Survei IPRC, 40,6 Persen Warga Ingin Sosok Calon Wali Kota Asli Bandung, Masih Minim Bincang Politik

Lembaga survei Indonesian Politics Research & Consulting (IPRC) merilis temuan survei yang mereka  yang digelar pada

Penulis: Muhamad Nandri Prilatama | Editor: Ichsan
tribunjabar/nandri prilatama
Lembaga survei Indonesian Politics Research & Consulting (IPRC) merilis temuan survei yang mereka lakukan mulai 20 Juli sampai 30 Juli 2022. Dalam rilis survei ini hadir di antaranya, peneliti IPRC, Fahmy Iss Wahyudy, Direktur Operasional dan Data Strategis IPRC, Idil akbar, Komisioner Bawaslu Kota Bandung, Fereddy, Komisioner KPU Kota Bandung, Adi Presetyo, dan perwakilan dari Kesbangpol Kota Bandung, Jumat (26/8/2022) di Jalan Merdeka. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Lembaga survei Indonesian Politics Research & Consulting (IPRC) merilis temuan survei yang mereka  yang digelar pada 20 Juli sampai 30 Juli 2022.

Dalam rilis survei ini hadir di antaranya peneliti IPRC, Fahmy Iss Wahyudy, Direktur Operasional dan Data Strategis IPRC, Idil akbar, Komisioner Bawaslu Kota Bandung, Fereddy, Komisioner KPU Kota Bandung, Adi Presetyo, dan perwakilan dari Kesbangpol  Kota Bandung di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Jumat (26/8/2022).

Fahmy mengatakan dalam survei yang dilakukannya ini menggunakan responden sebanyak 1.002 orang dengan metode multistage random sampling. Dari jumlah 1.002 orang ini, ada sebanyak 934 orang atau 93 persen yang berhasil diwawancarai dengan margin eror sekitar 3,2 persen dan tingkat kepercayaan sekitar 95 persen.

"Kami melakukan survei di 30 kecamatan yang ada di Kota Bandung dengan paling banyak wilayah Babakan Ciparay dan Cinambo yang terkecil. Responden laki-lakinya itu sekitar 50,4 persen sedangkan perempuannya 49,6 persen," katanya.

Baca juga: DPD PAN Kota Cirebon Targetkan Rekrut 50 Caleg untuk Pemilu 2024, Baru Terisi 80 Persen

Fahmy mengatakan pihaknya dalam survei ini berfokus pada politik identitas yang pembahasannya terkait sosok pemimpin baik segi agama, etnis, maupun suku.

Namun, menjadi permasalahan ialah perbincangan politik terkait pemilu 2024 masih sangat kurang perhatian bagi masyarakat Bandung dari berbagai usia. 

Hal ini disebabkan belum adanya peristiwa politik yang dapat menjadikannya pembahasan baik saat berkumpul atau melalui media sosial.

"Dari survei yang kami lakukan, pemilu 2024 ternyata politik identitas ini bukanlah menjadi tren. Dan perbincangan politik masih minim lantaran belum ada peristiwa politik yang bisa mendongkrak isu-isu untuk diperbincangkan. Perbincangan politik akan tinggi ketika ada aktor dan peristiwa politik," ujarnya.

Berdasarkan data survei IPRC, sebanyak 37,2 persen warga Bandung kurang tertarik membahas politik atau pemilu 2024 dengan alsan masih bukan prioritas. Lalu, 40 persennya tak pernah bicarakan politik ketika berkumpul, serta ada sebanyak 59 persen tak menggunakan media sosial dalam membicarakan politik.

Baca juga: KPU Sumedang Keliling SMA, Harapkan Partisipasi Politik Kaum Milenial dan Gen Z Meningkat di Pemilu

"Tapi, yang bisa diketahui dari survei ini ada sekitar 40,6 persen warga Bandung ingin sosok wali kota selanjutnya ialah harus orang Bandung dan tak ingin adanya dinasti politik," kata Fahmy, seraya menyebutkan alasan responden memilih ingin warga asli Bandung lantaran supaya mengetahui permasalahan di Kota Bandung.

Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved