Polisi Sita 1 Ton Sabu Sabu

Hati-hati, Ini Cara Jaringan Narkoba Internasional Rekrut ''Pekerja Lokal'' Seperti di Pangandaran

Sebelum polisi menggagalkan penyelundupan sabu-sabu, ada bule yang berkeliaran di desanya dan meminta warga di Mandalasari mengantarnya ke laut

Subdit 1 Ditresnarkoba Polda Jabar
Narkoba jenis sabu-sabu seberat satu ton diamankan Subdit 1 Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Jabar, di Pangandaran, Rabu (16/3/2022). 

Komentar Yesmil Anwar menyusul kasus penyelundupan 1 ton sabu-sabu melalui Pangandaran, Jawa Barat.

"Saya melihat bukan kali ini saja yang seperti ini, peredaran narkoba dalam jumlah besar dan melibatkan penduduk di daerah tempat asalnya, di beberapa daerah lain seperti di Aceh juga melibatkan masyarakat," ujar Yesmil Anwar saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (17/3/2022). 

Kriminolog Universitas Padjadjaran (UNPAD) Yesmil Anwar.
Kriminolog Universitas Padjadjaran (UNPAD) Yesmil Anwar. (KOMPAS.COM / PUTRA PRIMA PERDANA)

Baca juga: Kasus Sabu-sabu 1 Ton di Pangandaran, Kepala Dusun dan Pebalap Wanita Asal Tasik Ikut Ditangkap

Menurutnya, gembong narkoba jaringan internasional memiliki jaringan yang kuat sehingga dapat dengan leluasa menggiring warga lokal, masuk dalam pusaran bisnis haram tersebut. 

"Pendekatannya mereka itu sudah sangat canggih. Dia mengikuti alur budaya yang ada di situ karena akan lebih bisa diterima. Mereka tahu betul daerah yang akan dituju apalagi ini jaringan internasional dan jumlah uang yang ditawarkan kepada kuwu dan warga sekitar, biasanya besar," katanya. 

Menurutnya, dalam kasus seperti ini dibutuhkan peran aktif dari pemerintah daerah serta sejumlah tokoh untuk turut melakukan pengawasan. 

"Ini sebenarnya menjadi persoalan penegakan hukum juga, bukan Pemda sebagai penegak hukum. Ini harus ditunjang dengan kerja sama antara Pemda, polisi, tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh politik karena tak jarang pelaku yang dilibatnya itu sangat militan, rela melakulan apa saja untuk para gembong itu," ucapnya. 

Jangan sampai, kata dia, pejabat daerah sekelas camat atau kepala desa tidak tahu apa saja aktivitas warganya.  

"Ini kecolongan karena gembong internasional itu paham betul bekerja di satu tempat, mereka punya pengalaman dalam kejahatan ini."

"Laporan dari masyarakat juga penting, kadang-kadang masyarakat itu cuek, tidak peduli dengan hal itu, apalagi ini ada kuwu yang sudah terlibat," katanya. (padna/nandri prilatama/nazmi abdurahman/firman suryaman)

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved