Sabtu, 13 Juni 2026

Pengamat ITB Kupas Akar Pemadaman Listrik Jawa-Bali dan Ancaman El Nino Godzila

Pengamat sistem tenaga listrik ITB, Kevin Marojahan Banjarnahor, menilai pemadaman listrik di Jawa-Bali dipicu gangguan mendadak pembangkit.

Tayang:
istimewa
PLTA Jatigede. (dok PLN) - Pengamat sistem tenaga listrik ITB, Kevin Marojahan Banjarnahor, mengingatkan potensi El Nino Godzila dapat meningkatkan beban listrik sekaligus menekan pasokan dari PLTA. 
Ringkasan Berita:
  • Pengamat sistem tenaga listrik ITB, Kevin Marojahan Banjarnahor, menilai pemadaman listrik di Jawa-Bali dipicu gangguan mendadak pembangkit serta penurunan kemampuan produksi akibat terbatasnya cadangan bahan bakar. 
  • Pemadaman bergilir disebut menjadi langkah menjaga kecukupan cadangan agar tak terjadi blackout. 
  • Ia juga mengingatkan potensi El Nino Godzila dapat meningkatkan beban listrik sekaligus menekan pasokan dari PLTA.

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Fenomena pemadaman listrik yang belakangan terjadi di sejumlah wilayah Pulau Jawa, termasuk Kota Bandung dan daerah sekitarnya, mendapat perhatian dari pengamat sistem tenaga listrik Institut Teknologi Bandung (ITB), Kevin Marojahan Banjarnahor.

Menurut Kevin, gangguan tersebut tidak hanya dipicu persoalan di Jawa Barat. Ia menilai banyak pembangkit di sistem Jawa-Bali tengah mengalami force outage atau gangguan mendadak yang tidak direncanakan. Selain itu, sebagian pembangkit juga mengalami derating, yakni penurunan kemampuan produksi listrik dibanding kapasitas normalnya.

"Kemampuan menurunnya ini diakibatkan bahan bakar yang cadangannya berkurang, semisal pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Jawa dan Bali ini memang pembangkit independent power producer (IPP) atau pembangkit listrik swasta cukup banyak di atas 60 persen, maka IPP atau pembangkit PLN lainnya terutama yang berbahan bakar fosil dan minyak, cadangan bahan bakarnya agak sedikit dan berakibat menjadi berkurang (derating), seperti PLTU kalau sempat habis bahan bakar, maka untuk menyala lagi butuh waktu yang lama bisa dua hari. Jadi, biasanya jika bahan bakarnya sudah menipis maka dengan sengaja tak bisa bekerja sampai 100 persen," katanya saat dihubungi, Jumat (12/6/2026).

Ia menjelaskan, kondisi pembangkit yang tetap beroperasi tetapi tidak dalam kapasitas maksimal membuat pasokan listrik ikut menyusut. Dalam teori operasi sistem tenaga listrik, kata Kevin, operator seharusnya menyiapkan cadangan daya agar sistem tetap aman ketika terjadi gangguan.

"Jika bebannya 20 ribu, kita enggak boleh siapkan pembangkit pas-pasan, melainkan harus ditambah sedikit sebagai cadangan bila terjadi gangguan jangan sampai blackout. Maka, salahsatu upaya untuk menjamin bahwa cadangannya cukup itu caranya ya dengan menggunakan pemadaman bergilir. Beban mau enggak mau dikurangi supaya cadangannya cukup dan jangan sampai gangguan sedikit menjadi blackout," katanya.

Menurut Kevin, pengurangan beban melalui pemadaman bergilir umumnya dilakukan ketika konsumsi listrik sedang berada pada titik tinggi. Hal itu karena sistem kelistrikan harus memiliki cadangan daya setiap saat secara real time.

"Bebannya listrik Jawa dan Bali tingginya itu waktu siang pukul 14.00 WIB dan malam pukul 18.00 sampai 22.00 WIB. Mungkin dilihat fenomena sekarang banyak pemadaman direntang waktu itu," ujarnya.

Lebih jauh, Kevin mengungkapkan bahwa pembangkit berbasis batubara maupun geotermal yang banyak beroperasi di Jawa Barat dan Banten tergolong sebagai pembangkit beban dasar. Jenis pembangkit tersebut dirancang untuk bekerja secara terus-menerus dan tidak ideal jika sering dimatikan lalu dinyalakan kembali.

"Kalau dia (listrik) sempat mati, maka menyalakannya bisa sampai dua hari. Maka, biasanya kalau cadangan bahan bakarnya menipis dia daripada dipentokin terus tiba-tiba mati, biasanya main aman operatornya sengaja derating hanya 60 persen," katanya.

Kevin menilai lamanya kondisi tersebut sangat bergantung pada pola kontrak antara pihak pembangkit dengan pemasok bahan bakar. Menurut dia, terdapat berbagai skema kontrak yang diterapkan, mulai dari kontrak tahunan hingga bentuk kerja sama lainnya.

Selain persoalan saat ini, Kevin turut menyoroti potensi dampak fenomena El Nino Godzila terhadap sistem kelistrikan nasional. Ia mengatakan, kekeringan yang menyertai El Nino dapat memengaruhi sektor ketenagalistrikan dari sisi permintaan maupun pasokan.

"Pertama dari sisi beban, mungkin orang-orang akan lebih suka memakai AC karena udara panas, jadi bebannya akan sedikit naik. Kedua, sisi suplai listrik terutama yang dari PLTA ini akan sangat turun, karena air tak hanya dipakai untuk listrik melainkan untuk air minum dan lainnya," katanya.

Ia menambahkan, Indonesia memiliki cukup banyak pembangkit listrik tenaga air (PLTA), termasuk di Sulawesi Selatan dan Jawa Barat. Di Jawa Barat sendiri, sejumlah PLTA yang beroperasi antara lain berada di Cirata, Saguling, dan Jatiluhur.

"Memang dampaknya akan mirip seperti batubara yang berkurang tadi. Sulsel 2 -3 tahun lalu sudah terjadi pemadaman semacam itu," katanya.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
VS
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved