HIKMAH Ramadhan: Mensucikan Ruang Digital

Memberikan kebaikan sebenarnya menjadi hal biasa, tetapi di bulan Ramadan  menjadi lebih luar biasa.

Editor: Ravianto
Pixabay
Ilustrasi Ramadan atau bulan puasa. Berbeda dengan bukan-bulan lainnya, Ramadan memberikan fasilitas istimewa kepada siapa saja yang mau memanfaatkannya.  

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - BULAN Ramadan menjadi sarana untuk mensucikan diri.

Maka al-Qur'an mengabarkan tentang output dari bulan ini yaitu ketaqwaan.

Berbeda dengan bukan-bulan lainnya, Ramadan memberikan fasilitas istimewa kepada siapa saja yang mau memanfaatkannya. 

Dalam banyak keterangan, semua amal ibadah dilipatgandakan di bulan Ramadan. Bukan hanya yang wajib, seluruh ibadah sunnah akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Sebuah keuntungan yang hanya akan diperoleh di bulan ini, tidak di bulan-bulan lainnya. 

Selain itu, seluruh amal sosial juga mendapat ruangnya yang sangat istimewa.

Memberikan kebaikan sebenarnya menjadi hal biasa, tetapi di bulan Ramadan  menjadi lebih luar biasa.

Amal sosial ini menjadi penting, seperti halnya memberi makanan sedikit saja bagi orang yang akan berbuka puasa, pahalanya begitu besar. Maka tidak aneh jika pada bulan Ramadan semua orang berlomba memperbanyak amal baik kepada sesama manusia. 

Pada saat yang sama, bulan Ramadan juga memberikan penekanan kepada umat Islam untuk senantiasa menghentikan segala perbuatan buruk. Kejahatan, kemaksiatan, dan perbuatan dosa lainnya hendaknya diberhentikan sama sekali. Umat Islam menjadikan Ramadan sebagai ruang di mana kita menghentikan segala ketidakbaikan, baik skala kecil maupun besar. Sebaliknya meningkatkan menebar kebaikan  bagi semesta alam.

Ruang Digital

Di samping ibadah yang bersifat vertikal maupun horizontal, ada perilaku umat yang saat ini juga perlu menjadi sorotan pada bulan Ramadan yaitu aktivitas masyarakat di ruang digital.  Dengan perkembangan teknologi informasi, perilaku masyarakat saat ini menjadi lebih nyata di ruang maya. Walaupun berbeda dengan ruang sosial nyata, namun ruang digital, di mana masyarakat kini hidup di dalamnya, semuanya menjadi penting untuk diperhatikan. 

Di bulan Ramadan, apa yang disebut kebaikan dan kejahatan, memiliki kesempatan yang sama. Karenanya jika dalam kehidupan sosial kita begitu diharapkan berbuat kebaikan dan menjauhi kebatilan, maka hal yang sama pun sebenarnya harus berlaku di ruang digital.

Jika ruang sosial masyarakat menjadi lebih soleh, begitupun di ruang digital. Pun sebaliknya, jika di ruang sosial nyata kita menghentikan segala ketidak baikkan maka itu harus berlaku untuk ruang digital. Maka harus ada korelasi antara kehidupan sosial nyata dan ruang sosial maya dimana aktivitas digital itu dilaksanakan. 

Kesalehan ini disebut juga sebagai kesalehan digital, yaitu perilaku umat yang mana pada bulan Ramadan harus semakin meningkatkan konten positif dan menihilkan konten negatif di ruang digital. Segala kebajikan pada bulan yang istimewa ini harus tercermin dari konten-konten yang di upload di ruang digital. 

Narasi kebencian, gosip, SARA, caci-maki, sinisme, dan segala bentuk fitnah termasuk motif kejahatan harus diakhiri pada bulan ini. Kehadiran Ramadan menjadi pengingat betapa bahayanya segala konten negatif yang akan menjerumuskan pemiliknya. Orientasi negatif dalam  membuat konten harus berakhir seiring hadirnya bulan penuh ampunan dan maghfirah ini. 

Penanda pertobatan dalam ruang digital, sejak berubahnya konten itu sendiri, baik berupa teks, gambar, video, animasi, maupun gabungan dari keseluruhannya. Perubahan dari konten kurang bermanfaat menjadi lebih baik dan memberikan kemanfaatan bagi netizen yang lain. 

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved