Jumat, 8 Mei 2026

Radex 2025 Dorong Peningkatan SDM dan Pemerataan Peralatan Radiologi di Indonesia

Pentingnya pemerataan, baik dari sisi SDM maupun peralatan radiologi, agar layanan kesehatan berkualitas dapat diakses merata di seluruh daerah.

Tayang:
Tribun Jabar/ Nazmi Abdurrahman
TALKSHOW - Sejumlah narasumber saat talkshow Radex 2025 – Radiology & Hospital Equipment Expo, yang digelar Perhimpunan Radiografer Indonesia (PARI) Jawa Barat di Graha Siliwangi, Kota Bandung, 8–10 Agustus 2025. 

Laporan Wartawan TribunJabar.id

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG – Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan pemerataan peralatan di seluruh wilayah masih menjadi tantangan besar dalam dunia kesehatan, khususnya sektor radiologi di Indonesia.

Hal itu mengemuka dalam talkshow Radex 2025 – Radiology & Hospital Equipment Expo, yang digelar Perhimpunan Radiografer Indonesia (PARI) Jawa Barat di Graha Siliwangi, Kota Bandung, 8–10 Agustus 2025.

CEO PT Mulya Husada Jaya, Yosua Yusak Kurniawan, mengatakan, saat ini teknologi peralatan radiologi di Indonesia sudah selevel dengan negara maju.

“Saya yakin kita tidak ketinggalan dalam hal teknologi dan perangkatnya,” ujar Yosua, Jumat (8/8/2025).

Baca juga: Dua Mahasiswa Fakultas Kedokteran UPI Raih Juara 1 Nasional Radiologi Competition 2025

Meski demikian, Yosua menilai pemanfaatan teknologi tersebut belum optimal karena keterbatasan SDM.

“SDM kita baru menguasai sedikit dari keseluruhan fasilitas yang disediakan perangkat canggih itu. Pelatihan harus dilakukan bersama oleh pabrikan, pengguna, dan pemerintah,” katanya.

Yosua juga menekankan pentingnya pemerataan, baik dari sisi SDM maupun peralatan radiologi, agar layanan kesehatan berkualitas dapat diakses merata di seluruh daerah.

Ketua Umum PARI, Sugiyanto, sependapat bahwa radiografer harus terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan mengikuti perkembangan teknologi.

“Peralatan radiologi dari tahun ke tahun terus berkembang. Seorang radiografer akan ketinggalan jika tidak terus meng-update perangkat terkini,” ujar Sugiyanto.

Menurutnya, tuntutan tersebut juga berlaku bagi mahasiswa calon radiografer. 

“Dari bangku kuliah, Anda hanya mendapatkan sedikit. Setelah bekerja, wajib mengikuti perkembangan teknologi,” ucapnya.

Direktur Ketahanan Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, Jeffri Ardiyanto, mengungkapkan belanja alat kesehatan Indonesia pada 2023 mencapai 30 persen dari total belanja kesehatan Rp606 triliun. Namun, sebagian besar masih berasal dari impor.

Baca juga: Cek Kesehatan Gratis di Cianjur Tak hanya Periksa Kesehatan Umum, tapi Juga Kejiwaan Pelajar

“Produksi dalam negeri ada 16 ribu unit dengan 470 jenis, sedangkan impor mencapai 56 ribu unit dengan 1.500 jenis,” ujar Jeffri.

Meski begitu, Jeffri menyebut tren positif mulai terlihat pada 2024. Pembelanjaan alat kesehatan produksi lokal naik menjadi 48 persen, jauh meningkat dibanding 2019 yang hanya 12 persen.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved