Breaking News
Senin, 27 April 2026

Masih impor, Indonesia Berpeluang Membangun Industri Kimia Soda Ash

Melihat banyak produk yang dibutuhkan masyarakat berbahan baku soda ash bisa menjadi peluang membangun industri soda ash

Tribun Jabar/Siti Fatimah
ilustrasi Baterai listrik yang sedang dikembangkan untuk mendukung pembangunan industri kendaraan listrik nasional 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Hampir semua kebutuhan kimia dalam negeri dipenuhi dari impor. Salah satunya soda ash yang merupakan bahan baku produk-produk yang dibutuhkan masyarakat seperti deterjen, kemudian kaca beserta produk turunannya seperti gelas dan cermin, sampai untuk pasta gigi.

Presiden Direktur PT Kaltim Parna Industri Hari Supriyadi mengatakan banyak produk yang dibutuhkan masyarakat berbahan baku soda ash yang pemenuhannya didominasi impor.

Selain produk-produk yang saat ini banyak digunakan, kendaraan listrik yang disebut-sebut merupakan transportasi masa depan pun membutuhkan soda ash untuk pembuatan baterainya.

Baca juga: Komisi II Dorong Peningkatan Pelayanan di Satpel Pengembangan Industri Pertekstilan Bandung

"Untuk baterai mobil listrik juga menggunakan soda ash. Jadi sangat banyak turunan dari soda ash. Tapi kenapa Indonesia masih impor," katanya dalam konferensi pers virtual terkait lomba esai nasional yang diselenggarakan dalam rangka memperingati 80 tahun Pendidikan Tinggi Teknik Kimia di Indonesia, Senin (21/6).

Hari mengatakan, dalam setahun Indonesia membutuhkan sekitar 1,2 juta ton soda ash.

Dari jumlah itu, 90 persen dipenuhi dari hasil impor.

Sedangkan, kebutuhan di Asean mencapai 2,9 juta ton.

Menurut dia, kebutuhan ini akan terus meningkat terutama jika penggunaan kendaraan listrik sudah semakin banyak.

Sebagai contoh, kebutuhan soda ash di Tiongkok terus meningkat hingga 2 juta ton per tahun.

Baca juga: Kembangkan Industri Kopi, bjb Pererat Kerja Sama dengan Kelompok Tani Wanoja

Oleh karena itu, dia berharap Indonesia mampu memenuhi kebutuhan soda ash sendiri sehingga tidak perlu impor lagi.

"Kita rindu memiliki industri kimia soda ash. Untuk mewujudkan hal itu sangat memungkinkan terutama mengingat Indonesia memiliki bahan baku dan sumber daya manusia yang kompeten. Kita punya resources yang kuat, kita punya banyak SDM yang mumpuni. Tapi kenapa mencari mudahnya saja dengan memilih impor," katanya.

Terlebih, menurutnya, saat ini terdapat pabrik kaca terbesar di Batang, Jawa Tengah yang tentunya membutuhkan soda ash dalam jumlah yang besar. 

"Alangkah baik ya kalau pabrik kaca ini soda ash-nya disuplai dari dalam negeri. Agar memberi nilai tambah, menghemat devisa, membuka lapangan kerja, dan banyak sekali keuntungannya," kata dia.

Dia menyebut bahwa industri kimia termasuk soda ash pernah dibangun pada 1990-an.

Namun ada kendala saat krisis ekonomi 1998. Pernah juga dibangun di NTT yang dekat dengan sumber garam bahan baku soda ash, namun tak berjalan baik.

Baca juga: Sumedang Genjot Kawasan Buahdua-Ujungjaya-Tomo, Kembangkan Industri di Timur untuk Kesejahteraan

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved