Ketum PPP Diganti

Ini Efek Domino Pemberhentian Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa Menurut Pengamat Politik Unpad

Dilengserkannya Suharso Monoarfa dari kursi Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dinilai didasari akumulasi masalah sebelumnya.

Penulis: Nazmi Abdurrahman | Editor: Giri
Tribun Jabar/ Muhamad Syarif Abdussalam
Suharso Monoarfa (kedua dari kiri). Suharso Monoarfa diberhentikan dari Ketua Umum PPP. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nazmi Abdurahman 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Dilengserkannya Suharso Monoarfa dari kursi Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) merupakan bagian akumulasi masalah-masalah yang terjadi sebelumnya.

Hal itu dikatakan pengamat politik Universitas Padjadjaran (Unpad), Firman Manan.

Setelah Suharso Monoarfa diberhentikan, PPP saat ini dipegang Muhammad Mardiono sebagai pelaksana tugas ketua umum. 

Keputusan ini diambil dalam forum Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) yang digelar di Serang, Banten, Minggu (4/9/2022). 

Baca juga: SOSOK Suharso Monoarfa Ketua Umum PPP yang Diberhentikan Majelis Tinggi, Ini Rekam Jejaknya

"Saya berpikir bukan hanya soal itu (salah ucap), walaupun agak fatal. Tapi kan bisa diselesaikan. Saya menduga ini akumulasi persoalan internal yang tidak terselesaikan, sehingga kasus ini jadi puncaknya, digunakan sebagai momentum untuk menurunkan Suharso Monoarfa," ujar Firman saat dihubungi Senin (5/9/2022). 

Pergantian posisi ketua umum PPP ini pun, kata dia, bakal berdampak negatif terhadap internal partai.

Sebab, kata dia, saat ini sudah memasuki tahapan Pemilu 2024. 

Firman Manan, pengamat politik dari Universitas Padjajaran, di Morning Glory Cafe, Minggu (12/11/2017).
Firman Manan, pengamat politik dari Universitas Padjadjaran, menilai konflik di internal PPP merugikan partai menjelang Pemilu 2024. (TRIBUNJABAR.CO.ID/FERRY FADHLURRAHMAN)

"Tentu yang harusnya dilakukan partai-partai itu kan konsolidasi internal, untuk menghadapi pemilu legislatif, pilkada dan pilpres. Jadi saya pikir ini sangat mengganggu dalam hal konsolidasi internal partai," ucapnya.

Selain itu, kata dia, pemberhentian Suharso Monoarfa juga akan berdampak pada Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang sudah dibangun PPP bersama PAN dan Golkar. 

Baca juga: PPP Jabar Tidak Bisa Tentukan Sikap Atas Konflik yang Terjadi di Pusat, Ini Alasannya

"Tentu saja kejadian ini akan mengganggu terutama dalam konteks koalisi karena selama ini kan kalau kita bicara level strategis yang mendiskusikan banyak hal itu termasuk mencapai kesepakatan kan ketua umum, termasuk di dalamnya Suharso Monoarfa. Jadi ada kerugian satu PPP secara internal, dalam konteks konsolidasi menghadapi Pemilu dan juga untuk koalisi sendiri, termasuk ada dampak ke partai lain yang jadi anggota KIB," katanya. 

Ia menyarankan agar petinggi PPP segera melakukan konsolidasi untuk menyelamatkan PPP. 

Baca juga: PPP Ungkap Dasar Berhentikan Suharso Monoarfa sebagai Ketua Umum PPP, Ada Ketegangan di Internal

"Saya pikir harus segera bertemu pihak-pihak yang berkonflik itu untuk mencapai kesepakatan, ini kan bukan masalah orang per orang. Yang harus diselamatkan itu partai, apalagi PPP menurut saya, salah satu aset, partai yang sudah lama di Indonesia, berideologi Islam," ucapnya. (*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved