Jumat, 29 Mei 2026

Kurs Dolar Naik, Pengusaha Khawatir Cash Flow Terganggu dan PHK Tak Terhindarkan

Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus Rp17.889 per dolar AS mulai membuat kalangan pengusaha khawatir terhadap keberlanjutan bisnis.

Tayang:
Penulis: Nappisah | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
Kompas.com
Ilustrasi nilai tukar rupiah, kurs rupiah dan dollar AS. (KOMPAS.com/MAULANA MAHARDHIKA) 

Ringkasan Berita:
  • Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus Rp17.889 per dolar AS mulai membuat kalangan pengusaha khawatir terhadap keberlanjutan bisnis akibat lonjakan biaya produksi. 
  • Kadin menyebutkan industri berbasis komponen impor dan pemilik utang dolar non-hedging menjadi sektor yang paling rentan menghadapi krisis arus kas hingga risiko PHK. 
  • Meski demikian, situasi ini dinilai membawa peluang keuntungan lebih bagi para pengusaha berbasis ekspor komoditas serta sektor pariwisata.

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengusaha. 

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Wilayah Jawa 1 (DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat) Agung Suryamal Sutisna mengatakan, fluktuasi dolar membuat pengusaha harus menghitung ulang biaya produksi yang sebelumnya disusun dengan asumsi kurs tertentu.

“Pengusaha agak grogi ini, karena dampak dolar ini akan berakibat ke keberlangsungan bisnis kita. Awalnya kita sudah mematok dolar Rp16.500, sekarang semua akan terkoreksi,” kata Agung kepada Tribunjabar.id, Jumat (29/5/2026).

Diketahui, pelemahan rupiah kini tembus Rp 17.889 per dolar AS pada Jumat (29/5/2026) siang. 

Menurutnya, pelemahan rupiah paling terasa bagi industri yang masih bergantung pada bahan baku dan komponen impor. Kenaikan kurs dolar otomatis membuat biaya produksi ikut melonjak.

“Dampaknya ke Bahan Bakar Minyak (BBM) juga, naik. Selain itu ada beberapa bahan baku impor dan komponen impor yang membuat kita harus mengeluarkan biaya jauh lebih besar untuk formula barang yang sama,” ujarnya.

Ia mengatakan, kondisi tersebut membuat perusahaan berada dalam posisi sulit. Di satu sisi biaya produksi meningkat, namun di sisi lain harga jual tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada konsumen karena daya beli masyarakat sedang melemah.

“Kalaupun masih bisa dipertahankan, keuntungan kita bisa ditekan, bisa dikurangi. Tapi ini akan ganggu cash flow. Perputaran modal jadi lebih lambat karena kebutuhan dana talangan pembelian bahan baku di awal jauh lebih besar,” katanya.

Agung mengungkapkan, dirinya juga merasakan langsung dampak pelemahan rupiah terhadap bisnis yang dijalankannya. 

Ia menyebut beberapa komponen usaha yang dimilikinya masih bergantung pada impor dari Amerika Serikat dan Prancis.

“Ada barang impor dari Amerika dan ada impor dari Prancis. Komponen-komponennya impor, pasti akan naik,” ucapnya.

Menurut Agung, kondisi yang paling dikhawatirkan pengusaha bukan hanya kenaikan biaya produksi, tetapi juga turunnya daya beli masyarakat akibat harga barang yang ikut terkerek naik.

“Takutnya daya beli masyarakat pasti menurun. Karena dengan naik semua produk barang, otomatis cost produksi naik semua,” katanya.

Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah strategis untuk menahan tekanan terhadap rupiah dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved