Kamis, 7 Mei 2026

Si Kecil yang Menggerakkan Raksasa: UMKM dan Masa Depan Indonesia

Data dari Kementerian Koperasi dan UKM mencatat bahwa terdapat sebanyak 64 juta unit UMKM di Indonesia.

Tayang:
tribunjabar.id / Muhamad Syarif Abdussalam
ILUSTRASI UMKM. GURILEM - Festival kuliner dan jajanan UMKM Sajajar menghadirkan beragam jajanan tradisional yang diproduksi berbagai UMKM di Jawa Barat. Ajang ini berlangsung selama tiga hari, mulai Selasa (9/9/2025) hingga Kamis (11/9/2025), di Senbik, Kota Bandung. 

TRIBUNJABAR.ID - Terlalu sering kita terbiasa berpikir bahwa pusat ekonomi suatu negeri ada di gedung-gedung pencakar langit tinggi dan beberapa perusahaan raksasa. 

Pada realitanya, ekonomi Indonesia bertumbuh dari tiap warung kopi di sudut jalan, bengkel kecil di gang-gang, bahkan toko daring yang dioperasikan dari ruang tamu. 

Mereka adalah UMKM, “si kecil” yang sebenarnya menjadikan raksasa bernama Indonesia bisa berjalan sehari-hari. 

Di mana pun melangkah, dari kios jajanan yang menjorok dari pangkal bahu jalan, hingga toko daring yang teryakinkan semua hal bisa dibeli online, semuanya memiliki peran aktual dalam fondasi bangsa ini. “Kecil” mungkin sering disematkan padanya, tapi bukan berarti kontribusinya kecil. 

Data dari Kementerian Koperasi dan UKM mencatat bahwa terdapat sebanyak 64 juta unit UMKM di Indonesia. UMKM tumbuh subur dari celah keseharian rakyat ini, menyumbang 60,8 persen dari total nilai ekonomi Indonesia – barang dan jasa yang diproduksi setahun – dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja nasional. 

Yup, hampir tiap uang yang beredar di pasaran juga menyentuh peran mereka di dalamnya.

Meski begitu, kita harus jujur, semangat saja memang tidaklah cukup. Terdapat berbagai tantangan yang dirasakan oleh UMKM, mulai dari masalah kekurangan biaya dan ketimpangan literasi finansial, yang kemudian perlu diperhitungkan hingga masalah ketidaksiapan dari era digital yang makin canggih. Itulah kenapa ranah kolaborasi sangatlah dibutuhkan. 

Cerita dari Bandung

Ada satu cerita dari Bandung. Terdapat bisnis rumahan yang unik di sana; bisnis keripik pedas buatan Bandung. Pemiliknya bercerita bagaimana suatu hari dia yang memulai keripik pedasnya hanya bermodal semangat. 

Ia menceritakan bagaimana memulai bisnis keripik tepung terigu. Bukan keripik kentang seperti yang kebanyakan orang-orang buat ketika itu. Bermula kerjasama dan memasarkannya di pe­san­tren. 

Awal mulanya, bisnis ini cuma dijual kuantiti pesan­tren dengan pasar yang terbatas – agar kalaupun tidak laku bisa dimakan sendiri. Tidak pernah terpikir bahwa keripik buatannya akan menjadi viral seperti sekarang hingga ke luar negeri.

Bahkan, si pemilik UMKM ini mengungkapkan, di awal berjualannya, ia bingung untuk melipatgandakan jumlah penjualannya. Dari manajemen arus kas, branding, atau berjualan lewat medsos. Baru belakangan dia tahu, ada cara mudah dan kreatif untuk mengembangkan usahanya. 

Si pemilik keripik pedas ini pun mulai memperluas pemasaran tidak hanya di sekitar pesantren di Bandung saja. Merambah ke Jakarta, Surabaya, bahkan ke Eropa, berkat banyaknya pelajar Indonesia di sana yang menyukainya dan akhirnya dia tahu caranya untuk membuka pemasaran produk luar negeri.

 Ia bisa melakukannya karena sejak mengikuti pelatihan, dia semakin merasa tertantang. Pendapatan meningkat, jumlah karyawan bertambah bahkan menciptakan brand ambassador, dan yang paling penting adalah yakin bahwa UMKM lokal bisa go international semakin dalam.  

Pilar Ekonomi yang Harus Dijaga

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved