Minggu, 3 Mei 2026

Waspada Cacing Gelang, Parasit Lama yang Masih Mengintai

cacing gelang, adalah salah satu parasit yang paling sering menyerang manusia. 

Tayang:
Instagram @rumah_teduh_sahabat_iin
CACINGAN AKUT - Tangkapan layar Raya (4) balita yang meninggal dunia karena cacingan akut di Sukabumi, Jawa Barat, Tampak foto rontgen tubuh Raya dipenuhi cancing. - Kasus Raya turut disorot Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), cegah kasus Raya tak terulang, KPAI dorong RUU Pengasuhan Anak 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Meninggalnya seorang anak perempuan, Raya (4) di RSUD R Syamsudin, Sukabumi yang terinfeksi cacing gelang (ascaris lumbricoides) menjadi salah satu kasus yang paling parah karena keterlambatan penanganan.

Dokter spesialis anak di Santosa Hospital Bandung Central, dr. Indra Sandinirwan, Sp.A, menjelaskan bahwa cacing gelang, adalah salah satu parasit yang paling sering menyerang manusia. 

Penyakit yang ditimbulkannya disebut askariasis, cacing ini termasuk kelompok soil-transmitted helminth (cacing yang menular lewat tanah), bersama dengan cacing tambang dan cacing cambuk.

“Meski terdengar seperti penyakit masa lalu, kenyataannya askariasis masih banyak ditemukan di negara tropis, termasuk Indonesia. WHO memperkirakan miliaran orang di dunia pernah terinfeksi cacing ini setiap tahunnya,” kata dokter Indra saat dihubungi, Kamis (21/8/2025).

Baca juga: Dedi Mulyadi Tegur Bupati Sukabumi Soal Balita yang Meninggal Akibat Tubuhnya Jadi Sarang Cacing

Dokter sekaligus dosen di Fakultas Kedokteran UPI ini menjelaskan penularan ascariasis terjadi ketika seseorang menelan telur cacing yang ada di tanah atau makanan terkontaminasi. 

“Hal ini sering terjadi di lingkungan dengan sanitasi buruk, misalnya buang air besar di tanah terbuka atau penggunaan tinja sebagai pupuk. Setelah masuk ke tubuh, telur menetas di usus, larva kemudian menembus dinding usus, ikut aliran darah menujuhati, lalu bermigrasi ke paru-paru,” kata dr Indra.

“Dari sana, larva terbawa ke tenggorokan, tertelan kembali, dan akhirnya tumbuh dewasa di usus halus. Proses ini berlangsung sekitar tiga minggu,”lanjutnya.

Ia menjelaskan banyak orang yang terinfeksi tidak merasakan keluhan sama sekali. 

Namun, bila jumlah cacing banyak, gejala bisa cukup mengganggu, seperti gangguan pencernaan dengan gejala nyeri perut, mual, muntah, kembung, diare, atau penurunan nafsu makan.

Jumlah cacing yang banyak juga bisa mengganggu pertumbuhan, dokter Indra menyebutkan pada anak, infeksi berat bisa menyebabkan gizi buruk karena penyerapan nutrisi terganggu

Cacing ini juga dapat mengganggu pernapasan seperti batuk, sesak, mengi, hingga batukdarah akibat larva yang melewati paru-paru (dikenal sebagai sindrom Loeffler).

“Ketika komplikasi serius, cacing dewasa bisa masuk ke saluran empedu atau pankreas, menyebabkan radang dan sumbatan. Bahkan dapat menimbulkan penyumbatan usus, apendisitis, atau intususepsi. Anak-anak lebih rentan terhadap komplikasi ini,” ucapnya.

Ia pun menyebutkan dalam penanganannya penyakit ini perlu konsumsi obat yang bisa membunuh cacing dewasa.

Pengobatan biasanya perlu diulang setelah 1–3 bulan untuk memastikan larva yang baru tumbuh juga ikut mati. 

“Pada kasus berat, misalnya terjadi sumbatan usus, pasien mungkin membutuhkan perawatan di rumah sakit hingga tindakan operasi. Setelah operasi, terapi obat cacing tetap diberikan untuk memastikan infeksi benar-benar tuntas,” kata dia.

Baca juga: RSUD Syamsudin Jelaskan Kondisi Raya, Bocah yang Meninggal dengan Tubuh Penuh Cacing di Sukabumi

Ia pun menyebutkan jika askariasis ini tentu bisa dicegah dengan cara sederhana namun harus konsisten seperti cuci tangan dengan sabun setiap habis buang air dan sebelum makan, cuci, kupas, atau masak buah serta sayur hingga bersih, gunakan alas kaki saat bermain atau bekerja di tanah,hindari buang air besar di sembarang tempat; gunakan jamban atau WC, jangan gunakan tinja manusia sebagai pupuk,dan ikut serta dalam program pemberian obat cacing massal, terutama di daerah endemik.

Meski jarang berakibat fatal, lanjutnya, askariasis tetap memberi dampak besar pada kesehatan masyarakat.

Infeksi kronis dapat membuat anak mengalami gizi buruk, pertumbuhan terhambat, dan gangguan belajar. 

Tantangan semakin berat di daerah pedesaan, di mana akses terhadap air bersih, sanitasi, serta sarana kesehatan masih terbatas. 


“Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa. Dengan menjaga kebersihan diri, memperbaiki sanitasi lingkungan, serta memastikan pengobatan rutin, kita bisa menekan angka kejadian askariasis,” ucapnya.

Dokter Indra pun memberikan pesan sederhana namun penting, yaitu jangan anggap remeh cacingan, karena dapat merugikan masa depan anak-anak kita.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved