Rabu, 3 Juni 2026

Profesor Unpad Lecehkan Mahasiswi

Pelecehan Seksual di Kampus Bak Jamur, Mahasiswi Unpad Kecewa: Katanya Bercanda, Padahal Tidak Lucu

Mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) sampaikan kekecewaan mendalam atas dugaan pelecehan oleh guru besar.

Tayang:
Penulis: Nappisah | Editor: Ravianto
Istimewa
GURU BESAR UNPAD - Screenshot tampilan yang menginformasikan kalau seorang guru besar Unpad terlibat dalam kasus pelecehan seksual. Mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) sampaikan kekecewaan mendalam atas dugaan pelecehan oleh guru besar. Mereka menuntut ruang aman dan sanksi tegas. 

Ringkasan Berita:
  • Kekecewaan Kolektif: Mahasiswa dari berbagai fakultas di Unpad mengaku kecewa dengan kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan oknum guru besar.
  • Coreng Marwah Kampus: Jabatan "Guru Besar" dinilai seharusnya menjadi teladan pembentukan karakter, namun tindakan terduga pelaku justru mencoreng citra Unpad sebagai institusi akademik.
  • Kritik Budaya "Bercanda": Mahasiswi menyoroti banyak tindakan pelecehan yang berawal dari verbal/candaan.

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Sejumlah mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) menyampaikan kekecewaan dan kekhawatiran mereka terkait dugaan kasus pelecehan seksual yang melibatkan seorang guru besar.

Rohman mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Unpad menyebut kasus tersebut menodai nama baik kampus. 

Menurutnya, pelecehan seksual bisa terjadi di mana saja, tidak memandang latar belakang kampus.

Namun, Rohman menyanyangkan ketika institusi pendidikan tempat pembentukan karakter, tercoreng dengan kelakuan tidak bermoral. 

“Tak elok dilakukan oleh guru besar. Nama kampus jadi tercoreng,” katanya, kepada TribunJabar.id, Kamis (16/4/2026). 

Hal tersebut turut dibenarkan oleh Febry, mahasiswi Unpad, mengaku terganggu dengan mencuatnya kasus tersebut. 

Baca juga: Mahasiswa Unpad Desak Guru Besar IY Diusut Tuntas: Tak Cukup Dipecat

Ia menilai kampus seharusnya menjadi tempat yang aman untuk belajar dan membangun relasi, namun justru menghadirkan rasa tidak nyaman.

“Aku melihat kasus-kasus ini sebagai sesuatu yang sangat mengganggu dan mengecewakan. Apalagi ini terjadi di lingkungan kampus, tempat yang seharusnya diisi oleh orang-orang terpelajar,” ujarnya. 

Ia juga menyoroti bahwa kasus serupa terus berulang, bahkan di tahun 2026.

Menurutnya, perempuan masih kerap diposisikan sebagai objek, baik dalam candaan maupun tindakan yang mengarah pada pelecehan seksual.

“Ini masalah lama yang terus berulang, seolah tidak pernah benar-benar diselesaikan,” tambahnya.

Febry menilai sikap sebagian pihak yang masih menyepelekan kasus pelecehan seksual justru memperparah keadaan. 

Ia menyinggung ironi ketika individu yang seharusnya memahami konsep keadilan, seperti mahasiswa hukum, justru terkesan menormalisasi perilaku tersebut.

“Kalau dari akarnya saja sudah bermasalah, wajar kalau muncul rasa skeptis. Bagaimana kita bisa percaya pada sistem yang seharusnya melindungi?” katanya.

Senada dengan itu, Langit, mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, juga mengaku kecewa meski tidak sepenuhnya terkejut dengan munculnya kasus tersebut. 

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved