Pelemahan Rupiah Bebani Manufaktur dan UMKM, Kadin Kota Bandung: Pasti Terasa
Pelemahan rupiah otomatis mendongkrak biaya produksi industri. Kondisi itu juga dirasakan pelaku UMKM yang bahan bakunya masih mengandalkan impor.
Penulis: Nappisah | Editor: Seli Andina Miranti
Ringkasan Berita:
- Kurs dolar AS mendekati Rp18 ribu per USD, membebani pelaku usaha Bandung.
- Sektor manufaktur dan UMKM berbasis bahan baku impor paling terdampak, termasuk tahu tempe karena kedelai impor.
- Pelemahan rupiah menaikkan biaya produksi, namun memberi keuntungan bagi ekspor karena produk lebih kompetitif di luar negeri.
- Kadin Bandung berharap pemerintah memperkuat dukungan UMKM lewat akses permodalan mudah dan bunga pinjaman rendah.
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kenaikan kurs dolar Amerika Serikat yang nyaris menyentuh Rp18 ribu per USD, mulai membebani pelaku usaha di Kota Bandung, terutama sektor manufaktur dan UMKM berbasis bahan baku impor.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Bandung, Iwa Gartiwa mengatakan, kenaikan dolar AS membuat pengusaha harus lebih berhati-hati dalam menjalankan usaha.
“Dengan kenaikan dolar ini kita sikapi lebih arif lagi. Memang terasa sekali bagi yang ketergantungan dengan bahan baku impor. Manufaktur pasti ada bahan impornya,” ujar Iwa, kepada Tribunjabar.id, Jumat (29/5/2026).
Baca juga: Kurs Dolar Melonjak, REI Jabar Sebut Harga Rumah Subsidi Tiga Tahun Belum Naik Sudah Tidak Logis
Menurutnya, pelemahan rupiah otomatis mendongkrak biaya produksi industri. Kondisi itu juga dirasakan pelaku UMKM yang bahan bakunya masih mengandalkan impor.
“Sehingga ini mendongkrak ke biaya produksi. Seperti UMKM yang tergantung bahan baku impor pasti terasa, seperti tahu tempe karena kedelai masih impor pasti punya dampak,” katanya.
Meski begitu, Iwa menilai pelemahan rupiah juga bisa memberi keuntungan bagi sektor ekspor karena daya saing produk Indonesia meningkat di pasar luar negeri.
“Sebaliknya ini akan menambah daya saing untuk ekspor,” ucapnya.
Ia pun menilai langkah pemerintah saat ini cukup baik dalam mengendalikan inflasi di tengah tekanan ekonomi global.
“Kebijakan pemerintah cukup baik dengan mengendalikan inflasi dan peningkatan swasembada pangan dan bahan baku industri. Semoga Indonesia bisa bertahan dan jaya,” katanya.
Di sisi lain, dampak kenaikan dolar mulai terlihat dari naiknya harga sejumlah bahan baku industri, termasuk plastik.
“Walaupun harga plastik sudah terasa naik,” ujar dia.
Iwa berharap pemerintah juga memperkuat dukungan bagi pelaku usaha kecil dengan mempermudah akses permodalan dan menghadirkan bunga pinjaman yang lebih rendah.
Baca juga: Rupiah Tembus Rp17.889 per Dolar AS, Pengusaha Keluhkan Lonjakan Biaya Impor dan Anjloknya Daya Beli
“Penciptaan pengusaha-pengusaha dan bantuan pinjaman yang tidak berbelit diharapkan di level bawah. Tentunya dengan bunga lebih rendah,” katanya.
Terkait kondisi ketenagakerjaan di Kota Bandung, Iwa memastikan situasi pemutusan hubungan kerja atau PHK masih relatif kondusif dan belum terjadi gelombang PHK massal.
“Kalau di Bandung PHK masih kondusif, tidak ada yang massal. Kalau terjadi juga untuk efisiensi saja,” katanya. (*)
| Rupiah Tembus Rp17.889 per Dolar AS, Pengusaha Keluhkan Lonjakan Biaya Impor dan Anjloknya Daya Beli |
|
|---|
| Kurs Dolar Naik, Pengusaha Khawatir Cash Flow Terganggu dan PHK Tak Terhindarkan |
|
|---|
| Rupiah Tembus Rp17.800, Ekonom Unpar Ingatkan Status Indonesia Sebagai Importir Minyak |
|
|---|
| Harga Tahu di Bandung Rawan Terdampak Pelemahan Rupiah, Bahan Pokok Cenderung Stabil |
|
|---|
| Pelaku UMKM di Bandung Terima Bantuan YBM PLN untuk Kembangkan Usaha |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Ketua-Kadin-Kota-Bandung-Iwa-Gartiwa-12121.jpg)