Rabu, 6 Mei 2026

Ekonom Unpar: Rupiah Bisa Tembus Rp 18.000 jika Konflik Timur Tengah Berlanjut

Ekonom Unpar Aknolt Kristian Pakpahan, mengatakan tekanan terhadap rupiah saat ini terutama dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah

Tayang:
Penulis: Nappisah | Editor: Siti Fatimah
Tangkapan layar akun @chonk_green_story dan Tribunnews/nitis
ILUSTRASI RUPIAH - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dinilai tidak hanya dipengaruhi faktor global, tetapi juga persoalan domestik yang belum terselesaikan. 

Ringkasan Berita:
  • Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dinilai tidak hanya dipengaruhi faktor global, tetapi juga persoalan domestik yang belum terselesaikan
  • Ekonom Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Aknolt Kristian Pakpahan, mengatakan tekanan terhadap rupiah saat ini terutama dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya situasi di Selat Hormuz yang mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG -  Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dinilai tidak hanya dipengaruhi faktor global, tetapi juga persoalan domestik yang belum terselesaikan.

Ekonom Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Aknolt Kristian Pakpahan, mengatakan tekanan terhadap rupiah saat ini terutama dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya situasi di Selat Hormuz yang mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Menurut dia, kondisi ini berdampak langsung bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak.

“Indonesia sebagai net importer minyak tentu terdampak karena ada kenaikan biaya impor energi yang memberi tekanan pada APBN sekaligus meningkatkan kebutuhan dollar AS untuk membayar impor,” kata Aknolt, kepadaa Tribunjabar.id, Rabu (6/5/2026). 

Selain faktor energi, kata Aknolt, pelemahan rupiah juga dipicu perpindahan dana investor asing ke aset yang dianggap lebih aman atau safe haven, seperti dollar AS dan saham Amerika Serikat.

Arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia, pun meningkat. Kondisi ini diperparah dengan kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Fed, yang masih mempertahankan suku bunga tinggi.

“Kebijakan suku bunga tinggi The Fed tentu membuat aset berbasis dollar lebih menarik bagi investor,” ujarnya.

Di dalam negeri, Aknolt menilai tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM) dan bahan baku industri, defisit neraca migas, hingga sentimen pasar terhadap kemampuan fiskal pemerintah menjaga subsidi energi.

Selain itu, kekhawatiran inflasi turut membebani pergerakan rupiah.

Aknolt menilai peluang rupiah menembus level Rp 18.000 per dollar AS tetap terbuka jika tekanan eksternal terus berlangsung.

“Potensi itu bisa saja terjadi,” katanya.

Menurut dia, ada dua skenario yang bisa terjadi dalam waktu dekat. 

Rupiah berpeluang stabil di level saat ini apabila konflik Timur Tengah tidak meluas, Bank Indonesia aktif melakukan intervensi pasar, dan pemerintah mampu menjaga kepercayaan investor.

Sebaliknya, tekanan terhadap rupiah bisa semakin dalam jika konflik geopolitik berlarut-larut, The Fed tetap mempertahankan suku bunga tinggi, dan arus modal asing terus keluar dari Indonesia.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved