Breaking News:

Sosok NA Pengirim Sate Lontong Beracun di Bantul, Anak yang Pendiam dan Jarang Bercerita

Setelah ditelusuri TribunJabar.id, NA merupakan warga asal Desa Buniwangi, Kecamatan Palasah, Kabupaten Majalengka.

Editor: Ravianto
KOMPAS.COM/MARKUS YUWONO
Tersangka NA, pengirim sate beracun di Mapolres Bantul, Senin (3/5/2021) 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto

TRIBUNJABAR.ID, MAJALENGKA - Perempuan berinisial NA kini tengah menjadi perbincangan.

NA ditangkap polisi karena menjadi dalang kasus sate lontong maut di Bantul. pengirim sate lontong beracun tertangkap

Setelah ditelusuri TribunJabar.id, NA merupakan warga asal Desa Buniwangi, Kecamatan Palasah, Kabupaten Majalengka.

Ini ditetapkan sebagai tersangka karena terlibat dan menjadi dalang sate lontong beracun yang menewaskan anak pengemudi ojek online di Bantul, Yogyakarta.

Sejatinya sosok NA merupakan orang yang baik di lingkungan rumahnya.

Hal ini disampaikan sendiri oleh ayah NA, Maman (45) saat ditemui di rumahnya, Senin (3/5/2021).

Maman mengatakan, selain baik, sosok NA memang pendiam.

Baca juga: Pengirim Sate Lontong Beracun Akhirnya TERUNGKAP, Targetnya Polisi Penyidik Senior

Ini terlihat dari sifat anaknya saat berada di rumah.

"Suka pulang ke rumah. Kelakuan di rumah pendiam, jarang cerita apa pun, terutama asmara juga tidak," ujarnya.

Masih kata Maman, sepuluh tahun lalu, anaknya tersebut pamit untuk bekerja ke Bantul, Yogyakarta.

Saat itu, anaknya tersebut diajak bekerja sebagai pedagang oleh temannya.

Suasana rumah NA di Majalengka. NA terlibat dalam kasus sate beracun yang menewaskan anak pengemudi ojol di Bantul.
Suasana rumah NA di Majalengka. NA terlibat dalam kasus sate beracun yang menewaskan anak pengemudi ojol di Bantul. (TribunCirebon.com/Eki Y)

"Kalau tidak salah 2014 ia berangkat kerja ke Bantul. Setelah lulus SMP, pulang setiap Lebaran. Tapi sebelum puasa (kemarin) dia sempat pulang juga," ucapnya.

Ia pun hanya pasrah dengan hukum yang menjerat anaknya tersebut.

Maman berharap, ada keringanan hukuman untuk NA.

Seperti diketahui, NA merupakan perempuan asal Majalengka, Jawa Barat.

Dia diringkus di kediamannya, Potorono, Banguntapan, Bantul pada Jumat (30/4/2021) lalu usai diduga terlibat dalam kasus kematian Naba Faiz, Minggu (24/4/2021) silam.

Naba Faiz, warga Salakan, Bangunharjo, Sewon, Bantul, DIY meninggal dunia usai mengonsumsi sate beserta bumbu yang dibawa oleh ayahnya, Bandiman, Minggu (25/4/2021).

Baca juga: TERUNGKAP Sudah Racun Apa yang Ada di Sate Lontong yang Tewaskan Bocah di Bantul, Mirip Gula

Sang ayah yang berprofesi sebagai pengemudi ojol itu memperoleh makanan tersebut dari seseorang bernama Tommy di Kasihan, Bantul, yang menolak kiriman sate bumbu tersebut.

Tommy yang berada di luar kota meminta agar sate tersebut diberikan kepada Bandiman melalui istrinya yang sedang di rumah.

Bandiman sendiri sebelumnya diminta mengirimkan paket itu dari seorang perempuan tak dikenal yang ditemuinya di salah satu masjid sekitaran Stadion Mandala Krida, Semaki, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Minggu.

Si perempuan memesan jasa pengiriman secara manual atau tanpa melalui aplikasi.

Perempuan misterius tersebut juga sempat menyampaikan kepada Bandiman, bahwa paket itu merupakan makanan takjil.

Sosok pengirimnya, menurut sang perempuan, adalah 'Hamid dari Pakualaman'.

Baca juga: Keluarga NA di Majalengka Kaget Tahu Anaknya Dalang Kasus Sate Beracun, Sempat Pulang Sebelum Puasa

perjalanan kasus sate lontong beracun

Polisi akhirnya berhasil mengungkap misteri di balik kasus sate beracun yang menewaskan anak seorang pengemudi ojek online di Bantul, Yogyakarta.

Aparat Satreskrim Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menangkap  NA (25),  wanita yang mengirimkan sate beracun tersebut.

Direskrimum Polda DIY Kombes Pol Burkan Rudy Satria menjelaskan, wanita asal Majalengka, itu ditangkap pada Jumat (30/4) lalu.

Ia dicokok di kediamannya di Potorono, Bantul, Yogyakarta.

”Tersangka tidak melarikan diri, kami amankan di rumahnya,” katanya saat jumpa pers di Mapolres Bantul, Senin (3/5).

Rudy menyebut identitas tersangka terungkap berkat kerja sama Polsek Sewon, Polres Bantul,dan masyarakat yang menjadi saksi.

”Keterangan saksi, akurasi cukup bagus. Keterangan dari ojolnya cukup detail. Memang ada beberapa CCTV kita ambil dari titik bisa kepastian bahwa ini orang yang terlibat,” ujar Burkan.

”Yang ketiga, sate buka siang hari, kan spesifik 15.30 WIB sate ada di tangan dia. Artinya dia beli sebelumnya dan artinya di lokasi penyerahan itu sate yang buka siang hari,” ujarnya.

Gadis Muda Berkulit Putih, Ciri-ciri Perempuan Pemilik Sate Beracun yang Tewaskan Bocah di Bantul

Selain mencari warung sate yang buka siang, bentuk lontong juga jadi petunjuk bagi polisi saat mencari pelaku.

Menurut Burkan, bentuk lontong sate yang diberi racun itu berbeda dengan warung-warung biasanya.

"Uniknya, jika lontong biasanya bungkus utuh, ini seperti lupis, pakai daun," kata Rudy.

Polisi kemudian mencari warung dengan spesifikasi lontong seperti itu satu per satu di sekitar Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta.

Selain itu bungkus sate juga jadi petunjuk polisi menemukan warung penjual sate tersebut.

”Salah satu kunci, (pelaku) memakai jaket warna krem, tapi sudah dibuang. Itu menjadi salah satu kunci penangkapan. Sama bungkus sate bisa menunjukkan tempat di mana beli satenya, ketemulah rangkaian saksinya ini," ujar Burkan.

Salah Sasaran

Peristiwa nahas yang menewaskan Naba Faiz Prasetya (10) di Sewon, Bantul, ini bermula dari Bandiman (47), ayah Naba, menerima order offline di seputaran Gayam atau Stadion Mandala Krida, Kota Yogyakarta, Minggu (25/4).

Dia dihampiri seorang perempuan misterius yang kemudian diketahui ternyata adalah NA.

NA lantas meminta Bandiman mengantar makanan takjil ke sebuah rumah di Kasihan, Bantul, kepada orang yang bernama Tomy.

Ia hanya berpesan bahwa takjil dari seseorang bernama Hamid.

Saat memberikan sate yang sudah dibubuhi sianida itu, NA mengenakan hijab dan jaket berwarna krem.

Dia tidak mengenakan masker.

NA mengendarai motor matik, helm warna merah, dan sandal jepit warna hitam.

Singkat cerita, sampailah Bandiman di rumah yang dituju di Kasihan.

Namun, saat itu Tomy sedang di luar kota.

Istri Tomy tidak mau menerima kiriman makanan tersebut lantaran merasa tidak tahu siapa pengirimnya.

Begitu pula Tomy ketika saat itu dihubungi mengaku tidak kenal.

Istri Tomy menganjurkan kiriman sate untuk takjil itu dibawa pulang saja.

Bandiman pun pulang dan membawa sate itu untuk disantap bersama keluarga.

Naba, anak kedua Bandiman kolaps ketika memakan bumbu sate. Sempat dilarikan ke rumah sakit, tapi nyawanya tidak tertolong.

Menurut Kombes Burkan, dari pemeriksaan penyidik diketahui NA sebenarnya menyasar Tomy sebagai target sate beracun itu karena sakit hati batal dinikahi.

Tomy justru menikahi perempuan lain.

"Motifnya adalah sakit hati, karena ternyata si target (Tomi) ini menikah dengan orang lain, tidak dengan dirinya (NA)," kata Burkan.

Burkan mengatakan, baik Tomi dan NA sebelum ini memang sempat memiliki hubungan asmara.

"(Tomi) pegawai negeri," tegas Burkan tanpa merinci instansi tempat yang bersangkutan bekerja.

Belakangan diketahui Tomi adalah anggota Polresta Yogyakarta berpangkat Aiptu.

Namun, kata Burkan, polisi masih perlu memastikan siapa sebenarnya yang diincar oleh NA untuk melampiaskan rasa sakit hatinya terhadap Tomi.

"Sementara belum bisa disimpulkan, apakah targetnya T (Tomi) atau keluarganya," imbuh Burkan.

Menurut Burkan, NA sempat mengaku menyesal.

"Dia pernah bilang kalau menyesal, karena ada korban lain yang meninggal (salah sasaran)," ujarnya.

Atas perbuatannya, NA dikenakan Pasal 340 tentang pembunuhan berencana dengan ancaman pidana mati, atau penjara seumur hidup atau penjara paling lama 20 tahun.

Beri Pelajaran Kasat Reskrim Polres Bantul, AKP Ngadi, mengatakan kepada penyidik yang memeriksanya NA mengaku hanya berniat memberi pelajaran terhadap Tomi yang disebut sudah menyakiti hatinya.

”Pengakuan sementara hanya untuk memberi pelajaran, dampaknya hanya mules, mencret saja. Tapi masih perlu kita pastikan lagi (kebenarannya),” kata AKP Ngadi, Senin (3/5).

Ia mengatakan, NA mendapat ide memberikan racun sianida dari temannya berinisial R.

Sosok berinisial R tersebut adalah pelanggan salon tempat NA bekerja.

Tersangka NA dan R berteman baik.

NA pun sering bercerita tentang berbagai masalah pada R, termasuk sakit hati R kepada Tomy yang sama-sama pelanggan salon tersebut.

Pria berinisial R tersebut sebenarnya menaruh hati pada NA.

Namun cintanya bertepuk sebelah tangan.

Karena NA mencintai pria lain, yaitu Tomy yang merupakan anggota Satreskrim Polresta Yogyakarta.

R kemudian memberikan saran agar NA mengirimkan makanan yang sudah diracun pada Tomy melalui ojek online.

Dengan niat ingin memberikan pelajaran.

Racun sianida tersebut dibeli NA melalui e-commerce sekitar Maret lalu.

NA memesan sodium sianida, namun barang yang diterima adalah kalium sianida (Kcn). KCn merupakan racun yang berbahaya.

Kapolres Bantul AKBP Wachyu Tri Budi menjelaskan, NA memesannya sebanyak 250 gram.

”Harganya Rp 200 ribu,” kata Wachyu pada kesempatan yang sama.

Pada Minggu (25/4) NA membeli sate ayam dan menaburi bumbunya dengan KCn untuk dikirimkan kepada Tomy.

"Untuk berapa takarannya baru kami dalami, kalau menurut pengakuan hanya satu sendok. Bentuknya semacam bubuk kristal kemudian dihaluskan," lanjutnya.

Polisi saat ini tengah mencari sosok R, teman yang memberi saran kepada Nani untuk meracuni Tomy.

Ia menyebut pria berinisial R tersebut belum ditemukan lantaran ponselnya mati.

Ia pun menyebut ada kemungkinan tersangka baru.

Namun, pihaknya masih harus melakukan penyelidikan dan mencari alat bukti.

"Pengakuan mbak NA seperti itu, tapi harus dibuktikan lagi. Saat ini hpnya mati. Ya kemungkinan bisa (tambahan tersangka), kami belum bisa pastikan," ujarnya.(tribun jogja/hda/hud/maw)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved