Rabu, 13 Mei 2026

Rupiah Tembus Rp 17.500 per Dolar AS, Apindo Jabar: Dunia Usaha Mulai Tertekan

Nilai tukar rupiah mencetak rekor terendah di level Rp17.500 per dolar AS pada Selasa (12/5/2026), memicu tekanan berat bagi industri di Jawa Barat.

Tayang:
Kompas.com
Ilustrasi nilai tukar rupiah, kurs rupiah dan dollar AS. (KOMPAS.com/MAULANA MAHARDHIKA) 

Ringkasan Berita:
  • Nilai tukar rupiah mencetak rekor terendah di level Rp17.500 per dolar AS pada Selasa (12/5/2026), memicu tekanan berat bagi industri di Jawa Barat. 
  • Ketua Apindo Jabar, Ning Wahyu, menyatakan pelaku usaha kini terjepit antara kenaikan biaya bahan baku impor dan lemahnya daya beli masyarakat. 
  • Untuk bertahan, pengusaha fokus pada langkah efisiensi, mencari alternatif bahan baku lokal, serta berharap pemerintah segera menstabilkan kurs demi menjaga lapangan kerja.

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) kembali mencatat pelemahan tajam pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Rupiah bahkan menembus angka Rp 17.500 per dolar AS, level terendah sepanjang sejarah perdagangan mata uang Indonesia.

Kondisi ini mulai memberikan tekanan serius bagi dunia usaha di Jawa Barat. Pelaku industri, terutama yang masih bergantung pada bahan baku impor dan transaksi menggunakan dolar AS, kini menghadapi kenaikan biaya produksi di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Barat, Ning Wahyu, mengatakan pelemahan rupiah membuat dunia usaha berada dalam situasi yang tidak mudah. 

Pengusaha harus menjaga efisiensi operasional sekaligus mempertahankan keberlangsungan usaha dan tenaga kerja.

“Nilai tukar rupiah yang terus melemah tentu mulai dirasakan cukup berat oleh dunia usaha, terutama industri yang masih bergantung pada bahan baku impor, mesin, maupun pembayaran dalam dolar AS,” kata Ning Wahyu saat dihubungi, Selasa (12/5/2026).

Ia menjelaskan, tekanan biaya produksi terus meningkat, sementara kondisi pasar domestik belum sepenuhnya kuat. Situasi ini membuat banyak pelaku usaha harus berhitung lebih ketat dalam menjalankan bisnisnya.

“Tekanan biaya produksi meningkat, sementara daya beli masyarakat di dalam negeri juga belum sepenuhnya pulih. Kondisi ini membuat banyak pelaku usaha berada dalam posisi harus menjaga keseimbangan antara efisiensi, menjaga operasional, dan mempertahankan tenaga kerja,” ujarnya.

Menurut Ning Wahyu, dampak yang mulai dirasakan pengusaha saat ini antara lain kenaikan harga bahan baku dan biaya logistik. 

Selain itu, margin keuntungan usaha juga semakin tertekan akibat biaya operasional yang membengkak.

“Yang mulai dirasakan pengusaha saat ini antara lain kenaikan harga bahan baku dan logistik, margin usaha yang semakin tertekan, serta ketidakpastian dalam perencanaan bisnis dan investasi. Bagi industri padat karya, tekanan ini menjadi tantangan yang sangat serius karena di satu sisi biaya naik, namun pasar belum tentu mampu menerima kenaikan harga jual,” katanya.

Di tengah kondisi tersebut, pelaku usaha disebut terus mencari berbagai cara agar dapat bertahan. Langkah efisiensi menjadi salah satu strategi utama yang dilakukan perusahaan untuk menjaga stabilitas usaha.

“Di tengah situasi ini, para pengusaha berusaha tetap bertahan dengan melakukan berbagai langkah efisiensi, memperkuat pasar domestik, mencari alternatif bahan baku lokal, melakukan penyesuaian strategi produksi, hingga lebih berhati-hati dalam ekspansi dan pengelolaan cash flow,” ucap Ning Wahyu.

Ia juga berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas ekonomi nasional, termasuk kestabilan nilai tukar rupiah, agar dunia usaha memiliki kepastian dalam menjalankan kegiatan industri dan investasi.

“Dunia usaha juga berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar, memberikan kepastian kebijakan, serta menciptakan iklim usaha yang kondusif agar industri tetap bisa bergerak dan menjaga lapangan pekerjaan,” katanya.

Ning Wahyu menegaskan, pelaku usaha akan terus berupaya bertahan di tengah tekanan ekonomi global yang terjadi saat ini. 

“Pada prinsipnya, pelaku usaha akan terus berjuang menghadapi situasi ini, namun dibutuhkan sinergi kuat antara pemerintah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan agar tekanan global tidak semakin membebani perekonomian nasional,” ujar Ning Wahyu.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved