Khutbah Idul Fitri 1444 H
Mengenal Penyakit Hati
Idul Fitri telah menghampiri. Hari Raya telah menyapa. Puasa berganti dengan berbuka. Yang tersisa sejatinya tinggallah takwa.
Sebenarnya, cinta dunia tidak terkait langsung dengan mencari, memiliki, dan menggunakannya, tetapi cinta dunia terkait dengan cara menyimpannya. Mencari, memiliki, dan menggunakan dunia tidak dilarang, bahkan dianjurkan. Cinta dunia lebih terkait dengan cara menyimpannya.
Ada tiga cara menyimpan dunia, yaitu di tangan, di bawah kaki, dan di dalam hati. Menyimpan dunia di tangan dan di bawah kaki tidak berbahaya karena tidak akan melahirkan cinta dunia. Namun, menyimpannya di dalam hati sangat berbahaya karena termasuk cinta dunia. Sampai Khalifah Umar bin Khattab berdoa: "Ya, Allah jadikanlah dunia dalam genggaman kami, jangan jadikan dunia di dalam hati-hati kami".
Allahu Akbar, Allahu Akbar! Walillahil Hamd
Hadirin kaum muslimin yang berbahagia!
Mari kita renungkan firman Allah dalam surat Fathir ayat 45:
“Sekiranya Allah menurunkan siksa kepada manusia karena (dosa-dosa) yang mereka lakukan, maka di atas punggung bumi ini tidak akan tinggal satu pun makhluk bergerak yang bernyawa ini hidup. Tetapi Allah tangguhkan (hukuman)-nya sampai waktu yang ditentukan. Apabila sudah datang waktunya, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hambanya.”
Hadirin kaum muslimin yang berbahagia!
Saya ingin mengajak bapak/ibu introspeksi/muhasabah semuanya. Boleh jadi Wahn ini atau “Penyakit Bangsa Mutakhir” ini; yaitu perilaku menumpuk/mengagungkan harta, menuhankan hp, uang, mobil, jabatan, dan kekuasaan ADA DALAM DIRI KITA. Boleh jadi perilaku licik, curang, budi ketus, bersikap tidak jujur, munafik, kasar, (manipulasi) ADA DALAM DIRI KITA. Sikap dan perilaku Tidak Menghargai (fragmentasi), individualis serta mengagungkan Medsos itu ADA DALAM DIRI KITA. Untuk itu mari kita hitung dosa-dosa yang kita lakukan. Iblis Pernah berkawan dengan salah seorang Muslim. Pada suatu hari si Muslim itu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga ia meninggalkan shalat.
Iblis menegur dia: “Aku takut berkawan denganmu. Dahulu aku diusir Tuhan karena tidak mematuhi perintah-Nya satu kali saja. Aku disuruh sujud kepada Adam dan aku membangkang. Sekarang ini dalam satu hari kamu membangkang perintah Tuhan sampai lima kali,” kata Iblis.
Sekarang mari kita ingat berapa banyak shalat yang kita tinggalkan dengan sengaja atau melalaikannya. Sekiranya tidak ada ampunan Allah, kita mungkin tidak lagi menghirup udara.
Sekarang kenanglah apa yang sehari-hari kita lakukan. Setiap saat kita melihat orang lain, terkadang kita berpikir bagaimana kita mengambil keuntungan dari mereka. Kita menjadi serigala satu sama lain. Kita saling menyerang, kita saling mendengki, kita saling menyakiti, kita saling menghina, kita saling menghancurkan, kita saling membinasakan. Semua kita lakukan agar kita bisa mengungguli orang lain; agar kita bisa memuaskan hawa nafsu kita yang rendah; agar kita bisa berpesta di atas penderitaan orang lain. Dengan sabar Tuhan tangguhkan azabnya kepada kita. Dengan penuh kasih Dia menunggu kita kembali tobat kepada-Nya.
Allahu Akbar, Allahu Akbar! Wa Lillahil Hamd.
Para ‘Aidin dan ‘Aidat, Faizin dan Faizat:
Pamungkas, mari kita renungkan; cobaan penyakit WAHN kadang datang dalam kehidupan keseharian kita yang menimbulkan keributan-keributan sepertinya sepele, seperti cekcok, ribut dengan pasangan, cekcok dengan anak, cekcok dengan orang tua, cekcok dengan tetangga, cekcok dengan teman kerja dan sebagainya. Kadang ribut, pasea marebutkeun yang bukan haknya. Itulah cobaan yang sering kita hadapi.
Untuk itu, hari ini marilah kita kenang orang-orag yang telah kita sakiti dengan lidah dan tangan kita. Kita kenang orang tua kita: Mungkin kita pernah membentak bapak, ibu, nenek kita atau menyampaikan kata-kata yang menusuk jantungnya padahal mereka adalah mahluk yang paling menyayangi dan banyak mengurus kita. Atau coba tanya hati kita: Pernahkah kita membuat air mata mereka berderai, setelah ayah dan ibu kita mandi keringat dan berlumuran darah untuk membesarkan kita tanpa pamrih? Atau malah kita sering membuat hati mereka menjerit nangis karena sikap perilaku dan budi kita. Mungkin karena kesibukan kita mencari dunia, hari ini datanglah kepada mereka dan minta maaflah. Akui Bersimpuhlah di kaki mereka. Dengan segala ketulusan hati, mohonlah maaf kepada mereka. Kata sebuah Hadits, Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang mendapati kedua orangtuanya sudah renta tapi (kondisi) keduanya tidak menyebabkan Anda masuk surga. Jika mereka telah tiada, menjeritlah dengan mengatakan “robbigh firli wali walidaya warhamhuma kama rabbayani shogiraa”.
Bapak-bapak: Hari ini marilah kita kenang orang-orang yang mungkin telah kita sakiti dengan lidah dan tangan kita. Tengoklah orang yang paling dekat dengan kita: yaitu istri kita. Pernahkah bapak membentak-bentak atau memaki-maki istri? Pernahkah kita melepaskan tangan dan memukulnya tanpa belas kasihan?
Pernahkah kita mengiris-iris hatinya dengan sikap dan perbuatan, sehingga dia menderita menangis di malam-malamnya? Pernahkah kita merendahkanya istri dengan memuji-muji istri yang lain dihadapanya? Padahal istri merupakan amanat Allah kepada kita untuk kita bahagiakan hatinya. Kata Nabi: “Laki-laki yang paling baik adalah yang terbaik kepada istrinya”.
Untuk itu datanglah. Buang kepongahanmu dan egoismu. Ulurkan tanganmu, mohonlah maaf kepadanya. Bertekadlah mulai saat ini akan memperbaiki sikap dan perilaku jelek dan akan membahagiakanya.
Ibu-ibu, kenanglah suamimu. Dalam keseharian ibu. Pernahkah ibu menampakan kekecewaan dengan perkataan lidah yang membuat suami sakit? Pernahkah ibu membebani suami diluar kemampuannya? Pernahkah ibu melukai hatinya dengan menyepelekan penghasilannya padahal dia telah bekerja keras, banting tulang peras keringat untuk membahagiakan ibu dan keluarga?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ustaz-nurdin-qusyaeri.jpg)