Khutbah Idul Fitri 1444 H
Mengenal Penyakit Hati
Idul Fitri telah menghampiri. Hari Raya telah menyapa. Puasa berganti dengan berbuka. Yang tersisa sejatinya tinggallah takwa.
Kita butuh something spiritual. Karena jika dilepaskan dari dimensi ruhaniahnya, itu hanya menjadi kemanusiaan yang berpenyakit. Semakin banyak orang yang pandai/pinter, semakin sulit dicari orang yang jujur. Harus diakui, saat ini Kejujuran sudah menjadi barang langka! Kejujuran di negeri ini sedang defisit.
Orang yang hanya mengedepankan otak/nalar jika jadi pejabat, maka akan melihat kumpulan rakyat kecil sebagai angka2 yang dapat dikalikan dengan satuan biaya yang menghasilkan proyek milyaran rupiah. Tetapi ia tidak mampu memandang butir-butir air mata kepedihan di balik mata2-matacekung rakyat kecil. Seorang sarjana akan mampu melihat keteraturan di alam semesta, tetapi tidak mampu menyimak Sang Pencipta di balik semua keteraturan itu. Seorang dokter segera dapat melihat gejala-gejala penyakit pasiennya, tetapi tidak mampu melihat sentuhan kemanusiaan di dalamnya; sehingga ia hanya memandang pasien sebagai sebongkah tubuh yang dapat dikalikan dengan jutaan sebagai biaya pemeriksaan.
Seorang ahli hukum cepat mengetahui pasal mana yang dapat dipakai untuk memenangkan perkaranya, tetapi buta dengan isyarat-isyarat keadilan; sehingga klainnya berubah menjadi sapi perahan.
“.... mereka mempunyai hati tetapi tidak mereka pergunakan untuk memahami; mereka punya mata tetapi tidak mereka pergunakan untuk melihat; mereka punya telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar; mereka seperti binatang, malah lebih sesat lagi; mereka adalah orang2 yang lalai”. (Al-araf 179)
Allahu Akbar, Allahu Akbar! Wa lillahilhamdu!
Hadirin kaum muslimin yang berbahagia!
Pada akhir tahun 1984 Lemhannas mengadakan seminar, memperbincangkan hal ihwal sikap dan tingkah laku bangsa Indonesia dalam era pembangunan. Hasil seminar menyimpulkan hal-hal sebagai berikut:
Pertama, bangsa Indonesia menampakan kecenderungannya mengagungkan harta. Artinya masyarakat sudah menjadi hamba harta atau menjadi budak dunia. Mereka menilai seseorang dengan ukuran kekayaan. Mereka telah menjadikan harta sebagai tujuan sehingga tak sedikit yang menghalalkan segala cara.
Lihat para pejabat sekarang. Lihat juga tempat parkirnya para wakil rakyat, nyaris seperti showroom yang diisi dengan mobil2 mewah. Perhatikan. Dulu ada namanya Gayus yang hanya punya golongan 3 uangnya sudah triliunan. Padahal secara syareat itu tidak mungkin bagi PNS selevel dia. Sekarang mungkin Rafael Aloen Trisambodo, atau pejaabat Pajak lainnya yang Istri-istrinya suka pamer kekayaan dan belanja-belanja barang mewah. Bahkan diberitakan ada pejabat bupati yang mempunyai pembantu saja sampai berjumlah 30 orang. Bisa dibayangkan. Para pejabat/pemimpin bangsa ini sudah defisit integritas dan kesederhanaan.
Ini sangat berbeda dengan para tokoh/founding fahter kita terdahulu. Moh. Hatta, yang memberi mas kawinya kepada Rahmi dengan BUKU “Alam Pikiran Yunani’. Dan ’terus menulis ngarang buku, istrinya menjahit pakaian untuk dana tambahan kebutuhan dapur. M Natsir, menteri penerangan tidak malu menjahit baju dinasnya yang robek, dan di sakunya ada totol2 tinta karena itulah satu-satunya baju dinas yang dimilikinya. Beberapa minggu kemudian, para pegawai Kementerian Penerangan mengumpulkan uang untuk membelikan baju agar “boss” mereka tampak seperti menteri beneran.
Ibu Lily atau Halimah, Istrinya Syafrudin pernah menyobek kain kasur dan menjadikannya sebagai gurita/popok, saat Chalid lahir, karena pak Syafrudin tak punya uang sama sekali untuk membeli gurita (popok). Padahal suaminya Syafrudin Prawiranegara pernah menduduki jabatan aheng, sebagai Gubernur Bank Indonesia, Menteri Keuangan, dan Menteri Kemakmuran bahkan pernah jadi wakil Perdana Menteri. “Ayahmu menteri keuangan, kata Lily kepada Aisyah sambil menyeka matanya yang basah. “Ayahmu mengurusi banyak sekali uang Negara, tetapi dia tak punya uang untuk membeli kain gurita bagi anaknya. Ayahmu sama sekali tak tergoda memakai uang Negara untuk membeli sepotong kain gurita.” Bandingkan dengan pejabat sekarang.
Kedua, bangsa Indonesia cenderung melakukan manipulasi.
Melakukan manipulasi adalah berbuat curang (mark up anggaran pembangunan), tidak jujur, menyalahgunakan wewenang kekuasaan, mengkhianati amanat, sehingga terjadilah perampokan uang negara, dana Bansos, dana pembangunan, oleh para petinggi negara.
Ketiga, bangsa Indonesia cenderung kepada fragmentasi.
Fragmentasi dimaksud adalah manusia tidak lagi dihormati sebagai “satu pribadi yang utuh”, tetapi dia dihormati, dihargai, disapa karena, pangkat, jabatan, kedudukan sosial, kekayaan dan sebagainya. Dia dihormati karena status sosialnya. Sementara kepada buruh, kuli bangunan, abang becak, cacah kulicahan, rendah secara ekonomi, dibawah secara pendidikan, wong cilik, dll jangankan menyantuni, menyayangi, dan menghargai, menyapapun dia malu. Itulah Fragmentasi; Perbuatan yang tidak mencerminkan rasa kemanusiaan yang adil dan beradab!
Keempat, bangsa Indonesia cenderung kepada individualisasi.
Rakyat/bangsa Indonesia sekarang sudah cenderung kepada individualisasi, yakni meletakakan kepentingan diri sendiri diatas segala-galanya. Biar orang lain rugi, asal diri sendiri untung. Biar orang lain menangis, merintih sedih yang penting diri sendiri bahagia. Biar orang lain merintih menahan rasa lapar yang penting diri sendiri bisa kenyang bahkan kamerkaan. Biar negara murat marit banyak utang asal diri sendiri dapat menumpuk harta sebanyak mungkin, kalau perlu bisa dinikmati sampai tujuh turunan oleh diri, keluarga, kelompoknya dan partainya supaya bisa memenangkan pemilu. Sudah jelas perbuatan ini sangat bertentangan dengan perintah Allah yang memerintahkan untuk saling membantu dan menolong orang lain. Serta bertentangan dengan rasa kemanusiaan.
Jika Seminar ini dilaksanakan tahun-tahun 2010-2023-an, maka penyakit Bangsa akan bertambah, yaitu bangsa Indonesia mengagungkan Media Sosial. Apapun segala diposting di media sosial. Sehinga sampai ada istilah ibu-ibu sosialita, dan sebagainya.
Allahu Akbar, Allahu Akbar! Wa lillahilhamdu!
Hadirin kaum muslimin yang berbahagia!
Dalam kacamata Islam orang yang terserang disebut diatas itu sudah terjangkit oleh sebuah penyakit yangat berbahaya. Bahkan lebih bahaya dari Corona. Apa penyakit itu? Kata Baginda Nabiyallah Muhammad Saw ialah penyakit “Wahn”. Apa WAHN itu, Cinta Dunia & Takut terhadap Mati. Inilah penyakit manusia Mutakhir! Penyakit yang menjadi pangkal kelemahan, kekalahan dan kemunduran. Mari kita perhatikan firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Al-Qaşāş ayat 77 ini:
“Dengan harta yang telah Allah berikan kepadamu, carilah kebahagiaan abadi di kampung akhirat. Jangan lupakan bagian kamu di dunia. Berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Janganlah berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak suka pada orang-orang yang berbuat kerusakan.” .
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ustaz-nurdin-qusyaeri.jpg)