Nyamuk Wolbachia di Bandung

Di Ujungberung Bandung, Ini Lokasi Penyebaran Nyamuk Wolbachia, Orang Tua Asuh Ada yang Sempat Ragu

Kelurahan Pasanggrahan menjadi wilayah di Kecamatan Ujungberung, Bandung,  yang menjalankan program penanggulangan DBD dengan wolbachia.

|
Penulis: Muhamad Nandri Prilatama | Editor: Giri
Tribun Jabar/Muhamad Syarif Abdussalam
Puluhan warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Anti Nyamuk berunjuk rasa di depan Gedung DPRD Jabar, Senin (18/12/2023). Mereka memprotes pemerintah yang memaksakan diri menyebarkan nyamuk wolbachia di Kota Bandung, beberapa waktu lalu. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kelurahan Pasanggrahan menjadi wilayah di Kecamatan Ujungberung, Bandung,  yang menjalankan program Kementerian Kesehatan Nomor 1.341 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Dengue melalui wolbachia sebagai inovasi penanggulangan DBD.

"Kota Bandung ini termasuk lima kota yang dijadikan implementasi nyamuk wolbachia. Karena, pilot project dilaksanakannya di Sleman dan Bantul. Dan, Kota Bandung yang ditunjuk itu di Ujungberung dan implementasi awal di Kelurahan Pasanggrahan," kata Camat Ujungberung, Abriwansyah Fitri, saat ditemui di Balai Kota Bandung, Senin (18/12/2023).

Rencananya, jika implementasi di Pasanggrahan berhasil atau sukses maka berlanjut ke empat kelurahan lain yang ada di Ujungberung.

Saat ini, kata Abri, sudah berjalan servis ketiga ganti telur.

Baca juga: Warga Ujungberung Bandung Unjuk Rasa, Minta Nyamuk Wolbachia Dilepaskan di Rumah Menkes

"Jika tak ada perubahan, ganti telur bisa sampai 12 kali. Perkiraan enam bulan (ganti telur) dan ember akan ditarik pada April 2024 oleh Kemenkes. Jadi, telur yang disimpan proses menetasnya itu dua minggu. Nanti dievaluasi dan diganti lagi dua minggu sekali," katanya.

Hasil dari program ini, Abri pun membenarkan apa yang dikatakan Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, Anhar Hadian, yang menyebut akan terlihat ketika sudah setahun atau dua tahun berjalan.

"Penyimpanan telur itu waktunya sampai enam bulan. Kami sudah petakan 308 titik atau ember di 15 RW. Alhamdulillah saat ini sudah berjalan seperti biasa, meski sempat ada ramai (viral) penolakan dari beberapa orang tua asuh yang merasa ragu setelah mendapat informasi di media sosial. Tapi, begitu diberikan penjelasan ya mereka paham dan kami pun tak memaksa jika ada yang menolak," ujarnya.

Jika sudah diberikan pemahaman dan pengertian namun tetap ada yang menolak dengan argumentasinya, kata Abri, ember tersebut selanjutnya dipindahkan tak jauh dari titik ember tersebut.

Baca juga: Pj Gubernur Jabar Bey Machmudin Yakin Penerapan Nyamuk Wolbachia Baik untuk Masa Depan

"Jarak antarsatu ember ke ember lain 75 meter. Kami sudah jalankan di 15 RW. Yang jelas, yang tadi ada unras (unjuk rasa) penolakan di Gedung DPRD Jabar tak ada warga Ujungberung yang ikut. Kalau ada, pastinya ada yang laporan ke saya," ucapnya.

Demonstrasi

Puluhan warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Anti Nyamuk berunjuk rasa di depan Gedung DPRD Jabar, Senin. Mereka memprotes pemerintah yang memaksakan diri menyebarkan nyamuk wolbachia di Kota Bandung, beberapa waktu lalu.

Dalam aksinya, mereka memasang spanduk-spanduk berisi protes penyebaran nyamuk yang diklaim pemerintah dapat mengantisipasi perkembangan nyamuk penyebab demam berdarah tersebut.

Mereka beranggapan penyebaran nyamuk ini sudah meresahkan masyarakat dan bisa berujung pada tindak kriminal.

Mereka meminta Menteri Kesehatan RI menangkap kembali nyamuk-nyamuk yang sudah disebar tersebut untuk kemudian diisolasi di rumah Menteri Kesehatan RI saja.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved