Senin, 8 Juni 2026

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Harga Elektronik di BEC Naik hingga 20 Persen

Harga sejumlah produk impor naik hingga 20 persen, mulai dari kamera, lampu hingga berbagai perangkat elektronik lainnya.

Tayang:
Penulis: Nappisah | Editor: Siti Fatimah
Tribun Jabar/Putri Puspita Nilawati
ELEKTRONIK - Suasana BEC di Jalan Purnawarman, Kota Bandung, Kamis (4/6/2026) di tengah tekanan rupiah yang tembus Rp18 ribu per dolar AS. Harga sejumlah produk impor naik hingga 20 persen, mulai dari kamera, lampu hingga berbagai perangkat elektronik lainnya. 
Ringkasan Berita:
  • Harga sejumlah produk impor naik hingga 20 persen, mulai dari kamera, lampu hingga berbagai perangkat elektronik lainnya
  • Kenaikan harga terjadi hampir pada seluruh produk elektronik yang dijual
  • Penyesuaian harga dilakukan menyusul meningkatnya biaya pengadaan barang impor akibat pelemahan nilai tukar rupiah dan situasi global yang tidak menentu

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Bandung Electronic Center (BEC) yang selama ini menjadi barometer perdagangan elektronik di Kota Bandung mulai merasakan dampak pelemahan rupiah. 

Harga sejumlah produk impor naik hingga 20 persen, mulai dari kamera, lampu hingga berbagai perangkat elektronik lainnya.

Dari pantauan Tribunjabar.id, pada Kamis (4/6/2026), aktivitas perdagangan masih berlangsung seperti biasa. 

Pengunjung terlihat lalu lalang menyusuri lorong-lorong gedung untuk mencari kebutuhan perangkat elektronik

Sejumlah pedagang berdiri di depan kios menawarkan barang dagangan kepada setiap calon pembeli yang melintas.

Meski demikian, tidak semua toko dipadati pembeli. Beberapa kios tampak sepi pengunjung. 

Salah seorang pedagang di BEC, Cepi, mengatakan kenaikan harga terjadi hampir pada seluruh produk elektronik yang dijual. 

Penyesuaian dilakukan menyusul meningkatnya biaya pengadaan barang impor akibat pelemahan nilai tukar rupiah dan situasi global yang tidak menentu.

"Semua produk hampir naik. Lampu, kamera, hampir semuanya. Kalau bahasanya penyesuaian harga," ujar Cepi, Kamis (4/6/2026). 

Menurut dia, kenaikan harga rata-rata berada di kisaran 15 hingga 20 persen. Kenaikan tersebut mulai dirasakan dalam beberapa hari terakhir.

"Rata-rata sekitar 15 sampai 20 persen. Kenaikan mulai dirasa sejak kemarin," katanya.

Ia menjelaskan sebagian besar barang yang dijual di tokonya berasal dari China sehingga perubahan nilai tukar dolar langsung berpengaruh terhadap harga beli.

"Kebanyakan impor dari China. Jadi memang pengaruh," ucapnya.

Akibat kondisi tersebut, pedagang terpaksa menyesuaikan harga jual. Saat ini, produk elektronik di tokonya dibanderol mulai dari Rp2 juta hingga lebih dari Rp40 juta per unit. 

Dikatakan Cepi, harga tersebut sudah mengikuti penyesuaian terbaru.

Cepi mengaku pasar elektronik justru tengah menghadapi tantangan berupa melemahnya jumlah pembeli.

Menurut dia, kondisi saat ini bahkan lebih sepi dibandingkan periode setelah pandemi Covid-19.

"Sebelumnya juga sudah sepi, sekarang tambah seperti ini jadi tambah sepi. Dibanding habis pandemi, lebih sepi sekarang. Saat pandemi penjualan online juga masih tumbuh," katanya.

Sebelumnya, National Sales Senior General Manager PT Sharp Electronics Indonesia, Andry Adi Utomo, mengatakan kenaikan harga elektronik yang terjadi saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh pelemahan rupiah.

Menurut dia, industri elektronik juga menghadapi kenaikan harga berbagai bahan baku global yang digunakan dalam proses produksi.

"Memang ada penyesuaian harga, tapi bukan hanya karena kurs rupiah. Kenaikan harga material seperti minyak bumi, tembaga, dan memory chip juga berpengaruh," ujar Andry. 

Ia menjelaskan perusahaan melakukan penyesuaian harga secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi pasar agar tidak memberikan tekanan berlebih kepada konsumen.

Meski nilai tukar rupiah mengalami pelemahan, pihaknya memastikan pasokan produk elektronik masih aman dan belum terjadi kelangkaan barang di pasaran.

"Untuk komponen kami evaluasi vendor existing sekaligus mencari vendor baru. Sementara untuk barang jadi, kami melakukan negosiasi agar mendapat harga terbaik," katanya.

Dia menjelaskan, untuk menghadapi tekanan kurs dan biaya impor, pihaknya menerapkan berbagai strategi mulai dari efisiensi operasional, penyesuaian harga, pencarian pemasok alternatif hingga memperluas saluran distribusi.

"Kami tetap konsisten melakukan promo sell out dalam kondisi apa pun untuk menarik minat konsumen," kata Andry.

Di Jawa Barat, produk elektronik yang saat ini paling banyak diburu konsumen masih didominasi pendingin ruangan (AC) dan televisi LED. Selanjutnya disusul kulkas serta mesin cuci. 

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved