Wawancara Eksklusif

WAWANCARA EKSKLUSIF Katharina Stögmüller, Kisah Sedih dan Lucu sebagai Anak Blasteran Austria-Jawa

Berikut wawancara eksklusif dengan Katharina Stögmüller, blasteran Austria-Jawa yang menulis buku Ich Komme aus Sewon (Saya dari Sewon).

Editor: Hermawan Aksan
Tribunnews.com
Katharina Stögmüller, blasteran Austria-Jawa yang menulis buku Ich Komme aus Sewon (Saya dari Sewon). 

TRIBUNJABAR.ID - Tak dimungkiri, cara pandang rasial masih melekat dan memengaruhi sikap sebagian masyarakat Indonesia terhadap orang asing, khususnya ras kaukasoid.

Strata warga kulit putih dipandang lebih tinggi.

Hal itu ditambah, produk kebudayaan modern baik iklan maupun film mengukuhkan standar kerupawanan kulit putih.

Struktur politik global mempertahankan dan mewajarkan kolonialisasi lewat produk budaya visual.                         

Pengalaman hidup istimewa sebagai anak blasteran diceritakan Katharina Stögmüller dalam buku berjudul Ich Komme aus Sewon atau yang dalam bahasa Indonesia berarti Saya dari Sewon.

Segala prasangka bahwa orang barat lebih segala-galanya nyatanya membuat Mbak Bul, sapaan akrab Katharina, kerap kali merasa tidak nyaman.

Namun pengalaman-pengalaman itu ia kemas dalam bahasa jenaka, sekaligus kontemplatif di saat bersamaan dalam bukunya.

Memang benar berkat anugerah “gen” dari sang ayah, Mbak Bul memiliki wajah yang agak kebule-bulean, hidung mancung, dan rambut yang berwarna agak pirang.

Di sisi lain, ia pun "mewarisi" aksen medok dari sang ibu.

Namun nyatanya, hidup sebagai anak blasteran dari pasangan Gunther Stögmüller (Austria) dan Lucky Toar (Indonesia) dihadapkan pada banyak kesulitan seperti rumit dan mahalnya mengurus izin tinggal, dikenai tarif turis asing yang selangit ketika hendak berwisata, bahkan stereotip tidak mengenakkan yang mengarah padanya.

Berikut wawancara eksklusif Tribun Jogja dengan Katharina Stögmüller:

Bagaimana ceritanya bisa menulis buku tersebut dan menceritakan apa yang selama ini kamu rasakan ketika tinggal di Jogja?

Awalnya saya beberapa kali mendapat kesempatan untuk menulis di Mojok.co, sama ada tulisan di Magdalene.co.

Terus tulisan yang terakhir tentang Kristen Gray itu kebetulan dibaca sama editor buku Mojok.

Setelah itu, saya di-DM (direct message), dan ditanya bagaimana bila tulisan saya itu dibikin buku.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved