Breaking News:

Jalan Tol Cipali KM 122+400 Ambles, Kata Pakar Bukan Karena Curah Hujan tapi Pemadatan yang Tak Baik

Jadi dilihat dari kondisi kerusakannya, orang Teknik Sipil pasti paham, bahwa longsoran itu disebabkan oleh beberapa faktor.

istimewa
Retakan Tanah di Ruas Tol Cipali KM 122 yang Bikin Jalan Ambles, Ini Kata ASTRA Tol Cipali b 

Laporan wartawan Tribun Jabar.id, Cipta Permana

TRIBUNJABAR.ID, SUBANG - Jalan Tol Cipali KM 122+400 arah Jakarta ambles.

Atas kondisi tersebut arus lalu lintas di wilayah tersebut di terapkan sistem dua arah dalam satu jalur atau contraflow.

Menyikapi hal tersebut, Pakar Transportasi dari Fakultas Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB), Ir R. Sony Sulaksono Wibowo mengatakan, melihat kondisi kerusakan dari longsoran atau amblasnya permukaan di Tol Cipali, diduga kuat bukan disebabkan oleh intensitas curah hujan atau beban aktivitas lalu lintas, melainkan karena pemadatan yang tidak baik.

"Jadi dilihat dari kondisi kerusakannya, orang Teknik Sipil pasti paham, bahwa longsoran itu disebabkan oleh beberapa faktor yaitu, kondisi timbunan yang tidak sesuai spesifikasi, kemudian proses atau cara memadatkan yang kurang baik."

"Hal ini dilatarbelakangi oleh tidak adanya pengawasan kontrol terhadap pemadatan dan kontrol air tanah di dalamnya. Namun intinya adalah masalah pemadatan," ujarnya saat dihubungi melalui telepon, Selasa (9/2/2021).

Sony menjelaskan, bila disebutkan bahwa kerusakan disebabkan oleh kondisi fisik dari daerah Cipali, hal itu kurang tepat.

AKHIR KISAH Anak Gugat Orangtua Rp 3 Miliar di Bandung, Cabut Kuasa Hukum, Deden-Kakek Koswara Damai

Spoiler Sinopsis Ikatan Cinta di RCTI Malam Ini, Aldebaran Senang Bukan Kepalang, Ada Apa?

Karena sebetulnya dalam kondisi apapun proses pemadatan tetap dapat dilakukan dengan teknik tertentu.

"Jadi meskipun membangun jalan di daerah berawa, pesawahan, ataupun berbatu, semua itu ada teknik pemadatannya, ada teknik penimbunannya yang memang sesuai dengan kriteria kondisi daerahnya masing-masing. Oleh karena itu tidak ada masalah, termasuk untuk daerah Cipali ini yang merupakan daerah timbunan. Sehingga, muncul pertanyaan apakah ditimbunnya dengan baik atau tidak, tapi melihat kondisi longsorannya, maka dipastikan bahwa timbunannya tidak bagus," ucapnya.

Oleh karena itu, upaya perbaikan jangka pendek yang harus segera dilakukan oleh pemerintah atau pihak pengelola jalan tol saat ini yaitu, segera perbaiki kerusakan itu secara lapis per lapis sekitar 20-25 cm dihamparkan, sehingga, nanti kondisinya akan lebih stabil.

"Kemudian, karena dimungkinkan adanya aliran air di lokasi tersebut, maka di titik tersebut perlunya di pasang sistem drainase melintang di jalan, untuk menjadi akses laju air, guna mengantisipasi aliran air tidak memasuki badan jalan," ujar Sony.

Sony menambahkan, kondisi timbunan atau pemadatan yang kurang bagus, dapat juga di pengaruhi masa penyelesaian pengerjaan yang terkesan diburu-buru oleh pihak investor, guna mensiasati membengkaknya bunga pinjaman modal konstruksi di bank. 

Secara aturan, masa ideal pengerjaan jalan tol itu 2-3 tahun, sementara dimasa tersebut argo bunga cicilan pinjaman modal pengerjaan di bank sudah berjalan.

Siap-siap, Ojek Online Akan Dapat Vaksinasi Covid-19 Bulan Depan, Catat Tanggalnya

Subsidi Upah Rp 600 Ribu Tak Dilanjutkan, Ini Program Pengganti untuk Pekerja Terdampak Covid-19

Oleh karena situasi tersebut kerap kali bebrapa investor ingin buru-buru pekerjaannya selesai tanpa memperhatikan kualitas ideal, untuk segera mendapat bayaran atau upah dari pekerjaannya. 

"Kondisi ini telah banyak kejadian, misalnya dulu kasus di Tol Cipularang, dimana beberapa segmen yang seharusnya dibangun kontruksi jembatan kecil, karena adanya aliran air yang dapat menyebabkan tanah amblas. Tapi karena buru-buru, akhirnya dipaksakan untuk di timbun, upaya ini bukan menjadi solusi, karena dalam kurun waktu dia akhirnya longsor juga, bahkan  biaya perbaikan yang dikeluarkan dari longsoran itu lebih mahal dari pada membangun jembatan. Ini juga terjadi di kasus Tol Cipali dan Tol Bawen di Semarang," katanya. (Cipta Permana).

Penulis: Cipta Permana
Editor: Ravianto
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved