Jumat, 24 April 2026

Diskusi Geopolitik di UI Bahas Isu Perang Dunia, Anak Muda Diminta Siap Hadapi Risiko

Diskusi IR Youth Talks#1 di Universitas Indonesia mengangkat keresahan soal potensi perang dunia dengan pendekatan yang lebih rasional dan edukatif.

|
Tribun Jabar
IR Youth Talks#1 yang diinisiasi oleh Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) Chapter Jabodetabek. Kegiatan tersebut berlangsung di Auditorium Suwantji Sisworahardjo, FISIP Universitas Indonesia. 
Ringkasan Berita:
  • Diskusi IR Youth Talks#1 di Universitas Indonesia mengangkat keresahan soal potensi perang dunia dengan pendekatan yang lebih rasional dan edukatif. 
  • Para narasumber menekankan pentingnya kesiapan nasional, ketahanan ideologi, serta pemahaman terhadap dinamika sistem global yang kompleks. 
  • Anak muda didorong untuk terlibat secara konstruktif melalui pemahaman mendalam, bukan sekadar kekhawatiran.

TRIBUNJABAR.ID, DEPOK -  Percakapan soal potensi pecahnya perang dunia terus beredar luas, baik di media sosial maupun dalam obrolan sehari-hari. Kegelisahan itulah yang kemudian menjadi pemantik utama dalam gelaran IR Youth Talks#1 yang diinisiasi oleh Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) Chapter Jabodetabek. 

Kegiatan tersebut berlangsung di Auditorium Suwantji Sisworahardjo, FISIP Universitas Indonesia, 21 April 2026 dan menghadirkan diskusi terbuka mengenai situasi global terkini.

Forum yang mengangkat tema “Indonesia dalam Dinamika Geopolitik Global” ini diawali oleh Anggy Pasaribu, seorang jurnalis sekaligus founder "Story of Anggy” yang juga lulusan Hubungan Internasional Universitas Pelita Harapan.

Ia memancing diskusi dengan pertanyaan yang sederhana namun relevan, yakni apakah kekhawatiran terkait perang dunia dalam waktu dekat memang memiliki dasar yang kuat.

Namun, alih-alih menekankan jawaban pasti, Anggy justru mengarahkan peserta untuk memahami persoalan global secara lebih jernih dan tidak terburu-buru menyimpulkan.

Menjawab keresahan tersebut, Brigjen TNI Aloysius Nugroho Santoso yang menjabat sebagai Direktur Kajian Ideologi dan Politik Lemhannas RI menekankan agar generasi muda tidak terjebak dalam spekulasi mengenai perang dunia. Ia menilai fokus seharusnya diarahkan pada kesiapan Indonesia dalam menghadapi berbagai kemungkinan krisis global yang bisa terjadi kapan saja.

“Kuncinya bukan menebak perang dunia, tetapi memastikan kita siap menghadapi apa pun yang terjadi,” ujarnya.

Aloysius kemudian memaparkan bahwa Lemhannas secara sistematis melakukan pemetaan terhadap potensi ancaman global melalui pendekatan net assessment, perancangan skenario, hingga pengukuran tingkat kerentanan nasional.

Dari hasil kajian tersebut, terlihat bahwa Indonesia memiliki sejumlah titik rentan, termasuk ketergantungan terhadap pasokan energi dan pangan dari luar negeri, serta posisi strategis di tengah rivalitas negara besar di kawasan Indo-Pasifik.

Situasi ini membuat setiap gejolak global berpotensi langsung berdampak ke dalam negeri, mulai dari fluktuasi harga energi, gangguan stabilitas ekonomi, hingga aspek keamanan nasional.

Dalam konteks tersebut, Aloysius juga menegaskan pentingnya Pancasila sebagai fondasi utama ketahanan bangsa. Ia menilai bahwa kekuatan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh aspek ekonomi atau militer, tetapi juga oleh kekokohan ideologi yang mampu menjaga persatuan di tengah tekanan global.

“Kalau fondasi ideologi kita kuat, kita tidak mudah goyah meskipun tekanan dari luar besar,” jelasnya.

Pandangan lain disampaikan oleh Broto Wardoyo selaku Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia. Ia mengajak peserta untuk melihat dinamika global dengan pendekatan yang lebih konseptual dan tidak semata-mata reaktif.

Menurutnya, konflik yang terjadi saat ini lebih tepat dipahami sebagai bagian dari transformasi sistem internasional, bukan sebagai indikator pasti menuju perang dunia.

“Yang kita lihat sekarang itu seperti potongan potongan krisis yang saling terhubung, tetapi yang sulit adalah membaca arahnya akan ke mana,” katanya.

Broto menjelaskan bahwa dunia saat ini tengah dihadapkan pada berbagai krisis yang saling berkaitan, mulai dari konflik geopolitik, persoalan energi, hingga tekanan ekonomi global.

Dalam penjelasannya, ia juga menyinggung peran Donald Trump sebagai faktor yang mempercepat munculnya ketidakpastian global melalui kebijakan-kebijakan yang memperkuat instabilitas dalam sistem internasional.

Sebagai langkah antisipatif, Broto memperkenalkan konsep resilience-based hedging. Strategi ini menggabungkan fleksibilitas dalam menjalin hubungan luar negeri dengan penguatan kapasitas domestik secara berkelanjutan.

Pendekatan tersebut dinilai krusial agar Indonesia tidak hanya mampu beradaptasi di tengah rivalitas global, tetapi juga memiliki daya tahan untuk menyerap dampak dari berbagai krisis yang muncul.

IR Youth Talks menjadi ruang temu antara pembuat kebijakan, akademisi, dan generasi muda dalam satu wadah dialog yang setara. Program ini merupakan kolaborasi enam kampus anggota AIHII Chapter Jabodetabek, yakni Universitas Indonesia, Universitas Pertamina, Universitas Bina Nusantara, Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama, Universitas Jayabaya, dan Universitas Budi Luhur.

Dalam sambutannya, Jeanne Francoise selaku dosen Hubungan Internasional dari President University yang mewakili AIHII menegaskan bahwa forum ini bertujuan untuk mendekatkan kajian Hubungan Internasional kepada anak muda lintas kampus.

Diskusi ini sekaligus menunjukkan bahwa isu global tidak hanya menjadi konsumsi kalangan elit atau akademisi, melainkan penting untuk dipahami oleh generasi muda yang akan merasakan langsung dampaknya di masa depan.

Menjelang akhir diskusi, Anggy kembali mengingatkan pentingnya menjaga kualitas ruang dialog publik. Ia menekankan bahwa kritik tetap diperlukan, namun harus disampaikan dengan cara yang tepat dan dalam forum yang sesuai.

“Kritik itu boleh, bahkan perlu, tetapi harus disampaikan dengan sopan dan di forum yang tepat,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa keterlibatan generasi muda dalam isu publik tidak selalu harus ditunjukkan melalui sikap yang keras, melainkan dapat dimulai dari pemahaman yang matang serta penyampaian gagasan secara konstruktif.

“Satu hal yang menjadi jelas adalah ketidakpastian global memang nyata, tetapi respons terhadapnya tidak harus dilandasi oleh kekhawatiran semata. Justru, pemahaman yang lebih utuh dan kesiapan yang matang menjadi kunci dalam menghadapi apapun yang mungkin terjadi ke depan," tutupnya.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved