Senin, 27 April 2026

Ngantuk, Begah, dan Mudah Lelah? Bisa Jadi Tanda Metabolisme Tidak Seimbang

Kesibukan sehari-hari sering membuat kita kurang menyadari gangguan pencernaan, termasuk ketidakseimbangan metabolisme

Editor: Siti Fatimah
Tribun Jabar/Dok Mayapada Hospital
ILUSTRASI - Kesibukan sehari-hari sering membuat kita kurang menyadari gangguan pencernaan, termasuk ketidakseimbangan metabolisme. Tandanya bisa sesederhana mengantuk setelah makan, cepat lapar, sering mengidam manis, dan mudah lelah. Mayapada Hospital menghadirkan program layanan Liver & Metabolic Wellness Center (LMWC) yang komprehensif untuk kesehatan liver, gangguan metabolik, dan pengelolaan berat badan, dengan fokus pada deteksi dini risiko seperti obesitas, diabetes, dislipidemia, dan sindrom metabolik. 

Ringkasan Berita:
  • Kesibukan sehari-hari sering membuat kita kurang menyadari gangguan pencernaan, termasuk ketidakseimbangan metabolisme
  • Gangguan metabolik biasanya berasal dari pola makan yang tidak seimbang serta gaya hidup kurang aktif
  • Mayapada Hospital menghadirkan program layanan Liver & Metabolic Wellness Center (LMWC) yang komprehensif untuk kesehatan liver, gangguan metabolik, dan pengelolaan berat badan, dengan fokus pada deteksi dini risiko seperti obesitas, diabetes, dislipidemia, dan sindrom metabolik

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kesibukan sehari-hari sering membuat kita kurang menyadari gangguan pencernaan, termasuk ketidakseimbangan metabolisme. Tandanya bisa sesederhana mengantuk setelah makan, cepat lapar, sering mengidam manis, dan mudah lelah.

Kondisi ini menunjukkan tubuh kesulitan mengubah makanan menjadi energi, sehingga pencernaan bekerja lebih keras.

Lebih jelasnya, dr. Hoo Yumilia, SpPD-KEMD, FINASIM dari Mayapada Hospital Bandung menerangkan, metabolisme dan sistem pencernaan saling berkaitan. 

Kalau metabolisme tidak seimbang, tubuh tidak bisa mengolah makanan dengan efisien.

"Akibatnya, makanan menumpuk dan tidak tercerna sempurna membuat perut terasa begah, hingga perubahan toleransi terhadap makanan tertentu serta potensi kenaikan berat badan, gula darah, dan kadar lemak (trigliserida) yang perlu diwaspadai," terang dr. Yumilia.

Menurutnya, metabolisme yang tidak seimbang juga berpengaruh pada organ hati, di mana organ ini jadi sulit memproses gula, lemak dan protein jadi energi.

Sehingga penyerapan nutrisi tidak optimal. Ketika terjadi ketidakseimbangan metabolik, misalnya akibat berat badan berlebih, gangguan penyerapan gula (resistensi insulin), atau pola makan yang kurang terkontrol, hati dapat ikut terbebani.

Sementara itu, menurut dr. Nenny Agustanti, SpPD-KGEH dari Mayapada Hospital Bandung penyebab gangguan metabolik biasanya berasal dari pola makan yang tidak seimbang serta gaya hidup kurang aktif (sedentari). 

“Pola makan tinggi gula, lemak, dan kalori, ditambah kurang aktivitas fisik, meningkatkan risiko gangguan metabolik yang tidak hanya memengaruhi berat badan, tapi juga membebani organ pencernaan. Karena itu menjaga keseimbangan metabolik sangat penting untuk menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh,” jelas dr. Nenny. 

“Risiko gangguan metabolik perlu diwaspadai pada mereka yang memiliki berat badan berlebih, lingkar perut meningkat, riwayat diabetes keluarga, gula darah mulai berubah, atau kadar lemak tidak ideal, terutama jika disertai keluhan pencernaan berulang. Evaluasi dini membantu mengenali risiko sejak awal sehingga penyesuaian gaya hidup dan tindak lanjut medis dapat dilakukan dengan tepat.” lanjutnya.

Karena itu, mulai sekarang perbaiki pola makan, rutin beraktivitas, dan lakukan evaluasi kesehatan secara berkala.

Dengan memahami metabolisme serta kaitannya dengan pencernaan dan hati, masyarakat didorong untuk lebih proaktif mencegah penyakit hati yang kini semakin sering dipicu oleh gaya hidup.

Untuk mendukung upaya tersebut, Mayapada Hospital menghadirkan program layanan Liver & Metabolic Wellness Center (LMWC) yang komprehensif untuk kesehatan liver, gangguan metabolik, dan pengelolaan berat badan, dengan fokus pada deteksi dini risiko seperti obesitas, diabetes, dislipidemia, dan sindrom metabolik.

Layanan ini didukung tim multidisiplin dan fasilitas modern seperti, elastografi FibroScan® untuk memeriksa kesehatan hati secara non-invasif, serta Total Body Matrix Assessment (TBMA) untuk evaluasi komposisi tubuh dan indikator metabolik.

LMWC merupakan bagian dari layanan unggulan Gastrohepatology Center yakni layanan komprehensif untuk  penanganan berbagai gangguan saluran pencernaan yang tersedia di unit Mayapada Hospital di Jakarta Selatan (Lebak Bulus dan Kuningan Rasuna Said), Tangerang, Bogor, Surabaya, dan Bandung, serta segera hadir di Jakarta Timur.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved