Mengenal Virus Nipah: Cara Penularan, Gejala, dan Alasan Indonesia Tetap Waspada
Gejala awal sering kali menyerupai infeksi biasa, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan nyeri tenggorokan.
Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Siti Fatimah
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Munculnya laporan kasus virus Nipah di sejumlah negara seperti India dan Bangladesh kembali memantik perhatian dunia.
Virus yang dikenal memiliki tingkat kematian tinggi ini memang bukan penyakit baru, namun potensi penyebarannya membuat banyak negara, termasuk Indonesia, terus meningkatkan kewaspadaan.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sekaligus Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Prof. Dr. Dominicus Husada, dr., DTM&H., MCTM(TP)., Sp.A., Subsp.IPT., CTH, menjelaskan bahwa virus Nipah merupakan penyakit infeksi yang ditularkan dari hewan ke manusia atau zoonosis.
“Di media WHO, India, Bangladesh, dan negara-negara yang pernah terlibat wabah Nipah, banyak poster edukasi yang intinya sama, yaitu virus ini berasal dari hewan dan kemudian menular ke manusia,” ujar Prof. Dominicus saat wawancara virtual, Kamis (29/1/2026).
Prof Dominicus menjelaskan virus Nipah pertama kali diidentifikasi pada 1998 di Malaysia, tepatnya di sekitar Sungai Nipah, Negeri Sembilan.
Baca juga: Waspada Virus Nipah, Begini Cara Aman Konsumsi Buah dan Daging
Saat itu, penyakit ini sempat disangka sebagai Japanese encephalitis karena banyak menyerang sistem saraf. Namun kemudian diketahui bahwa penyebabnya adalah virus baru yang kini dikenal sebagai Henipavirus Nipah.
Virus ini memiliki “saudara dekat” bernama virus Hendra yang ditemukan di Queensland, Australia, beberapa tahun kemudian. Keduanya berada dalam satu genus yang dikenal sebagai Henipavirus, dengan perbedaan jalur penularan.
Virus Hendra umumnya ditularkan melalui kuda, sedangkan virus Nipah banyak terkait dengan babi dan hewan lain.
“Inang alamiah utama virus Nipah adalah kelelawar buah. Oleh karena itu, kelelawar menjadi hewan yang paling diawasi dalam konteks penyakit-penyakit baru di seluruh dunia,” jelas Prof. Dominicus.
Ia pun memaparkan sejak 1998, tercatat lebih dari 800 kasus virus Nipah di dunia, dengan konsentrasi utama hanya di lima negara, yakni Malaysia, Singapura, India, Bangladesh, dan Filipina.
“Tingkat kematian virus ini tergolong tinggi, berkisar antara 40 hingga 75 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan Covid-19 yang sekitar 1 persen,” ucapnya.
Meski Indonesia belum pernah melaporkan kasus Nipah pada manusia, kewaspadaan tetap tinggi.
Kementerian Kesehatan bahkan telah mengeluarkan edaran sejak beberapa tahun lalu sebagai langkah antisipasi.
“Indonesia memang belum mendeteksi satu pun kasus Nipah pada manusia. Tapi pada kelelawar buah, virus ini sudah ditemukan,” ungkap Prof. Dominicus.
| Tribun Jabar Bersilaturahmi ke Diskominfo Indramayu, Sepakat Lanjutkan Kolaborasi |
|
|---|
| Kopjas BLM Kolaborasi dengan BPR Indramayu Jabar Salurkan Kredit bagi Pensiunan ASN dan TNI/Polri |
|
|---|
| bank bjb Dukung Pertumbuhan Pedagang Lewat Program bjb Sambang Pasar |
|
|---|
| Pertamina Patra Niaga Regional JBB Beri Bantuan Warga Terdampak Bencana Longsor di Desa Pasirlangu |
|
|---|
| Pertamina Patra Niaga Regional JBB Perkuat Mitigasi Bencana lewat Penanaman 1.300 Pohon Saninten |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ilustrasi-virus-corona_3005.jpg)