Kamis, 14 Mei 2026

Era Digital dan Tekanan Sosial, Bagaimana Peran Orang Tua Mendampingi Remaja

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Masa remaja kerap disebut sebagai fase paling penuh tantangan, baik bagi anak maupun orang tuanya.

Tayang:
Penulis: Nappisah | Editor: bisnistribunjabar
Istimewa
Era Digital dan Tekanan Sosial, Bagaimana Peran Orang Tua Mendampingi Remaja? 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Masa remaja kerap disebut sebagai fase paling penuh tantangan, baik bagi anak maupun orang tuanya. Fase transisi dari kanak-kanak menuju dewasa ini bukan hanya ditandai dengan perubahan biologis, tetapi juga pergolakan emosi dan pencarian identitas diri. Menurut Fahmi Windia Rahayu, Psikolog dari Santosa Hospital Bandung Central, peran orang tua menjadi kunci agar anak dapat melewati masa remaja secara sehat dan konstruktif.

Ia menegaskan bahwa masa remaja merupakan periode penting karena anak sedang berusaha menemukan identitas dirinya. Dalam proses ini, remaja terdorong untuk mencoba berbagai hal baru sekaligus membangun jati diri.“Pada fase ini, remaja sering mengalami kebingungan identitas dan menunjukkan perilaku yang kurang terkontrol. Luapan emosi mereka kerap membuat orang tua jengkel sehingga hubungan bisa menjadi renggang,” ujarnya, Senin (25/8/2025).

Fahmi Windia Rahayu, Psikolog dari Santosa Hospital Bandung Central
Fahmi Windia Rahayu, S.Psi,M.Psi, Psikolog

Menurut Windi, ketika konflik dengan orang tua terjadi, anak cenderung mengasingkan diri atau mencari dukungan dari komunitas di luar keluarga. Kondisi ini berpotensi menimbulkan masalah baru. “Kalau lingkungan yang dipilih negatif, risiko kenakalan remaja semakin besar,” katanya.

Untuk itu, ia menekankan pentingnya peran keluarga. Orang tua, kata Windi, perlu memberikan dukungan sosial, melatih coping skill, serta meningkatkan kepercayaan diri anak agar mereka dapat melewati masa transisi dengan baik.

Ia menjelaskan bahwa masa remaja ditandai oleh perubahan emosional dan sosial yang kompleks. Ketidakstabilan emosi, kata dia, merupakan bagian alami dari transisi menuju kedewasaan.

“Remaja cenderung mengalami perubahan emosi yang cepat dan intens, seperti mudah marah, cemas, malu, atau senang secara tiba-tiba. Faktor biologis, seperti perubahan hormonal, serta pengaruh teman sebaya dan lingkungan sosial, berperan besar dalam kondisi ini,” ungkap Windi.

Santosa Hospital Bandung Central
Santosa Hospital Bandung Central (Istimewa)

Ia menambahkan, ketidakstabilan tersebut membuat banyak remaja kesulitan mengontrol perasaan sehingga rentan bertindak impulsif, agresif, atau justru menarik diri. Meski demikian, sebagian remaja sudah mulai menunjukkan emosi moral, seperti rasa bersalah, malu, dan empati. Seiring bertambahnya usia, emosi remaja biasanya lebih stabil.

Dari sisi sosial, remaja memiliki kebutuhan kuat untuk diterima oleh kelompok sebaya. Namun, situasi ini juga membuat mereka rentan terhadap tekanan sosial maupun pengaruh negatif. “Remaja sedang berjuang membentuk identitas dirinya. Media sosial, budaya populer, dan lingkungan sekitar sangat mempengaruhi proses ini,” katanya.

Windi menekankan, keluarga, sekolah, dan bimbingan konseling memiliki peran penting dalam mendampingi remaja. Dukungan emosional, penanaman nilai, serta pembinaan perilaku sosial yang sehat dapat membantu anak melewati fase tersebut.

Terkait peran orang tua, ia menegaskan bahwa keluarga merupakan pendukung utama ketahanan (resilience) anak. “Orang tua harus mampu memberikan rasa aman secara emosional, membantu anak mengembangkan strategi koping, serta mendorong interaksi positif di sekolah maupun komunitas,” ujarnya.

Menurut Windi, pola asuh demokratis terbukti efektif untuk anak remaja karena mendorong keterbukaan sekaligus menekan perilaku menyimpang. Orang tua juga tetap bisa menjaga kedekatan dengan anak, meski mereka mulai mencari kemandirian.

“Caranya dengan membangun komunikasi terbuka dan hubungan emosional yang hangat, sambil memberi ruang bagi anak untuk mandiri. Dengan begitu, anak merasa dipercaya, tapi tetap dekat dengan orang tua,” tutur Windi.Selain itu, memasuki usia remaja, anak menghadapi perubahan besar baik secara fisik, emosional, maupun sosial. Menurut Windi, orang tua memegang peran penting dalam mendampingi masa transisi ini, salah satunya melalui komunikasi yang terbuka.

“Komunikasi yang terbuka sangat penting karena membuat orang tua dapat mengenali perubahan emosi, stres, atau masalah mental yang muncul. Kuncinya adalah membuka dialog tanpa menghakimi, sehingga anak merasa nyaman berbicara saat menghadapi tekanan,” jelasnya.

Ia menambahkan, salah satu kesalahan umum orang tua adalah masih menerapkan pola asuh otoriter yang terlalu mengontrol. Sikap ini membuat anak enggan terbuka dan bahkan berisiko melakukan perilaku menyimpang. “Banyak orang tua juga mengabaikan gejala kecemasan atau depresi pada anak, padahal mood swing yang berlebihan bisa jadi tanda awal gangguan mental,” ujarnya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved