Sabtu, 23 Mei 2026

Opini

Menghapus Tradisi Permusuhan Antarsekolah

Remaja sedang menghadapi persoalan pencarian identitas yang rumit. tak heran apabila remaja banyak yang terjerumus pada pergaulan tanpa batas.

Tayang:
Editor: Arief Permadi
ISTIMEWA
Enjang Tedi S.Sos, M.Sos, Anggota DPRD Jabar 

Namun kita tidak boleh putus asa dengan upaya yang kita lakukan. Sebetulnya ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk menanggulangi permusuhan antar sekolah, khususnya dilakukan secara preventif, diantaranya dengan mengoptimalkan perpustakaan sekolah, mengoptimalkan pendidikan karakter melalui program bela negara dan menjaga lingkungan.

Optimalisasi Perpustakaan
Bila mengacu pada dasar kepribadian manusia menurut Erich Fromm, yakni: kesadaran diri (self awareness), akal budi (reason), dan daya khayali (imagination). Maka, dengan mengoptimalkan perpustakaan sekolah akan menciptakan kepribadian bijaksana yang melihat sekolah lain sebagai kawan bukanlah lawan yang harus disingkirkan.

Betul juga bila dikatakan bahwa buku ialah jendela dunia. Dengan membaca buku, wawasan semakin luas, sehingga meniadakan kosakata permusuhan dari dalam kamus kehidupannya. Jadi, untuk menghilangkan tradisi bermusuhan ialah bikin cerdas dulu siswa sekolahnya, bila sudah demikian, maka permusuhan antar sekolah itu akan menghilang.

Pendidikan Bela Negara
Ada kesadaran yang hilang dalam pribadi pelajar kita hari ini, yaitu kesadaran bela negara dengan cara menjaga keamanan dan ketertiban yang diawali dari diri sendiri. Maka, kesadaran terhadap bela negara ini perlu didorong kembali di setiap sekolah melalui kegiatan kedisiplinan misalnya melibatkan TNI-Polri.

Kita punya banyak anggota TNI yang sudah terlatih dan teruji kedisiplinannya. Maka, melibatkan anggota TNI dalam memberikan pendidikan kedisiplinan pada jam sekolah tertentu atau menjadi salah satu program ekstra untuk ikhtiar mewujudkan pendidikan karakter pada siswa akan lebih efektif. Setidaknya, ini bisa dilakukan secara mandiri oleh setiap sekolah bekerjasama dengan TNI di lokasi setempat, misalnya melibatkan Babinsa.

Pendidikan Jaga Lingkungan
Kepolisian Republik Indonesia (Polri) baru baru ini meluncurkan program Polisi RW, yaitu melibatkan personil Polri untuk menjaga keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat bersama sama dengan Babinkamtibmas. Polisi RW ini diterjunkan ke simpul simpul warga tingkat RW agar peran penegekan Kamtibmas dapat lebih dekat dengan lingkungan masyarakat.

Polisi RW tersebut dihadirkan untuk menjadi fasilitator dalam memecahkan berbagai permasalahan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Baik itu masalah dugaan kriminalitas, gangguan lingkungan masyarakat, permasalahan antar tetangga yang bisa diselesaikan secara musyawarah mufakat antara masyarakat dengan masyarakat lainnya.

Sejatinya, program Polisi RW ini dapat disinergikan dengan dunia pendidikan karena Polisi RW ini akan bergerak langsung ke lokasi paling dekat dengan masyarakat. Dan sekolah merupakan bagian yang juga dekat dengan masyarakat.

Kolaborasi Tiga Pilar
Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam hal ini Dinas Pendidikan harus segera membuat terobosan kebijakan atau regulasi yang memungkinkan terwujudnya kolaborasi tiga pilar dengan TNI dan Polri dalam sektor pendidikan.

Upaya preventif dimulai dari internal dengan optimalisasi perpustakaan, pendidikan bela negara dan pendidikan jaga lingkungan melalui kolaborasi tiga pilar ini diharapkan dapat mencegah tawuran antar pelajar dan menciptakan tradisi baru yang jauh lebih positif. Wallahua'lam. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved