Radex 2025 Dorong Peningkatan SDM dan Pemerataan Peralatan Radiologi di Indonesia
Pentingnya pemerataan, baik dari sisi SDM maupun peralatan radiologi, agar layanan kesehatan berkualitas dapat diakses merata di seluruh daerah.
Penulis: Nazmi Abdurrahman | Editor: Seli Andina Miranti
Laporan Wartawan TribunJabar.id
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG – Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan pemerataan peralatan di seluruh wilayah masih menjadi tantangan besar dalam dunia kesehatan, khususnya sektor radiologi di Indonesia.
Hal itu mengemuka dalam talkshow Radex 2025 – Radiology & Hospital Equipment Expo, yang digelar Perhimpunan Radiografer Indonesia (PARI) Jawa Barat di Graha Siliwangi, Kota Bandung, 8–10 Agustus 2025.
CEO PT Mulya Husada Jaya, Yosua Yusak Kurniawan, mengatakan, saat ini teknologi peralatan radiologi di Indonesia sudah selevel dengan negara maju.
“Saya yakin kita tidak ketinggalan dalam hal teknologi dan perangkatnya,” ujar Yosua, Jumat (8/8/2025).
Baca juga: Dua Mahasiswa Fakultas Kedokteran UPI Raih Juara 1 Nasional Radiologi Competition 2025
Meski demikian, Yosua menilai pemanfaatan teknologi tersebut belum optimal karena keterbatasan SDM.
“SDM kita baru menguasai sedikit dari keseluruhan fasilitas yang disediakan perangkat canggih itu. Pelatihan harus dilakukan bersama oleh pabrikan, pengguna, dan pemerintah,” katanya.
Yosua juga menekankan pentingnya pemerataan, baik dari sisi SDM maupun peralatan radiologi, agar layanan kesehatan berkualitas dapat diakses merata di seluruh daerah.
Ketua Umum PARI, Sugiyanto, sependapat bahwa radiografer harus terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan mengikuti perkembangan teknologi.
“Peralatan radiologi dari tahun ke tahun terus berkembang. Seorang radiografer akan ketinggalan jika tidak terus meng-update perangkat terkini,” ujar Sugiyanto.
Menurutnya, tuntutan tersebut juga berlaku bagi mahasiswa calon radiografer.
“Dari bangku kuliah, Anda hanya mendapatkan sedikit. Setelah bekerja, wajib mengikuti perkembangan teknologi,” ucapnya.
Direktur Ketahanan Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, Jeffri Ardiyanto, mengungkapkan belanja alat kesehatan Indonesia pada 2023 mencapai 30 persen dari total belanja kesehatan Rp606 triliun. Namun, sebagian besar masih berasal dari impor.
Baca juga: Cek Kesehatan Gratis di Cianjur Tak hanya Periksa Kesehatan Umum, tapi Juga Kejiwaan Pelajar
“Produksi dalam negeri ada 16 ribu unit dengan 470 jenis, sedangkan impor mencapai 56 ribu unit dengan 1.500 jenis,” ujar Jeffri.
Meski begitu, Jeffri menyebut tren positif mulai terlihat pada 2024. Pembelanjaan alat kesehatan produksi lokal naik menjadi 48 persen, jauh meningkat dibanding 2019 yang hanya 12 persen.
| 1.200 Peserta Dalam-Luar Negeri Hadiri Konvensi Perkumpulan Lions Indonesia MD 307 ke-50 di Bandung |
|
|---|
| MoU Pengelolaan dan Perawatan Bandung Zoo Diperpanjang, Farhan Pastikan Satwa Terawat |
|
|---|
| Komisi IV DPRD Kota Bandung Bersama DPD RI Soroti Sejumlah Permasalahan Pendidikan |
|
|---|
| Sekda Ciamis: Tenaga Kesehatan Harus Adaptif Hadapi Era Digital |
|
|---|
| JNE Kecam Aksi Begal Kurir di Bandung, Beri Korban motor Baru, Kurir: Bersyukur dan Tak Menyangka |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Sejumlah-narasumber-saat-talkshow-Radex-2025-di-Bandung.jpg)