Wawancara Eksklusif

WAWANCARA EKSKLUSIF Katharina Stögmüller, Kisah Sedih dan Lucu sebagai Anak Blasteran Austria-Jawa

Berikut wawancara eksklusif dengan Katharina Stögmüller, blasteran Austria-Jawa yang menulis buku Ich Komme aus Sewon (Saya dari Sewon).

Editor: Hermawan Aksan
Tribunnews.com
Katharina Stögmüller, blasteran Austria-Jawa yang menulis buku Ich Komme aus Sewon (Saya dari Sewon). 

Misal ketika berada di kampus, lebih mudah mendapatkan teman dan berbaur.

Selebihnya saya tidak merasakan privilese apa-apa. Biasa saja.

Stereotyping yang banyak ada di sini adalah orang melihat saudara kita ras kaukasoid memiliki sesuatu yang lebih. Apakah itu juga kamu rasakan?

Sempat merasakan juga sih, kebanyakan waktu masih zaman-zaman sekolah.

Pernah suatu ketika suka dengan teman sekelas, lalu dia nyeletuk "Bule kan pinter, masa kamu bodoh sih," seperti itu.

Tapi ya sudah, dari itu saya belajar.

Pengalaman tak mengenakan apa yang kamu pernah alami?

Ada sih pengalaman waktu SD, ditanyain apakah bapak saya punya istri lain di negara asalnya.

Mungkin stereotip, perempuan (Indonesia) yang menikah dengan bule itu menjadi istri kedua, sementara si bule sudah punya istri di negara asalnya.

Sedangkan, waktu itu saya jelaskan, bahwa orang tua saya menikah di usia yang relatif masih muda, 26 tahunan.

Tetapi ketika itu guru saya tetap kekeh, tetap tidak menerima penjelasan itu.

Menurut saya, bagian itu memang tidak lucu sih. “Mbuh tenan, mbuh ora (entah benar entah tidak),” mungkin seperti itu dia menerimanya.

Apa susahnya menulis buku? Dibandingkan menulis esai atau blog?

Kalau nulis buku itu harus ada idenya terus, itu sih susahnya.

Berpikir cerita selanjutnya tentang apa sih, sama dikejar deadline juga sih waktu itu. Kalau nulis artikel, ya, lebih bebas dan tidak ada deadline-nya.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved