SOROT
Tsunami Covid-19 India Bisa Terjadi di Indonesia, Mudik Merasa Aman atau Mati Konyol?
Kepanikan dan frustasi pun banyak dialami masyarakat. Di Kanpur India dilaporkan ada seorang anak membuang ibunya di jalanan karena positif Covid.
Penulis: Kisdiantoro | Editor: Kisdiantoro
Merasa Aman Atau Mati Konyol?
Oleh Kisdiantoro, Wartawan Tribunjabar.id
DI INDIA laporan terakhir menyebutkan setiap harianya sebanyak 2.808 orang meninggal atau setiap jam ada 117 orang meninggal akibat serangan virus corona.
Laporan harian kasus Covid-19 kisaran 300.000 orang per hari atau setara 208 per menit positif Covid-19.
Siaran berita KompasTV melaporkan, Rabu (28/4), pemerintah India kewalahan mengkremasi jenazah pasien Covid-19. Lingkungan pun ikut menanggung 'tsunami' Covid-19.
Baca juga: Larangan Mudik Lebaran Baru Mulai 6 Mei, Penindakan Travel Gelap Sudah Berlaku, Ini Alasan Polisi
Sebab, pohon-pohon di taman kota ikut ditebang untuk membantu kremasi pasien meninggal karena Covid-19.
Saking banyaknya pasien yang harus dirawat di rumah sakit, sampai-sampai kekurangan oksigen. Padahal oksigen menjadi kebutuhan vital bagi pasien Covid-19 yang biasanya mengalami sesak napas.
Kepanikan dan frustasi pun banyak dialami masyarakat. Di Kanpur, Uttah Pradesh dilaporkan ada seorang anak yang membuang ibunya di jalanan karena positif Covid-19. Meski polisi setempat begerak cepat memberikan pertolongan, sang ibu meninggal dunia karena lambat ditangani medis.
Mengapa penambahan kasus Covid-19 di India begitu mengerikan?
Sejumlah pihak yang sangat perhatian terkait masalah pandemi Covid-19, menganalisis karena banyaknya kegiatan yang menghadirkan kerumunan orang, termasuk di antaranya kegiatan-kegiatan keagamaan.
Padahal di tahun lalu, kegiatan-kegiatan itu banyak ditiadakan. Kepatuhan terhadap protokol kesehatan pun mulai berkurang. Misalnya, banyak warga yang tak lagi memakai masker, menjaga jarak, dan menjalankan pola hidup sehat.
Jika situasi ini terjadi di Indonesia tentu akan sangat menakutkan. Bertapa tidak, kasus Covid-19 yang laproan hariaannya saja kisaran 4.000, pernah sampai 13.000 kasus Covid-19 per hari, sudah sangat kewalahan. Rumah sakit kekurangan ruang rawat inap dan isolasi.
Hotel dan tempat-tempat isolasi dadakan yang disediakan pemerintah pun penuh. Belum lagi kebutuhan obat-obatan. Dokter dan tenaga medis pun banyak yang betumbangan, sakit dan meninggal dunia.
Kasus Covid-19 di Indonesia tidak semengerikan di India. Namun hal itu bukan sesuatu yang tidak mungkin terjadi jika pemerintah longgar dalam pengawasan dan masyarakat abai terhadap protokol kesehatan.
Melarang masyarakat mudik lebaran 2021 adalah upaya pemerintah mengerem kemungkinan banjir penambahan kasus positif Covid-19 di kluster mudik. Maka sejak tanggal 22 April 2021, warga perantauan dilarang mudik. Yah, meskipun banyak juga yang nekat pulang dan lolos di perjalanan.
Baca juga: India Mendapat Tambahan Masalah, di Tengah Terpaan Gelombang Covid-19, Ada Gempa Magnitudo 6,0
Pemerintah khawatir saat lebaran atau hari raya Idulfitri tiba, akan banyak kerumunan orang. Ini sulit dihindari karena banyak yang merasa situasi saat ini sudah aman dari penularan wabah virus corona. Apalagi bagi mereka yang sudah melakukan vaksinasi tahap dua, sebagian di antaranya merasa diri sudah kebal dari virus.