Makan Bergizi Gratis Berujung Keracunan, Bagaimana Seharusnya Penyajian MBG?
Dr. Yogi Prawira, SpA, Subsp. ETIA(K), menambahkan, makanan yang sudah matang sebaiknya segera dikonsumsi.
Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Siti Fatimah
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kasus keracunan massal yang bersumber dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah Jawa Barat memunculkan banyak pertanyaan terkait standar keamanan pangan.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah pola penyiapan makanan yang kerap dimasak pada malam hari, kemudian baru dikonsumsi anak-anak di sekolah menjelang siang.
Praktik ini dinilai rawan, karena waktu yang panjang antara proses memasak dan konsumsi berpotensi besar memicu pertumbuhan bakteri berbahaya.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), menegaskan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme penyediaan makanan dalam program MBG.
Baca juga: Keracunan MBG: Dokter Ingatkan Jangan Sembarang Beri Obat Antidiare, Ini Alasannya!
“Kalau idealnya, kenapa tidak menghidupkan kantin-kantin sekolah yang sudah ada? Dengan begitu makanan bisa disiapkan mendekati waktu makan siang sehingga masih hangat. Karena kalau disiapkan malam lalu dimakan siang, ada jeda waktu panjang yang berisiko. Ini sudah masuk ke ranah teori keamanan pangan,” kata Dr. Piprim saat wawancara virtual, Jumat (26/9/2025).
Ia menegaskan, standar keamanan pangan tidak boleh ditawar-tawar.
“Tujuannya mulia, tapi kalau tata caranya tidak sesuai standar keamanan pangan, akibatnya bisa fatal. Jangan ada negosiasi di sini, karena menyangkut nyawa anak-anak,” tegasnya.
Sementara itu Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak (UKK ETIA) IDAI, Dr. Yogi Prawira, SpA, Subsp. ETIA(K), menambahkan, makanan yang sudah matang sebaiknya segera dikonsumsi.
Jika terpaksa disimpan pada suhu ruang, waktu aman hanya sekitar 2 jam, dan maksimal 4 jam.
“Kalau sudah lewat 4 jam di suhu ruangan, risiko pertumbuhan bakteri meningkat tajam. Itulah yang kemudian bisa menyebabkan kontaminasi dan keracunan,” ujar Dr. Yogi.
Jika makanan tidak langsung dikonsumsi, maka harus disimpan di lemari pendingin dengan wadah tertutup agar aman sebelum disantap kembali.
Meski idealnya keracunan dicegah, sekolah juga perlu memahami langkah praktis pertolongan pertama.
Baca juga: Dapur MBG di Cirebon Didatangi DPRD, Pastikan Aktivitas dan Detail Pengolahannya
Menurut Dr. Yogi, makanan atau minuman yang dicurigai sebagai penyebab keracunan harus segera dibuang.
“Jangan disayang-sayang, apalagi dibagi lagi, harus langsung diamankan,” ujarnya.
| Sidang Kasus Penipuan Food Tray MBG Sukabumi: Empat Saksi Diperiksa, Kuasa Hukum Sebut Alot |
|
|---|
| Tegas! IDAI Jabar Sebut Vaksin Campak Sebabkan Autis Adalah Hoaks, Ini Penjelasan Prof Anggraini |
|
|---|
| IDAI Jabar Tegaskan Vaksin Campak Tidak Sebabkan Autisme, Justru Beri Perlindungan |
|
|---|
| Jangan Anggap Sepele Sakit Campak, IDAI Jabar Ungkap Risiko Komplikasi hingga 20 Tahun Kemudian |
|
|---|
| BEM FISIP Unpas Tolak Kampus Jadi Dapur MBG, Dinilai Geser Fungsi Akademik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/porsi-makan-menu-mbg-majalengka.jpg)