Khutbah Idul Fitri 1444 H

Mengenal Penyakit Hati 

Idul Fitri telah menghampiri. Hari Raya telah menyapa. Puasa berganti dengan berbuka. Yang tersisa sejatinya tinggallah takwa.

Editor: Arief Permadi
ISTIMEWA
Nurdin Qusyaeri, Kaprodi KPI IAI Persis Bandung 

Oleh: Nurdin Qusyaeri
Ketua Prodi Komunikasi Penyiaran Islam IAI Persis Bandung

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamdu

Hadirin kaum muslimin yang berbahagia!
Marilah kita mulai pagi yang cerah ini dengan memuji dan bersyukur keharibaan Allah SWT. Atas ridha dan nikmatnya, tahun ini kita masih bisa menikmati kehadiran Ramadhan.

Sebagai ungkapan rasa syukur, dengan kerendahan hati, kita kumandangkan takbir, tahmid dan tahlil, baik sendiri-sendiri maupun berkelompok, mengagungkan asma Allah, sekaligus melaksanakan perintah-Nya.

Ramadhan telah kita tinggalkan. Idul Fitri telah menghampiri. Hari Raya telah menyapa. Puasa berganti dengan berbuka. Yang tersisa sejatinya tinggallah takwa. Bukan kembali berlumur dosa. Begitulah seharusnya kita setelah puasa.

Allahu Akbar, Allahu Akbar! Wa lillahilhamdu!
Hadirin kaum muslimin yang berbahagia!
Sekarang, perlahan-lahan, sedikit demi sedikit marilah kita kosongkan pikiran kita sejenak. Pejamkan matanya beberapa detik. Bayangkan. Ingat-ingat, Siapa kira-kira orang yang paling berjasa dalam hidup Anda! Lihat ke kiri dan ke kanan. Periksa orang-orang terdekat yang anda cintai: Ibu, ayah, kakak-adik, istri, suami, sahabat, kekasih, tetangga dan handai taulan.

Mungkin ada di antara mereka yang tidak bisa berkumpul lebaran bersama? Mungkin ada di antara mereka yang tidak ikut mempersiapkan Lebaran bersama kita. Mereka tidak ikut menggemakan takbir, tahmid dan tahlil bersama kita. Mereka tidak ikut ke lapang bersama kita. Karena mereka telah mendahului kita. Mungkin setahun, beberapa bulan, beberapa minggu, bahkan beberapa hari yang lalu. Mereka lebih dulu “mudik” ke kampung halaman abadi, yaitu Kampung Akhirat.

Padahal tahun lalu mereka masih senda gurau dengan kita. Mereka masih kumpul, menyiapkan idul fitri dan saling bersalaman sambil berpelukan. Ya Allah hari ini kami yang mengenang mereka, tahun depan siapa tahu kamilah yang dikenang dan diingat. Semoga engkau ya Allah berkenan memasukan rasa kebahagiaannya di alam kubur serta berkenan mengampuni atas khilaf serta salahnya ketika di dunia. Aamiin.

Allahu Akbar, Allahu Akbar! Wa lillahilhamdu!
Hadirin kaum muslimin yang berbahagia!
Idul Fitri tahun ini sama-sama kita rayakan saat warga dunia ini masih dirundung oleh ragam ujian. Konflik internasional juga terus terjadi, antara Amerika Serikat dan Iran, konflik Israel versus Palestina, dan konflik di Ukraina dan Rusia.

Di dalam negeri, konflik sosial dan juga kerusuhan masih sering terjadi. Belum lagi ujian Banjir dan tanah longsor juga sering terjadi dan mengakibatkan kerugian besar bagi masyarakat dan infrastruktur.

Elit politik masih terus disibukkan bermanuver dalam rangka memenangkan persaingan dan perselisihan. Tampak nyata hasrat dan nafsu untuk saling berebut jabatan mempertahankan kekuasaan. Ego pribadi. Kehendak golongan. Kepentingan partai. Tak jarang mendominasi. Saling sikut berebut kursi. Bahkan berebut jabatan ketum partai-pun terjadi.

Masing-masing siap mengorbankan apa saja. Bahkan siap mengorbankan siapa saja, tak peduli rakyat kecil. Demi jabatan dan kekuasaan. Padahal jabatan dan kekuasaan sesungguhnya hanyalah amanah yang bisa berujung penyesalan di Hari Pembalasan. Demikian sebagaimana sabda Nabi saw.:

"Sungguh kalian benar-benar berhasrat terhadap kekuasaan, sementara kekuasaan itu (jika tidak dijalankan dengan amanah) akan berujung penyesalan (bagi pemangkunya) pada Hari Kiamat ." (HR al-Bukhari)

Hadirin kaum muslimin yang berbahagia!
Allah telah menjadikan Ramadhan sebagai bulan pelatihan/training bagi kaum muslimin untuk memelihara keseimbangan antara jasmani dan ruhani/spiritual, antara dunia dan akhirat. Dengan sikap yang jujur dan ikhlas kita akui bahwa kita sering kehilangan keseimbangan, hingga terasa hidup ini berat sebelah, yang dapat mengakibatkan kehancuran lahir bathin atau kesengsaraan yang tidak putus-putus di akhirat kelak.

Di bidang pengetahuan, kita terlalu memusatkan perhatian kepada bagaimana mencerdaskan otak dan akal pikiran. Kita asah otak kita, sehingga menjadi tajam; kita kumpulkan macam-macam corak dan cabang ilmu pengetahuan, sehingga kita menjadi ilmuwan yang terampil dan cekatan, akan tetapi kita lupa memberikan perhatian kepada ruhani kita, kita biarkan ia hampa kosong tidak berisi. Padahal ruhani itulah yang merupakan ukuran untuk menentukan apakah kita insan atau bukan insan.

Seorang ahli hikmat mengatakan: “perhatikan rohanimu dan cukupkan segala kebutuhanya! Engkau dinamakan insan, bukan karena jasadmu! Tetapi karena rohanimu!”

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved