per gram dalam waktu singkat, menandai fase bullish yang dipicu sentimen global dan peningkatan permintaan.
Memasuki Februari hingga Maret 2026, harga emas sempat menyentuh level tertinggi di kisaran Rp3 juta per gram, namun pergerakannya mulai fluktuatif.
Sementara itu, pada Maret hingga April 2026, harga emas mengalami koreksi dan turun ke kisaran Rp2,7 juta hingga Rp2,85 juta per gram.
Meski demikian, koreksi ini dinilai Rizaldy sebagai penyesuaian wajar setelah lonjakan tajam sebelumnya.
Meski demikian, peluang rebound harga emas masih terbuka.
Hal ini karena gencatan senjata yang terjadi saat ini belum tentu bersifat permanen, sehingga ketidakpastian global masih tetap ada.
"Selama risiko tersebut belum benar-benar hilang, emas masih akan menjadi pilihan investor untuk menjaga nilai aset," ucapnya.
Baca juga: Harga Emas Hari Ini Jumat 10 April 2026 Kompak Turun, Antam Kembali ke Rp2,9 Juta
Rizaldy memproyeksikan, bila ke depan Iran dan Amerika Serikat benar-benar mencapai perdamaian yang stabil, maka harga emas berpotensi mengalami tekanan lebih lanjut.
"Investor kemungkinan akan mulai beralih ke instrumen yang lebih berisiko seperti saham. Namun penurunan harga emas biasanya tidak terlalu dalam, karena tetap dipengaruhi oleh faktor lain seperti inflasi global dan kebijakan suku bunga," jelasnya.
Dia menambahkan, secara keseluruhan, dalam jangka pendek harga emas cenderung bergerak fluktuatif.
Sebab, dalam jangka menengah masih memiliki potensi untuk kembali menguat, terutama jika ketidakpastian global kembali meningkat.
| Kisah Alvi, Freelancer Muda yang Ubah Perjuangan Antre Emas Menjadi Peluang Bisnis Menggiurkan |
|
|---|
| Harga Emas Hari Ini Jumat 10 April 2026 Kompak Turun, Antam Kembali ke Rp2,9 Juta |
|
|---|
| Harga Emas Hari Ini Kamis 9 April 2026 Masih Naik, Antam Kembali Sentuh Rp3 Juta |
|
|---|
| Efek Gencatan Senjata Iran-AS, Pelabuhan Cirebon Hingga Pariwisata Jabar Berpotensi Terdongkrak |
|
|---|
| Gencatan Senjata AS-Iran, Pengamat Ekonomi Sebut Penurunan Harga Sejumlah Komoditas Tidak Instan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ilustrasi-emas-logam-mulia-1.jpg)