Sri Dewi Anggraini: Harga Pangan Belum Stabil, Perempuan Hadapi Tantangan Terberat di Dapur
Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Hj. Sri Dewi Anggraini, menyoroti harga pangan yang belum stabil
Ringkasan Berita:
- Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Hj. Sri Dewi Anggraini, menyoroti harga pangan yang belum stabil
- Peran pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan dan distribusi pangan agar tidak terjadi gejolak yang berkepanjangan
TRIBUNJABAR.ID, KABUPATEN BANDUNG BARAT - Pasca perayaan Idulfitri, kondisi harga pangan di sejumlah pasar masih belum sepenuhnya stabil. Fluktuasi yang terjadi membuat masyarakat, khususnya perempuan sebagai pengelola kebutuhan rumah tangga, harus bekerja lebih keras dalam menjaga keseimbangan dapur keluarga.
Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Hj. Sri Dewi Anggraini, menilai bahwa situasi ini bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut ketahanan keluarga.
Perempuan, terutama ibu rumah tangga, berada di garis terdepan dalam menghadapi dinamika harga bahan pokok yang tidak menentu.
“Setiap hari ibu-ibu harus mengambil keputusan cepat, mana yang harus dibeli, mana yang bisa ditunda, bahkan bagaimana mengatur menu agar tetap bergizi dengan kondisi yang ada. Ini bukan hal sederhana, ini adalah bentuk nyata dari perjuangan menjaga ketahanan keluarga,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi pasca Lebaran memang seringkali ditandai dengan fase penyesuaian harga.
Namun di lapangan, dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama mereka yang memiliki keterbatasan daya beli.
Untuk itu, Sri Dewi mendorong sejumlah langkah strategis yang dapat membantu masyarakat, khususnya perempuan, dalam mengelola kebutuhan rumah tangga di tengah situasi ini.
Pertama, memperkuat literasi pengelolaan keuangan keluarga, termasuk perencanaan belanja yang lebih adaptif dan efisien. Kedua, mendorong pemanfaatan sumber pangan lokal yang lebih terjangkau dan mudah diakses di lingkungan sekitar.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya dukungan jangka panjang melalui pemberdayaan ekonomi perempuan.
Menurutnya, perempuan tidak hanya sebagai pengelola konsumsi, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi keluarga melalui usaha mikro dan kegiatan produktif lainnya.
“Kalau kita ingin ketahanan keluarga kuat, maka perempuan harus kita perkuat. Bukan hanya dibantu dalam belanja, tapi juga diberi ruang untuk berdaya secara ekonomi,” tegasnya.
Di sisi lain, Sri Dewi juga mengingatkan pentingnya peran pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan dan distribusi pangan agar tidak terjadi gejolak yang berkepanjangan.
Dengan kondisi yang masih dinamis ini, ia berharap seluruh pihak dapat bersinergi, baik pemerintah, pelaku usaha, maupun masyarakat, untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi dengan baik.
| Pengawasan di Cipeundeuy, Tati Supriati Irwan serap aspirasi jalan rusak dan pertanian warga lokal |
|
|---|
| Akselerasi UMKM, PNM Gelar Pemberdayaan Kapasitas Usaha Akbar 2026 di KBB |
|
|---|
| Mas Jun Dorong Generasi Muda Melek Politik dan Peduli Lingkungan |
|
|---|
| Humaira Zahrotun Noor : ISSE 2026 Bukti Generasi Muda Penuh Potensi dan Kreativitas |
|
|---|
| Dapur MBG KBB pastikan standar gizi dan IPAL sesuai aturan agar tak berdampak buruk lingkungan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Anggota-DPRD-Provinsi-Jawa-Barat-Hj-Sri-Dewi-Anggraini-menyoroti-harga-pangan-yang-belum-stabil.jpg)