Dolar Menguat dan BI Rate Naik, Eksportir Jabar Untung Sesaat Tapi Tertekan dalam Jangka Panjang
Penguatan dolar AS dan kenaikan BI Rate menjadi 5,50 persen dinilai GPEI Jawa Barat hanya memberikan keuntungan sesaat bagi eksportir.
Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
Ringkasan Berita:
- Penguatan dolar AS dan kenaikan BI Rate menjadi 5,50 persen dinilai GPEI Jawa Barat hanya memberikan keuntungan sesaat bagi eksportir.
- Keuntungan berupa windfall ini segera sirna karena industri manufaktur lokal, seperti tekstil dan alas kaki, masih bergantung hingga 70 persen pada bahan baku impor.
- Eksportir kini kesulitan menghitung harga jual dan menyusun kontrak dagang akibat volatilitas kurs.
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Menguatnya dolar Amerika Serikat dan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5,50 persen kerap dianggap sebagai kabar baik bagi eksportir.
Namun, pelaku ekspor di Jawa Barat justru melihat kondisi ini sebagai keuntungan sesaat yang menyimpan tekanan besar dalam jangka panjang.
Sekretaris Eksekutif DPD Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Barat, Rudi Martono, mengatakan mayoritas eksportir memang bisa menikmati keuntungan sementara akibat pelemahan rupiah.
Namun, keuntungan itu tidak berlangsung lama karena industri ekspor masih bergantung pada bahan baku impor.
“Mayoritas eksportir Jawa Barat terutama yang anggota GPEI Jawa Barat, kondisi ini itu menguntungkan sesaat. Tapi merugikannya jangka panjang. Jadi keuntungannya sesaat, tekanannya lebih bersifat jangka panjang,” kata Rudi saat dihubungi, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, pelemahan rupiah terhadap dolar dan kenaikan BI Rate menciptakan “double impact” bagi eksportir.
“Memang ada semacam windfall, keuntungan sesaat melemahnya rupiah bagi eksportir yang terutama tenaga kerja membayar pakai rupiah, pendapatan mendapatkan dolar. Tapi bahan baku kan masih impor,” ujarnya.
Ia menjelaskan, keuntungan hanya dirasakan ketika pelaku usaha masih menggunakan stok bahan baku lama yang dibeli saat nilai tukar belum setinggi sekarang.
“Kalau bahan baku impornya itu dia mengambil stok lama, ya dia untung. Tapi setelah itu habis, kan harus beli lagi. Nah, beli kondisi sudah harga tinggi, ya sama juga bohong,” katanya.
Rudi menyebut kondisi tersebut terjadi hampir di seluruh industri manufaktur anggota GPEI Jawa Barat.
Sektor furnitur yang mendominasi sekitar 50 persen anggota GPEI masih bergantung pada impor sekitar 30 persen bahan bakunya.
Sementara itu, ketergantungan impor lebih tinggi terjadi pada industri alas kaki dan tekstil.
“Untuk alas kaki, ketergantungan impor bahan baku itu tinggi, 50 sampai 60 persen. Kemudian tekstil garmen lebih tinggi lagi, mencapai 60 sampai 70 persen,” ujarnya.
Karena itu, GPEI lebih membutuhkan stabilitas nilai tukar dibandingkan dolar yang tinggi tetapi berfluktuasi.
| Operasional Bus Membengkak Akibat Rupiah Lemah, Organda Ciamis Sebut Kenaikan Tarif Bisa Terjadi |
|
|---|
| BI Rate Naik Jadi 5,50 Persen, Pengusaha Pilih Bertahan dan Tekan Pengeluaran |
|
|---|
| Pelemahan Rupiah Berpotensi Dorong Kenaikan Tarif Bus di Bandung hingga 10 Persen |
|
|---|
| Rupiah Terus Melemah Pukul Perekonomian Masyarakat di Pangandaran, Warga: Belanja Jadi Lebih Berat |
|
|---|
| Nilai Tukar Rupiah Melemah, Harga Oli dan Suku Cadang di Bandung Terus Merangkak Naik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Ilustrasi-nilai-tukar-rupiah-kurs-rupiah-dan-dollar-AS.jpg)