Kamis, 9 April 2026

Perubahan Sistem Cepat, Perguruan Tinggi Kini Dituntut Lebih Agile dan Adaptif

Di tengah perubahan yang berlangsung sangat cepat, peran tenaga kependidikan kini tidak lagi sebatas administratif. 

Tribun Jabar/Putri Puspita Nilawati
WAWANCARA - Rektor Universitas Padjadjaran, Arief Sjamsulaksan Kartasasmita saat wawancara di Hotel Aryaduta 

Ringkasan Berita:
  • Mendiktisaintek Brian Yuliarto menekankan pentingnya peran tenaga kependidikan dalam transformasi pendidikan tinggi.
  • Tenaga kependidikan tidak lagi sebatas administratif, tetapi menjadi penggerak perbaikan sistem kampus.
  • Workshop diikuti 385 peserta lintas bidang, menunjukkan transformasi harus menyeluruh.
  • Rektor Unpad Arief Sjamsulaksan menilai analis kebijakan penting untuk menghasilkan keputusan berbasis data.

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG -Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ( Mendiktisaintek ), 
Brian Yuliarto menegaskan pentingnya peran tenaga kependidikan dalam mendukung transformasi pendidikan tinggi di Indonesia, terutama di tengah tantangan disrupsi global dan percepatan perubahan sistem. 

Menurut Brian, transformasi pendidikan tinggi tidak akan pernah benar-benar terjadi tanpa peran kelompok ini.

“Seringkali perhatian kita langsung tertuju pada dosen, riset, atau mahasiswa. Padahal ada satu elemen yang sangat krusial namun tidak tampak di permukaan, yaitu tenaga kependidikan,” ujar Brian di dalam Workshop dan Benchmarking Peningkatan Kompetensi Analis Kebijakan di Lingkungan Perguruan Tinggi di Hotel Aryaduta, Selasa (7/4/2026).

Baca juga: Ojol Kini Bebas Masuk Kampus Unpad Jatinangor Tanpa Scan QR Code, Ini Aturan Barunya

Menurutnya, di tengah perubahan yang berlangsung sangat cepat, peran tenaga kependidikan kini tidak lagi sebatas administratif. 

Mereka justru menjadi lokomotif dalam mendorong perbaikan sistem di berbagai lini kampus.

“Tenaga kependidikan hari ini tidak cukup hanya menjalankan fungsi administrasi. Mereka menjadi penggerak perbaikan sistem,” tegasnya.

Workshop tersebut diikuti oleh 385 peserta yang berasal dari berbagai bidang, mulai dari pranata laboratorium pendidikan, humas, SDM, pustakawan, analis kebijakan, arsiparis, hingga pranata komputer. 

Kehadiran lintas sektor ini, kata Brian, menunjukkan bahwa transformasi pendidikan tinggi tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus menyeluruh.

Ia menekankan bahwa tujuan akhir dari seluruh upaya ini bukan sekadar memperbaiki administrasi, melainkan memastikan pendidikan tinggi benar-benar memberi dampak nyata bagi masyarakat dan bangsa. 

Untuk itu, dibutuhkan sistem yang kuat, layanan yang responsif, serta sumber daya manusia yang adaptif dan terus belajar.

Baca juga: Lindungi Karya Inovator Muda, Kemenkum Jabar dan Disparbud Edukasi HKI di Kampus BINUS Bandung

Brian berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti pada seremoni semata. Ia mendorong adanya keberlanjutan melalui forum-forum kolaboratif di masing-masing kampus, termasuk ruang dialog antara pimpinan perguruan tinggi dan tenaga kependidikan.

Sementara itu Rektor Universitas Padjadjaran, Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, menilai kegiatan ini menjadi langkah penting di tengah kompleksitas tantangan yang dihadapi perguruan tinggi saat ini.

Ia menyebut, di tengah disrupsi teknologi dan perubahan global yang cepat, kampus membutuhkan penguatan peran analis kebijakan yang mampu menghasilkan keputusan berbasis data.

“Kami menyambut baik kegiatan ini di tengah disrupsi teknologi dan berbagai perubahan yang terjadi, perguruan tinggi membutuhkan analis kebijakan yang bisa memastikan kebijakan universitas berbasis evidence,” ujar Arief.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved