Wawancara Eksklusif

WAWANCARA EKSKLUSIF Katharina Stögmüller, Kisah Sedih dan Lucu sebagai Anak Blasteran Austria-Jawa

Berikut wawancara eksklusif dengan Katharina Stögmüller, blasteran Austria-Jawa yang menulis buku Ich Komme aus Sewon (Saya dari Sewon).

Editor: Hermawan Aksan
Tribunnews.com
Katharina Stögmüller, blasteran Austria-Jawa yang menulis buku Ich Komme aus Sewon (Saya dari Sewon). 

Bagi banyak orang Eropa, feminisme adalah hal yang diterapkan cukup mapan di sana, di sini mungkin belum.

Dengan latar belakang sebagai seorang anak yang memiliki ayah orang Eropa, apakah ini cukup mendominasi dengan pemikiran-pemikiran kamu tentang wanita?

Iya sih, ini memang juga saya rasakan.

Terutama belakangan ini, ketika teman-teman wanita saya sudah di-oyak-oyak (dikejar-kejar) harus menikah, sedangkan bapakku santai aja begitu.

Memberi kebebasan saya untuk memilih, entah itu mau bekerja, dll.

Ada perbedaan perspektif dari sosok ayah dan ibu yang kamu rasakan?

Beda, sih. Kalau Papa lebih bebas namun tetap tanggung jawab dengan apa yang dilakukan. Tapi kalau Mama, menjunjung norma ketimuran yang ada di sini.

Misal, untuk urusan jam malam ini sempat menyulitkan saya ketika awal kuliah.

Ibu meminta saya ketika jam 7 malam itu sudah harus berada di rumah, sedangkan di kampus terkadang kegiatan memang harus berlangsung sampai malam.

Biasanya sih Papa yang belain.

Apa yang ingin Katharina Stögmüller sampaikan melalui buku Ich Komme aus Sewon ini?

Saya ingin ke depan apa yang terjadi ke saya tidak terjadi lagi ke berikutnya.

Apalagi, sekarang mulai banyak pernikahan campuran antara bule dan orang Indonesia kemudian mereka punya anak.

Ya, semoga anak-anak ini tidak merasakan lagi apa yang sudah saya rasakan waktu dulu.

Kita seharusnya memandang semua ras itu sama, sederajat. Jangan inferior, juga memandang rendah ras yang lain.

Apa rencana ke depan kamu?

Jangka waktu ke depan memiliki rencana untuk melanjutkan studi ke luar negeri.

Mau ambil jurusan hukum lagi, spesifiknya hukum HAM. Kalau keinginannya sih di Belanda, Leiden University mungkin. (han)

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved