Jumat, 24 April 2026

Diskusi Geopolitik di UI Bahas Isu Perang Dunia, Anak Muda Diminta Siap Hadapi Risiko

Diskusi IR Youth Talks#1 di Universitas Indonesia mengangkat keresahan soal potensi perang dunia dengan pendekatan yang lebih rasional dan edukatif.

|
Tribun Jabar
IR Youth Talks#1 yang diinisiasi oleh Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) Chapter Jabodetabek. Kegiatan tersebut berlangsung di Auditorium Suwantji Sisworahardjo, FISIP Universitas Indonesia. 

Broto menjelaskan bahwa dunia saat ini tengah dihadapkan pada berbagai krisis yang saling berkaitan, mulai dari konflik geopolitik, persoalan energi, hingga tekanan ekonomi global.

Dalam penjelasannya, ia juga menyinggung peran Donald Trump sebagai faktor yang mempercepat munculnya ketidakpastian global melalui kebijakan-kebijakan yang memperkuat instabilitas dalam sistem internasional.

Sebagai langkah antisipatif, Broto memperkenalkan konsep resilience-based hedging. Strategi ini menggabungkan fleksibilitas dalam menjalin hubungan luar negeri dengan penguatan kapasitas domestik secara berkelanjutan.

Pendekatan tersebut dinilai krusial agar Indonesia tidak hanya mampu beradaptasi di tengah rivalitas global, tetapi juga memiliki daya tahan untuk menyerap dampak dari berbagai krisis yang muncul.

IR Youth Talks menjadi ruang temu antara pembuat kebijakan, akademisi, dan generasi muda dalam satu wadah dialog yang setara. Program ini merupakan kolaborasi enam kampus anggota AIHII Chapter Jabodetabek, yakni Universitas Indonesia, Universitas Pertamina, Universitas Bina Nusantara, Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama, Universitas Jayabaya, dan Universitas Budi Luhur.

Dalam sambutannya, Jeanne Francoise selaku dosen Hubungan Internasional dari President University yang mewakili AIHII menegaskan bahwa forum ini bertujuan untuk mendekatkan kajian Hubungan Internasional kepada anak muda lintas kampus.

Diskusi ini sekaligus menunjukkan bahwa isu global tidak hanya menjadi konsumsi kalangan elit atau akademisi, melainkan penting untuk dipahami oleh generasi muda yang akan merasakan langsung dampaknya di masa depan.

Menjelang akhir diskusi, Anggy kembali mengingatkan pentingnya menjaga kualitas ruang dialog publik. Ia menekankan bahwa kritik tetap diperlukan, namun harus disampaikan dengan cara yang tepat dan dalam forum yang sesuai.

“Kritik itu boleh, bahkan perlu, tetapi harus disampaikan dengan sopan dan di forum yang tepat,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa keterlibatan generasi muda dalam isu publik tidak selalu harus ditunjukkan melalui sikap yang keras, melainkan dapat dimulai dari pemahaman yang matang serta penyampaian gagasan secara konstruktif.

“Satu hal yang menjadi jelas adalah ketidakpastian global memang nyata, tetapi respons terhadapnya tidak harus dilandasi oleh kekhawatiran semata. Justru, pemahaman yang lebih utuh dan kesiapan yang matang menjadi kunci dalam menghadapi apapun yang mungkin terjadi ke depan," tutupnya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved