Sabtu, 23 Mei 2026

Ferry Irwandi dan Solidaritas Digital: Donasi Rp10,3 Miliar dalam Kacamata Uses and Gratifications

Dalam 24 jam, lebih dari Rp10,3 miliar terkumpul dari 87 ribu donatur. Angka ini tidak hanya mencerminkan keprihatinan publik terhadap bencana.

Tayang: | Diperbarui:
Dokumen Pribadi
Kelvin Mohammad Yusron, Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. 

Oleh: Kelvin Mohammad Yusron

TRIBUNJABAR.ID - Fenomena donasi yang digalang oleh pendiri Malaka Project Ferry Irwandi melalui Kitabisa.com untuk korban banjir Sumatera menjadi salah satu momentum sosial paling penting tahun ini.

Dalam 24 jam, lebih dari Rp10,3 miliar terkumpul dari 87 ribu donatur. Angka ini tidak hanya mencerminkan keprihatinan publik terhadap bencana kemanusiaan, tetapi juga menandai perubahan mendasar dalam perilaku konsumsi media masyarakat Indonesia.

Publik kini tidak lagi pasif menerima informasi, mereka aktif memilih figur, kanal, dan model komunikasi yang dianggap paling relevan dan tepercaya.

Untuk memahami fenomena ini, Uses and Gratifications Theory (U&G) yang dipopulerkan oleh Katz, Blumler, dan Gurevitch (1973–1974) menjadi landasan teoritis yang kuat.

Teori ini menempatkan audiens sebagai pihak yang aktif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan kognitif, emosional, identitas, hingga integrasi sosial.

Sejalan dengan itu, riset terbaru memperlihatkan bahwa pengguna media sosial cenderung memilih platform dan figur berdasarkan motif informasi, interaksi sosial, ekspresi diri, serta identitas digital (Suparmo, 2017; Arifin, 2022). 

Pola tersebut tampak jelas dalam cara publik merespons konten-konten Ferry dan kemudian tergerak berdonasi secara masif.

Pertama, kebutuhan informasi dan kredibilitas figur media.

Dalam situasi bencana, masyarakat menghadapi limpahan informasi yang sulit diverifikasi. Karena itu, kebutuhan akan informasi yang akurat, cepat, dan dapat dipercaya menjadi sangat dominan.

Konten-konten Ferry, berisi pemetaan area terdampak, kebutuhan logistik, serta laporan penggunaan dana mengisi kebutuhan kognitif tersebut.

Konsistensi dan transparansi seperti ini membuat publik merasa berada di tangan yang tepat, karena kompetensi dan integritas adalah fondasi persepsi kepercayaan di ruang digital (Rachmawati & Solikhati, 2023).

Di titik ini, publik bukan hanya mencari informasi, tetapi juga figur yang mampu memberikan sense of certainty.

Kedua, kebutuhan emosional dan empati yang memobilisasi.

Bencana besar selalu membawa rasa sedih, takut, dan ketidakberdayaan. Narasi Ferry yang humanis kisah warga, kondisi lapangan, proses evakuasi mengaktifkan kebutuhan emosional audiens.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved