Senin, 1 Juni 2026

Mengenal Virus Nipah: Cara Penularan, Gejala, dan Alasan Indonesia Tetap Waspada

Gejala awal sering kali menyerupai infeksi biasa, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan nyeri tenggorokan. 

Tayang:
freepik
ILUSTRASI VIRUS - Gejala awal virus nipah sering kali menyerupai infeksi biasa, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan nyeri tenggorokan.  

Sementara itu penelitian pada 2021–2023 menunjukkan bahwa sekitar sepertiga kelelawar buah yang diperiksa di sejumlah wilayah seperti Medan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kalimantan memiliki antibodi virus Nipah. 

Bahkan, pada dua dari 50 sampel ludah kelelawar, virus Nipah terdeteksi melalui pemeriksaan PCR.

Sementara itu, pengujian pada babi di rumah potong hewan di Jakarta, Medan, Riau, Sumatera Utara, hingga Sulawesi Utara tidak menemukan antibodi virus Nipah. Artinya, kata Prof Dominicus, hingga kini sumber virus di Indonesia masih terbatas pada kelelawar.

“Penularan virus Nipah dapat terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi, seperti ludah, urine, atau droplet pernapasan. Konsumsi buah atau nira yang terkontaminasi gigitan atau air liur kelelawar juga menjadi jalur penularan yang penting. Selain itu, penularan antarmanusia dapat terjadi melalui kontak erat dengan cairan tubuh pasien,” paparnya.

Baca juga: Virus Nipah Telan Korban Jiwa, Waspada Gejalanya Ketika Terinfeksi, dari Demam sampai Sesak Napas

Kelompok yang paling berisiko antara lain peternak babi, pekerja rumah potong hewan, pengumpul nira atau gula aren, tenaga kesehatan, serta keluarga yang merawat pasien. 

Anak-anak juga dapat terinfeksi, terutama melalui konsumsi buah yang tidak higienis.

“Di desa sering ada anggapan buah yang digigit kelelawar itu manis. Betul manis, tapi ada bonus virusnya,” kata Prof. Dominicus.

Prof Dominicus mengatakan masa inkubasi virus Nipah berkisar antara 4 hingga 14 hari. 

Gejala awal sering kali menyerupai infeksi biasa, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan nyeri tenggorokan. 

Namun, penyakit dapat berkembang menjadi berat melalui dua jalur utama, gangguan sistem saraf dan gangguan pernapasan.

“Pasien dapat mengalami penurunan kesadaran, kejang, hingga pneumonia berat yang membutuhkan alat bantu napas. Diagnosis pasti hanya dapat ditegakkan melalui pemeriksaan PCR, yang saat ini masih terbatas pada laboratorium tertentu. Gejalanya sangat umum, sering kali di awal tidak terdeteksi. Ini yang menjadi tantangan besar,” ujarnya.

Hingga kini, lanjut Prof Dominicus, belum tersedia antivirus khusus untuk virus Nipah. 

Penanganan bersifat suportif, disesuaikan dengan gejala yang muncul. Pasien diberikan obat penurun demam, cairan, oksigen, hingga perawatan intensif bila diperlukan.

Terkait vaksin, Prof. Dominicus menyebutkan bahwa kandidat vaksin paling maju saat ini dikembangkan oleh Universitas Oxford dan telah memasuki fase dua uji klinis pada Desember 2025. Namun, vaksin tersebut diperkirakan belum akan tersedia dalam waktu dekat.

“Dalam tiga sampai lima tahun ke depan, kita kemungkinan masih belum punya vaksin Nipah,” jelasnya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved