Senin, 1 Juni 2026

Kurs Dolar Naik, Pengusaha Khawatir Cash Flow Terganggu dan PHK Tak Terhindarkan

Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus Rp17.889 per dolar AS mulai membuat kalangan pengusaha khawatir terhadap keberlanjutan bisnis.

Tayang:
Penulis: Nappisah | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
Kompas.com
Ilustrasi nilai tukar rupiah, kurs rupiah dan dollar AS. (KOMPAS.com/MAULANA MAHARDHIKA) 

“Saya berharap pemerintah bisa melakukan langkah-langkah strategis bagaimana menekan kenaikan dolar ini,” ujarnya.

Meski demikian, Agung menilai pelemahan rupiah juga membawa peluang bagi sektor tertentu, terutama pengusaha berbasis ekspor.

“Kalau yang ekspor pembayarannya dolar, mungkin akan naik. Tekstil misalnya, kemudian komoditas seperti nikel, batu bara, sawit, timah, itu bisa ada nilai tambah keuntungan,” katanya.

Selain sektor ekspor, ia menilai industri pariwisata juga berpotensi mendapat keuntungan karena wisatawan asing memiliki daya beli lebih besar ketika berkunjung ke Indonesia.

“Mungkin wisatawan mancanegara bisa datang lebih banyak karena buat mereka jadi lebih murah,” ujarnya.

Meski demikian, Agung mengingatkan ancaman serius bagi perusahaan yang memiliki utang dalam mata uang dolar, terutama yang tidak melakukan lindung nilai atau hedging.

“Pengusaha yang punya utang dolar ini juga berproblem. Kalau tidak di-hedging akhirnya jadi masalah. Harus putar otak keras mencari solusi,” katanya.

Ia menyebut kondisi tersebut bisa memicu efisiensi besar-besaran hingga berujung PHK apabila perusahaan tidak mampu menjaga arus kas.

“Mungkin yang terjadi PHK itu karena beban utangnya besar, cost tinggi, sementara cash flow tidak lancar. Akhirnya operasional dikurangi,” ucapnya.

Agung menyebut kondisi geopolitik global ikut memperburuk tekanan terhadap ekonomi nasional, termasuk konflik di Timur Tengah yang memengaruhi harga energi dunia.

“Ini juga klaster geopolitik global. Timur Tengah memengaruhi crude oil, batubara naik, dolar juga naik,” katanya.

Menurut dia, pemerintah perlu belajar dari pengalaman menghadapi krisis ekonomi 2008 ketika tekanan global berhasil dikendalikan melalui strategi ekonomi yang tepat.

“Kita pernah 2008 mengalami krisis. Tapi waktu itu tim ekonomi cukup bagus sehingga bisa mengendalikan dolar dan ekonomi tetap tumbuh,” katanya. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved