Kedelai Impor, Gula, dan Daging Sapi Masih Lampaui HET di Jawa Barat
Kedelai impor menjadi komoditas dengan selisih harga tertinggi di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) atau Harga Acuan Penjualan (HAP).
Penulis: Nappisah | Editor: Siti Fatimah
Ringkasan Berita:
- Sejumlah komoditas kebutuhan pokok di Jawa Barat masih mengalami kenaikan harga hingga akhir April 2026.
- Kedelai impor menjadi komoditas dengan selisih harga tertinggi di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) atau Harga Acuan Penjualan (HAP)
- Harga kedelai impor saat ini berada di angka Rp13.463 per kilogram
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG -Sejumlah komoditas kebutuhan pokok di Jawa Barat masih mengalami kenaikan harga hingga akhir April 2026. Kedelai impor menjadi komoditas dengan selisih harga tertinggi di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) atau Harga Acuan Penjualan (HAP).
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat, Nining Yuliastiani, mengatakan harga kedelai impor saat ini berada di angka Rp13.463 per kilogram.
"Angka tersebut melampaui HET Rp12.000 per kilogram atau memiliki gap sebesar 12,19 persen," ujarnya, Rabu (29/4/2026).
Nining menjelaskan, kenaikan harga kedelai impor dipengaruhi sejumlah faktor eksternal maupun internal.
"Dari sisi global, harga soybean di Chicago Board of Trade (CBOT) menunjukkan tren meningkat. Per 27 April 2026, harga soybean tercatat 11,66 dolar AS per bushel, naik 2,4 cents atau 0,2 persen dibanding hari sebelumnya," ucapnya.
Baca juga: Harga Kedelai Melambung, Pedagang Tahu di Pasar Cicadas Menjerit: Tak Berani Naikkan Harga
Selain itu, nilai tukar rupiah yang melemah turut menambah tekanan pada harga kedelai nasional.
“Nilai tukar rupiah yang terus melemah semakin menambah tekanan pada harga kedelai di Indonesia, mengingat ketergantungan impor yang sangat tinggi,” kata Nining.
Nining mengatakan berdasarkan data Direktorat Impor Kementerian Perdagangan menunjukkan hampir seluruh impor kedelai Indonesia masih bergantung pada Amerika Serikat.
"Pada periode Januari-Februari 2026, impor kedelai dari Amerika Serikat mencapai 21.599.919 kilogram atau setara 95,91 persen dari total impor nasional," katanya.
Sisanya berasal dari Kanada sebesar 3,92 persen, Bolivia 0,09 persen, Malaysia 0,08 persen, dan Republik Rakyat Tiongkok.
Nining menyebut, tingginya ketergantungan impor ini membuat harga kedelai domestik rentan terhadap gejolak pasar global.
“Petani kedelai masih menjadi price taker dengan posisi tawar yang lemah,” ujarnya.
Dia menjelaskan, dampak kenaikan harga kedelai mulai dirasakan pelaku usaha pangan.
"Di pasar, muncul fenomena penyusutan ukuran tempe dari semula 400 gram menjadi 300 gram, namun harga jual tetap atau bahkan meningkat," katanya.
| Harga Kedelai Melambung, Pedagang Tahu di Pasar Cicadas Menjerit: Tak Berani Naikkan Harga |
|
|---|
| Harga Kedelai di Bandung Tembus Rp10.000: Imbas Konflik Timur Tengah dan Ketergantungan Impor |
|
|---|
| Siasat Perajin Tempe Purwakarta Hadapi Harga Kedelai: Potongan 25 Cm Jadi 20 Cm, Harga Tetap Rp4.000 |
|
|---|
| Harga Kedelai Naik, Produsen Tempe di Cimahi Perkecil Ukuran agar Harga Tempenya Tak Ikut Naik |
|
|---|
| Harga Kedelai Impor Naik Bikin Produksi Tempe di Cimahi Turun 30 Persen |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ilustrasi-mengolah-kedelai-menjadi-tahu.jpg)